Anak Lelaki Yang Selalu Merasa Kesepian

Suatu ketika seorang Penyihir yang sedang berjalan melintasi sebuah kota kecil tertarik mendengar tangisan seorang anak laki-laki di tengah malam. Sang Penyihir terbang menggunakan sapu terbangnya dan masuk melalui jendela ke dalam kamar anak laki-laki itu di lantai dua lalu duduk di atas kusen jendela dan menyapanya.

“Halo, anak muda. Kenapa kau menangis? Aku bisa mendengar tangisanmu dari jarak puluhan kilometer dari sini.”

Anak laki-laki itu kaget mendengar sapaan Sang Penyihir, tapi malah balik bertanya.

“Kau mendengar tangisanku? Bagaimana mungkin? Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa menangis dalam diam supaya ayah dan ibuku tidak terbangun di kamar sebelah.”

Sang Penyihir tersenyum. “Tidak, aku bisa mendengarmu dengan jelas justru karena kau berusaha untuk tidak bersuara.”

Anak laki-laki itu tertunduk malu. “Aku minta maaf karena sudah mengganggumu.” Jawabnya sambil menyeka air matanya sampai kering.

“Jadi, siapa namamu dan apa yang membuatmu menangis?” tanya Sang Penyihir lagi.

“Namaku Nino.”

Dan akhirnya Nino menceritakan kisahnya. Dia adalah seorang anak tunggal. Ayah dan Ibunya selalu pergi bekerja setiap hari, meninggalkan Nino sendirian di rumah. Begitu malam tiba, Nino tidur sendirian di kamarnya sementara kedua orang tuanya tertidur dengan cepat karena kelelahan.

Pada siang hari Nino lebih sering mengurung diri di dalam kamarnya, menangis karena tidak ada yang mau menemaninya bermain. Dan saat malam tiba, Nino akan meringkuk di balik selimutnya, menggigil kedinginan karena tidak ada yang mau memeluknya selagi dia tidur. Begitu terus setiap hari sehingga akhirnya Nino merasa sangat kesepian.

“Jadi, kau merasa kesepian karena tidak ada yang mau menemanimu?” tanya Sang Penyihir setelah Nino selesai bercerita.

Nino mengangguk pelan yang membuat Sang Penyihir menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau benar-benar anak yang polos. Apakah kau tidak pernah melihat sekelilingmu? Ada begitu banyak orang di sekitarmu: guru, teman-teman, orang tuamu. Itu berarti kau tidak sendirian.” Kata Sang Penyihir sambil menahan tawa.

“Tapi mereka tidak mau bermain denganku. Mereka tidak mempedulikan aku.” Tanggap Nino dengan cepat. Tapi Sang Penyihir juga menanggapi dengan tak kalah cepat.

“Jangan konyol, sudah kubilang kau tidak pernah sendirian. Aku akan membuktikannya kepadamu.”

“Benarkah? Bagaimana caranya?” tanggap Nino dengan bersemangat.

“Tapi sebagai gantinya kau harus berjanji untuk tidak lagi menangis setiap malam, bersuara ataupun tidak. Telingaku sakit mendengarnya.” Penyihir menanggapi sambil memasang raut wajah kesal.

“Baiklah, aku berjanji.” Jawab Nino dengan terburu-buru.

“Kalau begitu kau harus menuruti perkataanku.”

Setelah menjelaskan apa yang harus Nino lakukan, Sang Penyihir menggoyangkan tongkat saktinya dan mengarahkan kepada dirinya sendiri.

“Baiklah, aku akan pergi sekarang. Kau harus melakukan apa yang sudah aku perintahkan padamu besok pagi.” Lalu Sang Penyihir beranjak dari jendela kamar Nino dan terbang menjauh.

Keesokan paginya Nino bangun dan merasa bimbang. Semalam dia didatangi oleh seorang Penyihir yang berjanji akan menolongnya mengatasi rasa kesepiannya. Tapi, apakah itu benar? Bukan mimpi?

Untuk membuktikannya Nino turun dari kamar dan mulai melakukan apa yang diperintahkan Sang Penyihir semalam. Dia menemui Ibunya yang sedang mempersiapkan sarapan. Ibu sudah mengenakan pakaian yang rapi, sepertinya sebentar lagi akan berangkat bekerja. Nino menghampiri Ibu, memberanikan diri untuk tersenyum dan menyapa sang Ibu lebih dulu.

“Selamat pagi, Ibu.”

Sang Ibu terlonjak kaget mendengar sapaan Nino yang tidak biasa, tapi begitu melihat senyum kaku yang mengembang di bibir Nino, Ibu malah ikut tersenyum dan membalas sapaan Nino.

“Selamat pagi juga, Nino.”

Melihat sang Ibu membalas senyumnya hati Nino merasa sangat gembira. Terlebih begitu pulang dari kantor Ibu langsung mengajak Nino makan malam bersama dan mereka mengobrol dengan seru, sesuatu yang sudah lama tidak mereka lakukan bersama.

Keesokan paginya Nino kembali menyapa Ibu sambil tersenyum yang dibalas dengan sebuah senyum manis juga dari Ibu. Tapi kali ini Nino mendapati Sang Ayah berada di meja makan, bersiap akan berangkat kerja. Nino menghampiri Ayah lalu menyapanya sambil tersenyum. Sama seperti Ibu kemarin, Ayah juga kelihatan kaget mendengar sapaan Nino. Tapi Ayah langsung meletakkan koran yang sedang dibacanya dan melanjutkan sarapannya bersama Nino.

Hari berikutnya Nino menyapa tukang sapu yang ditemuinya saat sedang berjalan menuju sekolah. Lalu hari berikutnya Nino juga menyapa Ibu penjual roti, Paman penjual buah-buahan, Ibu Guru di sekolah dan bahkan Bapak Satpam di gerbang sekolahnya. Awalnya mereka semua terlihat kaget mendengar sapaan Nino, tapi lalu mereka membalas dan menyapa Nino lebih dulu bahkan sebelum Nino sempat menyapa pada keesokan harinya.

Lama kelamaan Nino terbiasa menyapa semua orang yang ditemuinya di sepanjang jalan menuju sekolah dan mereka terkadang menyapa lebih dulu sebelum Nino bahkan sempat tersenyum. Anehnya semakin lama rasa kesepian Nino menghilang entah kemana dan ketika malam tiba Nino tidak pernah lagi merasa kedinginan saat tertidur seorang diri di dalam kamarnya.

Jadi, apakah Sang Penyihir itu benar-benar nyata? Kenapa dia tidak lagi datang menemui Nino? Mungkin karena Nino tidak pernah lagi menangis, baik bersuara atau pun tidak karena sejak saat itu Nino tidak pernah lagi merasa kesepian.

× Hubungi kami