MATAHARI MEMBELAH TUBUHMU DAN MEREKA TAK TAHU ITU

Rasyid Yudhistira

MATAHARI MEMBELAH TUBUHMU DAN MEREKA TAK TAHU ITU

Kenapa terburu-buru

untuk menunjuk ke atas

dan bertanya kapan akan dibelah?

          Kau tentu tahu

          siapa siapa

          yang menunggu itu.

 

Kau hanya lupa

tidak semua mengerti

cara untuk menjadi ahli duka

yang gemar beradu tabah

 

Kau hanya cemas

barangkali ada yang diam-diam

menulis riwayat doamu

 

Kau hanya gusar

jika engkau bertemu cermin

yang pandai menafsir tiap luka.

 

          Kau takut untuk mengurungkan niatmu

 

 

Matahari membelah tiap dukamu

dan apapun yang dibisikkan—menjadikan matamu makin nanar.

Matahari membelah tubuhmu

dan menemukan huruf-huruf yang hilang.

 

          Mereka tak tahu itu dan hanya ingin terlibat saja.

Rasyid Yudhistira MATAHARI MEMBELAH TUBUHMU DAN MEREKA TAK TAHU ITU Kenapa terburu-buru untuk menunjuk ke atas dan bertanya kapan akan dibelah?           Kau tentu tahu           siapa siapa           yang menunggu itu.   Kau hanya lupa tidak semua mengerti cara untuk menjadi ahli duka yang gemar beradu tabah   Kau hanya cemas barangkali ada yang […]

Read More

Sajak Lelaki Ibu

Abdul Aziz Arramadhani

Sajak Lelaki Ibu

Bu, lelakimu ini nanti jadi dewasa.

Kakinya tak diam

dan menjajah ke mana-mana.

 

Mungkin nanti kakinya beku di Antartika,

menyapu kerikil-kerikil bulan,

atau terpeleset di lereng-lereng Olympus.

 

Tapi, Bu.

Sejauh mana kakinya melangkah

kakinya akan coba pulang terus-menerus.

 

Karena ia sepenuhnya kepunyaanmu

dan baginya kau adalah sebaik-baik rumah.

 

Yang pada matamu, Bu

Ia temukan teduh langit-langit malam.

Dan di dadamu yang lapang bersawah-sawah,

ia tak pernah menemu dendam.

 

Lelaki itu suka berlindung di bawah doa-doamu pada Tuhan

Tepat pada sela jari-jemari tangan doamu

ia dapat dengan tenang bersemayam.

 

Bu…

Abdul Aziz Arramadhani Sajak Lelaki Ibu Bu, lelakimu ini nanti jadi dewasa. Kakinya tak diam dan menjajah ke mana-mana.   Mungkin nanti kakinya beku di Antartika, menyapu kerikil-kerikil bulan, atau terpeleset di lereng-lereng Olympus.   Tapi, Bu. Sejauh mana kakinya melangkah kakinya akan coba pulang terus-menerus.   Karena ia sepenuhnya kepunyaanmu dan baginya kau adalah […]

Read More

Zohrah

Yuditeha

Zohrah

ucapkan saja serapah jika berani, dan sebiji kristal akan meninggalkan bumi, aku – perempuan-perempuan pembawa gula, penguji ego, seperti kongsi semut terhadap kerabatnya, kelabang merah lepas dari pukulan, satu sungut menakar nasib, seperti pelukan berkarat, keheningan pecah, menyusup ke jantung mata

 

aku – zohrah merekat di tembok, melatih sulur, memungut berkah, kuhapus ingatan keruh, asap kutahan guna membentengi wabah silam, semua tereja, dan aku terus berlari dari memori hitam, kupertahan pengait yang menali segenggam sari perasan bintang, putik bunga kuharap tumbuh di pelupuk masa

Yuditeha Zohrah ucapkan saja serapah jika berani, dan sebiji kristal akan meninggalkan bumi, aku – perempuan-perempuan pembawa gula, penguji ego, seperti kongsi semut terhadap kerabatnya, kelabang merah lepas dari pukulan, satu sungut menakar nasib, seperti pelukan berkarat, keheningan pecah, menyusup ke jantung mata   aku – zohrah merekat di tembok, melatih sulur, memungut berkah, kuhapus […]

Read More

Eulogi Kepada Jalan

M. Royfan Ardian

Eulogi Kepada Jalan

/1

Di tubuh langit kelimut

melekat sebuah nukilan.

Tentang nujum yang muncul dari bintang-bintang,

diundang turun oleh garis tangan dan kehidupan.

 

Garis tangan adalah

penunjuk jalan-jalan yang hidup.

Sedang garis kehidupan adalah

jalan-jalan yang dilalui derup.

 

Semua orang menginjakkan kakinya

pada jalan-jalan berumur panjang

atau yang akan menjadi mendiang.

Panjang atau pendek,

kehendak Sang Khalik.

 

/2

Sebuah padah menemuiku dan berkata

“Jalan ini buntu dan akan mati”.

Mendengar dengan telinga tuli adalah

kesia-siaan yang kupeluk erat.

 

/3

Pada jalan yang telah mati;

Kusemai setangkup tangan penuh eulogi.

M. Royfan Ardian Eulogi Kepada Jalan /1 Di tubuh langit kelimut melekat sebuah nukilan. Tentang nujum yang muncul dari bintang-bintang, diundang turun oleh garis tangan dan kehidupan.   Garis tangan adalah penunjuk jalan-jalan yang hidup. Sedang garis kehidupan adalah jalan-jalan yang dilalui derup.   Semua orang menginjakkan kakinya pada jalan-jalan berumur panjang atau yang akan […]

Read More

Patung Sapi Sumberan

Dadang Ari Murtono

Patung Sapi Sumberan

Ia percaya sedang tidur lelap dan mengalami mimpi

buruk panjang: tubuhnya beku dalam

balutan semen, bocah-bocah menunggang

sambil memukul-mukul kepalanya, remaja tanggung

mabuk dan berlagak memerah susunya,

dan orang-orang tak jelas pada suatu kala

memotong ekor dan kupingnya.

 

Ia yakin, pagi akan tiba dan ia bakal terbangun

sebagai diri sejatinya: Nandini nan suci.

Dadang Ari Murtono Patung Sapi Sumberan Ia percaya sedang tidur lelap dan mengalami mimpi buruk panjang: tubuhnya beku dalam balutan semen, bocah-bocah menunggang sambil memukul-mukul kepalanya, remaja tanggung mabuk dan berlagak memerah susunya, dan orang-orang tak jelas pada suatu kala memotong ekor dan kupingnya.   Ia yakin, pagi akan tiba dan ia bakal terbangun sebagai […]

Read More

Di Bawah Langit Washington

Di Bawah Langit Washington

Di Bawah Langit Washington

Di bawah langit Washington, malam-malam selalu sama

Tapi hari ini berbeda, katamu. Tak ada yang kau ajak berbincang.

Padahal semua benda berbicara jika kau menyimak.

Bangku taman, lampu sorot di 5th Avenue,

namun mereka mengatakan hal-hal yang tak ingin kau dengar.

 

Bagimu, hidup adalah musuh.

Saat kau bangun, hari yang ingin kau hapus menunggu di depan pintu.

Kau ingin istirahat mengingat kesepian

menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki.

 

Ketika kau katakan tentang kehilangan

tidak ada yang ingin mendengar

segalanya mendadak tanpa telinga

namun sepasang mata

tetap menjatuhkan mutiaranya.

Di Bawah Langit Washington Di Bawah Langit Washington Di bawah langit Washington, malam-malam selalu sama Tapi hari ini berbeda, katamu. Tak ada yang kau ajak berbincang. Padahal semua benda berbicara jika kau menyimak. Bangku taman, lampu sorot di 5th Avenue, namun mereka mengatakan hal-hal yang tak ingin kau dengar.   Bagimu, hidup adalah musuh. Saat […]

Read More

Kabar dari Hutan

M. Habib Syafa’at

Kabar dari Hutan

Kau mendapat kabar dari kedalaman hutan

Sekelompok ayam tak lagi terdengar

setelah bertahun lalu berpamitan

 

menggarap ladang kayu bakar

Segunung lauk-pauk runtuh dari bebatan

kemban seekor induk ketika kelabakan

 

              menanak

                           sepundung pulau

 

Keturunan jadah mati terpelesat ketika

memanjati tebing-tebing susu

“Peradaban baru sedang dalam

 

pembuatan.” Katamu. Kita hanya perlu

menunggu. Tak usah lagi menyembah batu

untuk mendatangkan hujan

 

             di kepalaku

                          di halaman persembahan

 

Dewa seharusnya telah cukup

darah persembahan. Seharusnya

dibebaskan kembali gerhana-gerhana

 

Padahal bumi haus dalam tubuhku

Belum ingin beranjak dari tugurmu

Menjadi lubang menganga. Berhasrat

 

            menyungkah

                         gugur musimmu

M. Habib Syafa’at Kabar dari Hutan Kau mendapat kabar dari kedalaman hutan Sekelompok ayam tak lagi terdengar setelah bertahun lalu berpamitan   menggarap ladang kayu bakar Segunung lauk-pauk runtuh dari bebatan kemban seekor induk ketika kelabakan                 menanak                     […]

Read More

Memasak Saksang

Pusvi Defi

Memasak Saksang

Sebelum kutebas batok kepalamu dengan parang

Kepunyaan Tulang Simatupang,

Berdoalah dengan khidmat panjang

 

Agar gelabah batinmu tidak uring-uringan,

Sebab setelah margota tumpah di panci pualam

 

Tubuhmu yang gempal akan terpanggang di tungku api laman

Berdampingan dengan putih bawang,

 Dan setakar santan menguar aroma jantan.

 

Maka di terik siang garang  

Sepinggan saksang telah terbenam di lambung tamu yang tandang

Yang merayakan hari Bolon Parriaan

 

Dedoa telah diangkat ke semesta

Ke muara, ke tubuhmu yang purna

: Menuju kedamaian purba.

Pusvi Defi Memasak Saksang Sebelum kutebas batok kepalamu dengan parang Kepunyaan Tulang Simatupang, Berdoalah dengan khidmat panjang   Agar gelabah batinmu tidak uring-uringan, Sebab setelah margota tumpah di panci pualam   Tubuhmu yang gempal akan terpanggang di tungku api laman Berdampingan dengan putih bawang,  Dan setakar santan menguar aroma jantan.   Maka di terik siang […]

Read More

Mooi Indie di Museum Seni

Jamal Wakhiddin

Mooi Indie di Museum Seni

Sebangkai lukisan tergeletak di meja

autopsi batas antara dinding cinta dan

desing mortir;

 

Chiaroscuro di Eropa kehilangan cahaya

serta bayang-bayang seperti bekas pupur

di rona merah pipimu selekas-lekasnya

: ciuman yang terencana meninggalkan

   jejak-jejak lipstik di buku-buku sejarah.

 

Tuan pergi sehabis menikam pagi Hindia Timur

memasukkannya ke dalam kantong plastik lalu

membuangnya ke dalam tempat sampah,

 

“Kita semua telah menyaksikan bagaimana maut

hadir dalam bentuknya yang paling molek serupa

lanskap-lanskap Ernest Dezentje atau Raden Saleh.”

 

Mijn God!

keindahan musim panas mengalir

deras di sepenuh jasad ini:

amis aroma kanvas.

Jamal Wakhiddin Mooi Indie di Museum Seni Sebangkai lukisan tergeletak di meja autopsi batas antara dinding cinta dan desing mortir;   Chiaroscuro di Eropa kehilangan cahaya serta bayang-bayang seperti bekas pupur di rona merah pipimu selekas-lekasnya : ciuman yang terencana meninggalkan    jejak-jejak lipstik di buku-buku sejarah.   Tuan pergi sehabis menikam pagi Hindia Timur […]

Read More

Hujan Paling Bahagia

Angga Wiwaha

Hujan Paling Bahagia

hujan paling bahagia adalah hujan masa kecil

rintik-rintiknya riang bermain

                            dan berloncatan

tak peduli ibu langit menyuruhnya pulang. 

 

hujan paling nakal adalah hujan masa kecil

bergelayutan di dahan dan ranting

saling ejek dengan kawan-kawan

yang ada di  trotoar dan di ranumnya dahan.

 

namun hujan paling cepat reda

jugalah hujan masa kecil

menjadi genangan, jelma kenangan

lalu mencari jalan pulang ke hilir nasib yang muram.

 

sehingga hujan yang paling lupa

adalah hujan masa kecil

terngiang rintik indahnya

alpa akan badai gemuruhnya.

 

Banjarnegara, Desember 2020

Angga Wiwaha Hujan Paling Bahagia hujan paling bahagia adalah hujan masa kecil rintik-rintiknya riang bermain                             dan berloncatan tak peduli ibu langit menyuruhnya pulang.    hujan paling nakal adalah hujan masa kecil bergelayutan di dahan dan ranting saling ejek dengan kawan-kawan yang […]

Read More
× Hubungi kami