puisi

Sketsa Kematian Bapak

Oleh: Ade Kurniawan Di langkan depan, gapura belah tugur memintas masa. Memasuki halaman, dua arca pentung menekuni arwahnya sendiri: Cingkarabala dan Balaupata. Tiba di depan pintu, tampak mata Semar terjaga sayu, konon kata Bapak, ia menangis tetapi Ibu menyangkal, ia tersenyum. Di ruang tamu, gamelan terlampau lelap, beberapa keris terserak, dan lagi-lagi terpajang Semar Bapak …

Sketsa Kematian Bapak Read More »

Balada Sayyidah Sukainah

Oleh: Nihasyy “Luaskan dada kalian, bersabarlah Segera julurkan baju panjang kalian Bersiaplah untuk musibah” Usai kalimat itu diterbangkan Ia mendekap tubuh kami yang berbungkus Lembaran kain hitam berlapis Lalu derapnya menjauh, mengucap pisah Menunggangi zuljanah yang melaju memburu tanah Sejurus tak terdengar  Tersiarlah sebuah kabar yang hingar Namanya disebut, kepalanya telah terpenggal Zuljanah yang diselimuti panah Merunduk dihadapanku …

Balada Sayyidah Sukainah Read More »

Episode Kepergian

Oleh: Agus Sanjaya : Teruntuk Sang Mesias Izinkan air mataku menjadi hujan kebahagiaan, sebab di hari ini aku telah genap diberkati Di malam yang bimbang, kutuangkan anggur dari teko tanah liat  ke dalam sloki-sloki tembaga kedinginan.  Kurobek hosti dan melarungkannya ke dalam laut mulut.  Dalam ruangan membisu ini, kita rayakan sebuah pesta perjamuan  dan sosok …

Episode Kepergian Read More »

Keledai Pesolek

Oleh: michaeldjayadi  —buat Ahda Imran                           Jauh  Ke dalam lubuk kata Kaubenamkan kepalamu Mencari sisa kepak suara angin Di sebalik gugus padma yang mungkin Telah menyimpan telur dan sisikmu Aku keledai pesolek  Yang telah bangkit dan enggan lagi Bersembunyi, berserah sepenuh waktu Berhenti memucati diri di permukaan air Gerbang angin tak sekencang dulu Mengikat dan membiarkan suaramu …

Keledai Pesolek Read More »

Aku Seekor Mesin

Oleh: Galih Agus Santoso meski dunia mengubahku menjadi mesinnamaku didaras zikir nyinyirmulut-mulut beracunmoncong bambu runcingmeski hatiku hitam karburatorangus dan dengus kelambergumul kerak malamsemoga iman tetap tumbuh suburbersama berbagai macam lendirdosa di kelapangan rahman rahim Tuhanimanku seutas kecambah kacangmenyala seperti sebutir kunangmenantang rasi zodiak bintanglancang menggaris nasib-nasib aku bank tanpa ribatempat pinjam duittetangga dan (tiba-tiba) sodarapadahal namaku …

Aku Seekor Mesin Read More »

Kataprang Keris JokoPituru

– mekkasen kottha Oleh: Joko Rabsodi Bicara tanah jungcangcang berarti membuka senyawa sepi gerukan pasukan tanah bali dibantai dengan demit pusaka tanpa liuk terbang dari nata tak biasa apalagi pangeran Lor I dinyatakan enyah setengah telanjang ia mengacungkan serapah dekat pelabuhan sungai Dari mata lancipnya tereka seribu gamis kematian dibakarlah seluruh kota dengan darah paling marah …

Kataprang Keris JokoPituru Read More »

MENGIANG PERJALANAN

Oleh: Yazid Ibnu Bashory                                                                                     teruntuk Bapak Sopan bin Radan Hujan yang turun di akhir november membasah sepanjang desember januari februari maret mengikat kita untuk saling pasrah kepada gigil sebagai selimut dimalam yang paling dingin Rasa gagap melabuhkan rumah tiang hilang seiring bah yang ditimbulkan hujan kelekatu warna-warni terburu gugur mengiringi nyanyian gangsir sepanjang malam yang …

MENGIANG PERJALANAN Read More »

Simfoni Perayaan Hari Minggu dan Penguburan Puisi Hari Itu

Oleh: Sherlynn Yuwono maka, bernyanyilah ia menembus zaman, berisikan lagu-lagu serta puisi-puisi untuk adiknya sendiri. sebab muncullah sebuah pertanyaan; apakah hari minggu begitu suci, sehingga bumi mendengar sedikit dari percakapan kita? akankah hari minggu menjadi kelabu, sehingga bintang enggan bertemu dengan kita?  /1/ pada mulanya, hari minggu bersenandung tentang beberapa catatan sejarah sedalam lautan di …

Simfoni Perayaan Hari Minggu dan Penguburan Puisi Hari Itu Read More »

SEBENTAR LAGI SORE, SORE SEBENTAR LAGI

Oleh: Firman Alfarizi Putra sebentar lagi sore: ombak berangsur reda,             kemudian pantai memeluk,             & angin berembus dari timur.  langit memancarkan rona kemuning senja,             warnanya diam-diam menangkis             risau, yang bergejolak di remang-remang             mataku. serta mendiamkan getir yang             bergelombang di pucat bibirku.  senja semakin ranum. pantai meminum dukaku              yang belum: luka & sedih,  ku pasrahkan pada air …

SEBENTAR LAGI SORE, SORE SEBENTAR LAGI Read More »

Scroll to Top
× Hubungi kami