puisi

Sungai yang Menjangkau Jarak Puluhan Tahun ke Tanah Rantau

Oleh: Tjak S. Parlan Setelah banjir bandang menggerus ladang-ladang, langit kembali terang—langit dengan selengkung keluwung menjulur ke pusar kedung. Lalu di antara ricik Karang Tambak, gelak masa kanak-kanak berderai ke dalam benak: mereka yang datang dengan rakit-rakit batang pisang dan menguasai arus sungai, mereka yang memiliki kegembiraan masa belia —masa-masa yang nirmala. Maka setiap kali …

Sungai yang Menjangkau Jarak Puluhan Tahun ke Tanah Rantau Read More »

Aku Menghapus Tanda Lahir

Oleh: Muhammad Asqalani eNeSTe 34 tahun kemudian, ketika hari-hari panjangku berganti kulit, amis pada kulitku lungkrah sehabis mandi, rasa nyeri pada mata menangis tak ada lagi, kesedihan hanya tersisa untuk akhirat, aku mencampakkan raut baik ibuku yang keparat. aku lahir dari gamang, ketika bebatang tebu jadi ruas empedu, ketika riwayat bambu cuma jadi sembilu, juga …

Aku Menghapus Tanda Lahir Read More »

Menyeberang ke Banyuwangi

Oleh: Lailatul Kiptiyah Sebuah kapal telah sandar Dalam hangat udara, bersama orang-orangyang bergerak cepatkami masuki dermaga empatselajur jalan beraspalbarangkali seratus meter jaraknyamenuju ujungujung yang terulur ke lambungsebuah kapal Yang membuka seluasnyalapang, serupa dada sepasangbapa-biyung, bertautan berdekapanmenyuburkan benih, mengandung,berjuang melahirkan Sebuah kapal kemudian berangkat Dari jendela kabin kelas ekonomikupandang: kilasan air di seputaranseperti wajah kanakdalam tidurnya …

Menyeberang ke Banyuwangi Read More »

SETELAH MENJAUH 14.000 KILOMETER

oleh: Kurnia Effendi Hanya sampai di bandara tangan kita bergenggaman Semisal bumi ini berisi dua gunung belaka, lembah tengadah akan membuat kita jauh terpisah Di udara aku menghimpun ingatan: segala yang bergelombang di antara hati kita. Frekuensi, resonansi, longitudinal, transversal. Yang kucari tentu bukan segelas air mata atau kitab dukalara Hari maju dan berganti bagimu, …

SETELAH MENJAUH 14.000 KILOMETER Read More »

Ziarah Luka

Oleh: Yuditeha : tan mulutmu tak bisa bicara, bukan pada harga diri yang selama ini kau jaga, tapi karena matamu menyaksikan laskar rakyat tak lagi menangis oleh ketidakadilan mulutmu tetap membisu saat kau mendapati pintu keramat terbuka lalu muncul burung berwarna putih untuk meminjami salah satu sayapnya kau tak pernah mengira seorang terpelajar yang selama …

Ziarah Luka Read More »

Efek Rumah Tangga

oleh: I.R. Zamzami /I/ Dendam kecil merayap di getar pagar —terusik amuk liar anginmu. Pilar-pilar merapuh dipecut pertengkaran yang bergejolak dari dapur belakang. Kau menyulut api di atas masa lalu yang menurutmu kayu. “Sepantasnya ia dibakar dan seharusnya dibakar!”  katamu. Anak-anak menelan asap dari hasil pertikaian yang masak. Mereka tersedak, tak mampu mengelak dari piring …

Efek Rumah Tangga Read More »

Bunyi Tanpa Suara

Oleh: Nur Cholish Majid /1/ Kau yang bersuara nyaring, telah tuli semenjak lahir Seberapa jauh gaung dari teriakanmu, mengarah pada hening malam yang lelap Seberapa tinggi frekuensi bunyi kaurengkuh, Dihempaskan jua oleh rintihan serak dalam sunyi doamu Kaukejar simbol-simbol peradaban, membuka tabir dunia kekalkan ucapan yang tak dapat ditangkap udara Telah kautuliskan sebuah sajak senandika …

Bunyi Tanpa Suara Read More »

Melihat Peta Kematian

Oleh: Muhammad Iqbal Khoironnahya “Di musim ini, peta-peta kematian telah berserakan dan tak lagi menjadi barang tabu untuk ditaksir seberapa banyak duka yang mesti diselami untuk menyalakan sebuah jalan pulang.” I. Di ujung jalan, kau masih menanti seseorang untuk bertandang memangkas nyeri di kepalamu dan menyusun senyum di pipimu namun, di seberang sana yang tersisa …

Melihat Peta Kematian Read More »

Scroll to Top
× Hubungi kami