puisi

Jarak Tuhan dan Penyair

Puisi Gibran K berabad-abad mengembara, tanah-tanah menyimpan duka panjang. harum gurun, abu ritual membawa penderitaan abadi –makhluk tersesat mencari jejak rupamu di tetepi gunung, sungai, juga kota-kota yang membara api dan darah. pernah kau hidup di pohon. pernah tinggal di rumah, kata suatu suku yang terbelah-darat. pernah juga berada di surga, sebagai korban perang saudara …

Jarak Tuhan dan Penyair Read More »

Sejarah Nyeri

Muhammad. Iqbal Khoironnahya   di pelataran wajahmu,  beberapa keping senyum ditelan malam yang purna  sedang sayat ingatan sudah menjadi tanah subur ditanami benih-benih janji mekar seperti bunga di pematang matamu.    malam itu, mau tak mau  kau melucuti usia dengan selubung rahasia  yang bersarang di jendela matamu  & pecah mengotori jalan-jalan di sudut lapang dadamu.  …

Sejarah Nyeri Read More »

Tamsil Malam

Dzikron Rachmadi O, bagai malam perawan, Kekasih, ini malam ingin berkawin bersama doa-doa pujangga kesepian, tepat di malam hari ketujuh usai kematian sang pujaan: lantas melahirkan keheningan-keheningan keramat. Namun semakin kemari, Kekasih, malam semakin renta & kita semakin ringkih digerus denging keheningan terlampau perih; seperih tangisan lilin yang menghabiskan tubuh sendiri di ujung perjamuan terakhir. …

Tamsil Malam Read More »

Obituari Kisah Kasih Satu Malam

MA. Fauzan Al Riyadh Panjaitan sebelum pesta-pora, lidah gadis itu mengarihkan akad kutukan tubuhnya menyaksikan sabda dewa membangkitkan luka dari kepala parasnya sirna, ia bermunajat kelewat rida untuk kali pertama, kekasihnya menampakkan sebuah kata: “Tak bisakah kita merapal cinta tanpa jampi mantera, ceruk telaga ataupun bilik bahtera?” lelaki itu dihantui malam-malamnya oleh dahaga dan rasa …

Obituari Kisah Kasih Satu Malam Read More »

Ke Arah Moluku Kie Raha

: Ternate-Tidore 1512-1529 Hendrik Efriyadi Dari Bestiong ke Rum Balibunga orang-orang menandai ingatan mata angin; nyawa berbaris di antara Jung yang nganga dan dingin Zaragoza mendengung di tanah jauhselebihnya lagit di atas Kedaton selalu berwarna abu-abu, menambah amsalngilu Kolano-Kolano menyusun kalender batu Jika kau adalah apa yang luput dituliskan maka dari angka pertama sampai hitungan …

Ke Arah Moluku Kie Raha Read More »

Menyiapkan Hidangan Surga

Karya: M. Habib Syafa’at di dapur, ibu menaksir hendak memasak apa. getir menyaksikan meja penghidangan berdebu di telapak kakinya. di telapak kakinya, anak-anak piatu memohon segera dijamu. biarlah muspra, tetap digenggamgemetarnya janji seorang bapak yang akan pulang, menggiring tangan-tangan utusan itu kembali. tangan-tangan yang—di masa lalu—membantunya menyuguhkan rimba pengakuan, nyalang kepundan-kepundan kesaksian, pula—barangkali, baru ia …

Menyiapkan Hidangan Surga Read More »

pintu & jendela

oleh Daruz Armedian   pintu pintu rumahku; pintu bahasa yang menyediakan makna-makna, sekumpulan ensiklopedia, yang jika dibuka, seluruh pengetahuan memancar dari sana.   pintu rumahku; jembatan antara pergi & pulang, batas antara ada & ketiadaan, pembeda antara ingar-bingar & heningnya kesendirian.   pintu rumahku; jalan lapang. siapa pun ia, pembenci atau pecinta, bebas melewatinya.   …

pintu & jendela Read More »

Sketsa Kekalahan

: Cakranegara, 1894 (Ilham Rabbani) Akhirnya, dari Barat sana peta pun diberi tanda– (di timur) Praya pula membara dan pada jendela puri terbingkai rupa-rupa gambar: lanskap nyawa terbakar.   Di luar, angin tersulam debu.   Sepi terbirit, tepat ketika peluru pertama lepas dari selongsong kematian.   “Bukan peluru, Sayangku, tetapi ketundukanmu (pada kulit-kulit pucat), ialah …

Sketsa Kekalahan Read More »

Kalender Senja

Ian Hasan   adalah detik-detik yang memanjang selambat harapan terentang “bilamana anak-anak kita pulang?”   tapi malam-malam tak pernah sepi doa-doa kita bergadang setangguh waktu adapun kesunyian hanyalah rindu yang kita biarkan mati rasa   mungkin pagi kita pernah koyak remah dan lapuk tergolek di ranjang sembari menatap lembaran foto cucu-cucu kesayangan   mungkin senja …

Kalender Senja Read More »

Memoar Pilu Puan

Gilang Ihsan N   Harkat yang terbangun dalam kejayaanmu, Puan, perlahan runtuh menghambur nestapa kau bersimpuh pada ngarai dukana, merana. Eloknya puncak Broghol dengan halus mencair, menghapus martabat suci  yang selama ini bersemayam di atas tendasmu yang arif.   Angan – anganmu seolah ingin mengenal dirimu  yang dulu dapat hidup langgas dengan menari penuh suka …

Memoar Pilu Puan Read More »

Scroll to Top
× Hubungi kami