Di Atas Rel Kereta Api

Oleh: Julia Chandra Karya Wanti

            Di atas rel kereta api terbengkalai Suwarsih duduk menyelonjorkan kedua kakinya.  Asap rokok dari tembakau yang terbungkus klobot jagung menguar pekat dari bibirnya yang polos tanpa polesan gincu. Telinganya tidak perduli dengan dengingan ribuan suara nyamuk yang mengepungnya. Nyamuk-nyamuk itu telah bersahabat dengannya sejak awal ia memulai karir sebagai penjaja tubuh.

            Di semak-semak rumput ilalang sekelilingnya, sesekali terdengar erangan-erangan manusia yang tengah membuang hajat mesum. Tanpa sungkan apalagi sopan santun. Seolah hanya mereka yang berada di sana, dan mereka beranggapan siapapun di sana adalah sama. Sementara di langit bulan enggan bersinar terang. Sepertinya sang bulan jijik dengan perilaku buruk sebagian penduduk bumi.

            Sejenak Suwarsih menengadah memandang sang bulan, lalu membuang nafas berat. Ia merasa malam ini keberuntungannya kurang baik. Sejak sore hingga hampir tengah malam tidak ada seorangpun lelaki hidung belang yang memakai jasanya. Wajahnya memang tidak menonjol rupawan, bahkan boleh dibilang terlalu pas-pasan untuk profesi kupu-kupu malam. Dulu ia pernah mencoba membeli gincu merah seharga selembar uang kertas bergambar monyet untuk menarik hati pelanggan, tapi yang ada bibirnya malah pecah-pecah dan berdarah. Padahal uang itu hasilnya melayani dua lelaki. 

            Pernah suatu hari Suwarsih mencoba bertanya pada Tuhan. Mengapa Dia memberinya keberuntungan yang dangkal. Bukankah dirinya tidak pernah meminta untuk diciptakan sebagai manusia? Atau setidaknya kalau memang Tuhan menyayanginya, berilah sedikit kebaikan. Berhari, berbulan bahkan bertahun tidak ada jawaban yang memuaskan hatinya. Hingga akhirnya Suwarsih pasrah. Tidak lagi peduli apakah dirinya butuh Tuhan atau tidak.

            Belum ada pelanggan yang datang meski malam semakin beranjak menjauh. Sepi seolah-olah mutlak semenjak ramai terjadi penembakan misterius. Banyak preman yang tiba-tiba mati tertembak dan ditinggalkan begitu saja dalam karung. Menjelang isya jalanan mulai sepi karena warga takut jadi korban penembakan. Itu yang semakin membuat pekerjaan Suwarsih semakin sepi. Padahal kebutuhan hidupnya hanya tercukupi dengan pekerjaan ini.

            Pagi tadi bude Tarmiyem sudah menagih uang beras yang diutangnya minggu lalu. Kang Pariyo tukang mindring yang meminjamkan uang juga menagihnya karena sudah lima hari Suwarsih tidak membayar. Semakin pusing Suwarsih kalau ingat Kang Pariyo. Uang sepuluh ribu yang dipinjamnya harus dicicil tiga ratus rupiah setiap hari selama dua bulan penuh.

            Seorang laki-laki menghampiri Suwarsih dengan langkah terseok-seok. Mengetahui siapa yang datang, Suwarsih melengos. Hatinya sedikit geram. Ia lebih suka tidak mendapatkan pelanggan daripada harus melayani Pardi, preman pasar pembuat onar. Jujur saja Suwarsih berharap Pardi jadi sasaran petrus, karena Pardi sering membuatnya kesulitan.

            Kalau ada sedikit saja kebaikan pada diri Pardi, itu hanyalah kenyataan bahwa dia sangat mencintai Simboknya. Setiap hari ia merawat Simboknya yang buta dan lumpuh seorang diri. Saat memandikan atau menyuapi Simboknya, Pardi selalu nembang Caping Gunung. Pada Simboknya Pardi mengaku bekerja sebagai kuli angkut di pasar.

            “Aku mau, Sih.”

            “Kau masih berhutang lima kali padaku.”

            Pardi menelan Saliva dengan kasar hingga terdengar bunyi cleguk dari tenggorokannya. “Setelah membawa Simbok ke Pak Mantri Suntik, aku akan membayarmu.”

            “Kau pikir buat apa aku jual diri? Buat makan! Kalau kau terus berhutang, aku makan apa? Angin?”

            Pardi menjambak rambut Suwarsih dari belakang, “Sekali lagi saja.”

            “Kenapa tak kau pakai Mbokmu saja?”

            Sekarang tangan kekar Pardi bukan hanya menjambak, tangan itu terangkat dan mendarat telak di pipi Suwarsih, membuat perempuan itu jatuh terjengkang di pinggir rel.

            Belum sempat Suwarsih bergerak dari jatuhnya, Pardi menindihnya kuat-kuat dan melampiaskan nafsunya dengan brutal.

            Tak guna Suwarsih melawan. Bahkan mengeluhpun tidak. Berbagai rasa menyakitkan sudah menjadi menu sehari-harinya sejak kanak-kanak. Semua rasa itu kini mengeras diwajahnya.

            Suara erangan Pardi menambah buruk irama malam, merusak gendang telinga Suwarsih. Hingga akhirnya Pardi terkapar kelelahan di samping Suwarsih dengan mata terpejam dan bau keringat menyengat.

            Suwarsih menggelung rambutnya yang terurai tak karuan. Dibenahinya jarik yang di singkap Pardi dengan kasar. Kebayanya yang robek karena disentakkan dengan keras dipakainya tanpa kutang. Kutang itu masih teronggok. Terbayang besok ia harus membeli benang untuk menisik kebayanya, sedangkan malam ini tidak sepeserpun didapatnya.

            Pardi masih terlentang. Terpejam.

            Suwarsih mengambil kutang itu. Sambil mengangkangi tubuh Pardi yang sekarang lemas bagai tak bertulang, Suwarsih menjerat leher Pardi kuat-kuat dengan kutangnya hingga tak bernyawa.

            Lalu dengan gerakan gemulai Suwarsih mengambil pisau kecil yang selalu diselipkan di balik setagennya. Tangan yang tadi gemulai kini  cekatan memotong daging termahal milik laki-laki itu. 

            Membawanya pulang.

~•~

            Esok hari berita menyebar cepat.

            Pardi, preman pasar mati kena petrus di rel kereta api. Dadanya bolong tertembus peluru dan alat vitalnya hilang!

            Suwarsih tidak peduli kebenaran pada berita itu. Berita yang semakin simpang siur dari mulut ke mulut. Ia menuju rumah berdinding gedhek bambu tidak jauh dari aliran sungai desa. Dibawanya Simbok Pardi duduk di bale depan rumah. Dengan krengsengan daging yang dibawanya semalam ia menyuapi wanita tua itu.

            “Kamu siapa? Kemana Pardi? Sejak semalam dia tidak pulang. Padahal dia tidak pernah meninggalkan Mbok sendirian.”

            “Saya Warsih, Mbok. Temannya Pardi. Saya tidak tahu Pardi kemana. Dia hanya berpesan agar merawat Simbok pagi ini.” Suwarsih menjawab setiap pertanyaan Simbok Pardi sambil terus menyuapkan makanan.

            Simbok Pardi mengunyah pelan-pelan. Menikmati setiap rasa makanannya.

            “Pardi itu anak baik. Sejak kecil Pardi tidak pernah merepotkan. Dia selalu diam saja setiap kali bapaknya memukuli dengan bambu sampai bambunya hancur. Sekalipun tubuhnya penuh luka dan berdarah-darah, dia tetap bilang, ‘Aku ndak apa-apa Mbok. Simbok jangan menangis.’ Tentu saja aku tidak bisa tidak menangis melihat anak semata wayangku dipukuli bapaknya sendiri.” Simbok Pardi bercerita sambil mengusap air matanya.

            “Tak tahan dengan kelakuan bapaknya, diam-diam aku membawa Pardi kabur dari rumah. Bersembunyi ke sana ke mari menghindari kejaran bapaknya. Kalau sampai kami ditemukan, tamatlah riwayat kami. Namun sepandai-pandainya kami bersembunyi, akhirnya ketahuan juga. Bapaknya Pardi marah besar. Wajahku dipukulnya dengan kayu. Salah satu rantingnya menusuk mataku hingga buta. Pardi marah melihat itu. Kepala bapaknya di pukul dengan alu sampai jatuh menghantam lemari. Sayangnya lemari itu justru roboh menimpa kakiku.”

            Hati Suwarsih berdesir.

            “Sejak saat itu aku menjadi beban Pardi. Dia bekerja siang malam, banting tulang untuk biaya perawatanku karena kesehatanku terus menurun. Seharusnya Pardi bisa menikmati hidupnya dengan bahagia. Kalau saja dia tidak sibuk mengurusku, pasti Pardi bisa menikah, berumah tangga dan mempunyai anak.  Aku pun pasti sudah di panggil Simbah.”

            Suwarsih menyodorkan gelas minuman ke bibir Simbok Pardi. Perempuan tua itu menyesap pelan-pelan.

            “Kadang aku ingin mati saja, supaya Pardi bisa bebas dari beban merawatku. Tak tega aku pada Pardi. Anak sebaik itu harus menderita terus.”

            Kembali Simbok Pardi mengusap air mata. Tangannya meraba-raba mencari tangan Suwarsih, “Kamu percaya pada Tuhan kan? Tolong doakan aku supaya mati lebih dulu sebelum Pardi ya. Setidaknya supaya Pardi sempat merasakan hidup bahagia.”

            “Simbok tenang saja. Mungkin sebentar lagi Pardi akan pulang.”

            “Ya. Ya. Terima kasih kamu sudah mau membantu Pardi.”

            Sekarang Suwarsih tidak tahu apa yang harus dijelaskan pada Simbok Pardi. Diam-diam Suwarsih melangkah pergi, tepat ketika dari arah jalan raya terdengar suara sirine meraung-raung menuju rumah Pardi.

~•~

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami