Norma Azmi Farida

Sunan Bonang Sebagai Bapak Perintis Suluk Kesustraan Jawa di Rantau Asia Tenggara.

    Tidak banyak yang tahu bahwa Sunan Bonang yang bernama asli Makhdum Ibrahim merupakan perintis suluk kesustraan Jawa. Tokoh penyebar agama Islam, serta seorang diantara wali Sembilan (walisongo). Lahir pada pertengahan abad ke-15 dan wafat pada awal abad ke-16.

Masyarakat Jawa mengenal sosok sunan Bonang sebagai penyebar agama Islam dengan menitikberatkan pada ajaran Tasawufnya. Selain penyebar agama Islam, Sunan Bonang dikenal juga seorang budayawan, ia menuliskan perjalanan sepiritualnya dengan syair-syair indah menggunakan bahasa nusantara dan bahasa Jawa. Salah satunya adalah sastra suluk.

Sastra Suluk merupakan salah satu genre penting dalam kesustraan Jawa, Madura dan Sunda. Menurut sejarah, genre ini muncul pada abad ke- 15 bersamaan dengan tersebarnya agama Islam di pulau Jawa. Salah satu satrawan perintis Suluk kesutraan Jawa adalah Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang). Karya Makhdum Ibrahim dibuktikan berupa manuskrip lontar berbahasa Jawa abad ke-16. Selain itu, peran Makhdum Ibrahim yang begitu produktif dalam menuliskan beberapa karya, hingga akhirnya Sunan Bonang juga dijuluki sebagai pelopor atau bapak kesustraan Islam di rantau Asia Tenggara.

Sayangnya, karya Sunan Bonang jarang dilirik oleh ilmuan Indonesia, hingga datang ilmuan asal Belanda yaitu Schrieke, berhasil menyalin tulisan Sunan Bonang yanga ada pada manuskrip lontar, disalin berdasarkan manuskrip Leiden. Kemudian juga di terjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul “ The Admonitions of She Bari (1969).

Namun tidak banyak yang mengira, bahwa tulisan-tulisan Sunan Bonang yang dikemas dalam sastra Suluk ini, ia menggunakan sastra Jawa Madya. anehnya, bahasa Jawa Madya yang digunakan Sunan Bonang mirip dengan bahasa yang digunakan penulis kitab Pararaton, yang ditulis pada masa menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit. Penyebab runtuhnya Majapahit bukan karena faktor politik dan lainnya, melainkan merosotnya pamor kesustraan Bahasa Jawa kuno (Kawi) dengan sastra bahasa Jawa Madya (bahasa Kawi yang mendapatkan banyak pengaruh bahasa lisan). Dan ternyata, Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) ini merupakan salah satu pelopor penulis sastra Jawa Madya dalam jenis Suluk. (Abdul Hadi, 2016)

Dengan begitu, jelas, penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Bonang menggunakan pendekatan kultural, pendekatan tersebut sangat memahami dan menjaga pada kearifan lokal. Peran yang dilakukan oleh Sunan Bonang ialah dengan menjaga bahasa sastra Jawa maupun Nusantara hingga dikenal dibelahan dunia.

× Hubungi kami