Hutan dan Ingatan Buah Ara

Oleh: Rizan Panda

Ingatan terakhir yang terpatri dalam otak Sai adalah mimpinya yang sudah berulang hampir setiap hari: sosok merah besar yang menghampiri tidurnya, yang selalu mengunyah sesuatu di dalam mulutnya. Sesekali liurnya—yang bercampur entah apa yang ia kunyah—dapat Sai rasakan mengalir di sudut-sudut badannya yang dipenuhi luka. Sesekali juga Sai dapat merasakan liur makhluk merah besar itu menyeruak masuk ke dalam rongga kerongkongannya. Liur itu hangat, berbau amis namun terdapat rasa manis-pahit yang menempel di dinding mukosa mulut Sai.

Sai selalu terbangun dalam kondisi yang sama. Keempat alat geraknya tidak dapat ia gerakkan meski ia berusaha sekuat apapun. Dapat ia rasakan seluruh saraf di sekujur tubuhnya menyalurkan penderitaan akibat ia memaksa bangkit. Ketika ia terjaga, ia sadar bahwa ia terbaring di lantai hutan. Ia juga sadar sekujur tubuhnya dipenuhi lebam dan luka, bahkan ketika semut api dan laba-laba tanah melintasi telapaknya yang penuh lecet, ia hanya bisa meringis, menatap kanopi-kanopi hijau yang melindungi wajahnya dari terik tropis. Waktu siang Sai habiskan dengan lambat, menatap lurus ke atas dan mendengar suara-suara bising dari sekitar. Matanya sesekali menangkap burung-burung besar berkepala kapak yang melintas beriringan satu sama lain. Ketika sinar dari celah kanopi hijau mulai menjingga, mata Sai yang mulai lelah sayup-sayup memicing, membawanya ke alam bawah sadar. Setiap kali Sai terpejam, sosok merah besar itu selalu muncul, mengunyah dan mengoles tubuh Sai dengan entah apa yang ada dalam salivanya. Tak jarang Sai terjaga di tengah gelap dengan sensasi mulut bak habis menyengam setumpuk buah ara yang terlalu masak. Perutnya juga terasa penuh setiap kali ia terjaga dengan rasa aneh di mulutnya.

*** 

“Lahan yang ada di Selatan akan dibuka. Bayangkan, mal terbesar dengan apartemen pertama di kabupaten kita!” Sai tertawa sembari menyomot pisang goreng di samping gelas kopinya. Surat kabar yang tengah ia genggam tampak bergoyang akibat gerakan telapak kakinya yang beradu dengan teras. Wajahnya sumringah, cerah menatap Nun yang duduk di sampingnya.

“Selatan? Bukannya itu masih masuk wilayah hutan lindung?” Timpal Nun.

“Ah, persetan, bukan? Aku sudah jenuh melihat pohon-pohon tinggi, aku mau kehidupan yang sama seperti di Jakarta! Seperti kita sebelum pindah ke sini, Nun! Kamu gak kangen?”

Nun menggeleng, kemudian menyunggingkan senyum kepada suaminya.

“Aku lebih suka yang sekarang, Sai. Meski tidak bisa lagi beli boba atau makan di restoran kesukaanku, tapi hidup di sini lebih tenang.”

“Bagaimana kau bisa tenang? Rasanya ribuan nyamuk menyerbu masuk saat kita tidur! Belum lagi suara-suara raungan mengerikan dari hutan, bagaimana kau bisa bilang hidup di sini lebih tenang?”

“Lebih baik aku mendengar raungan-raungan alam dibanding knalpot modifikasi yang acap kali lewat depan kompleks kita. Aku harap pembangunan mal dan apartemen itu tidak dilanjutkan.” 

“Apa pedulimu?”

“Hutan itu bagian dari kehidupan desa ini, Sai. Kau tak akan mengerti. Lagipula, tidak akan mungkin Pak Kades menyetujui pembukaan hutan di Selatan sana. Kau tahu, masih banyak babiat dan mawas di sana!”

Wajah Sai merah, dapat ia rasakan tekanan darah di dalam pembuluhnya meningkat drastis. Surat kabar di genggamannya dicampakkan ke teras kayu itu.

“Peduli setan, mau babiat atau mawas, atau kuntilanak sekali pun, lebih baik kita hidup di kota daripada di tengah hutan!” Sai beranjak dari teras menuju samping rumah.

Sai dan Nun memang baru beberapa bulan pindah dari Jakarta. Mereka pindah ke sebuah kabupaten di Sumatera Utara, sesuai permintaan Opung Nun yang sudah lama sakit-sakitan. Sai awalnya menolak, tetapi, iming-iming rumah dan tanah peninggalan Opung Nun memantapkan hatinya dan mengikuti kemauan Nun menuruti tetuanya.

“Tanah Opung luas, rumahnya juga di setiap sudut desa. Harga ikan pun jauh lebih murah dibanding di sini,” tutur Nun, malam sebelum mereka terbang ke Kualanamu.

Sai hanya mengangguk, membayangkan diri dan istrinya menjadi tuan tanah di desa itu selepas Opung pergi. Semula Sai cukup senang, karena ia bisa makan ikan kesukaannya setiap hari. Udaranya juga lebih bersih dan menyegarkan dibanding ketika mereka bermukim di rumah susun di daerah Cawang. Rumah yang mereka tempati sekarang juga sangat luas, meski sudah lapuk akibat tempias dari monsun barat. Setelah beberapa bulan menetap jauh dari hiruk-pikuk ibukota, Sai mulai resah. Dahulu, Sai selalu mengajak Nun berkeliling ibukota dengan motor bebeknya, melintasi Pancoran, makan enak di mal besar, dan selalu menonton film terbaru di layar lebar. Sai seperti masuk ke sebuah dunia antah-berantah yang tanpa kenikmatan duniawi, bahkan untuk menonton tayangan sepak bola kesukaannya ia harus rela singgah ke balai desa, karena di sana satu-satunya televisi yang layarnya tidak dikerumuni semut.

Sai mengambil kapak yang tergeletak di antara perkakas lain, yang dahulu difungsikan untuk mencari kayu bakar di hutan. Dengan langkah angkuh, ia menghampiri Nun yang masih duduk di teras, masih menikmati pisang goreng yang ia suguhkan di meja kecil.

“Mau jadi atau pun tidak, hutan di Selatan itu akan aku hancurkan. Batang demi batang, ranting demi ranting! Mal itu akan berdiri di sini!”

Sai pergi ke Selatan, dengan kapak di bahunya. Nun hanya bisa melihat punggung suaminya perlahan mengecil dalam pandangannya.

*** 

Sai kembali terbangun dengan sensasi aneh di mulutnya. Lagi-lagi, perutnya terasa kenyang. Luka-luka di tungkai dan telapaknya bisa ia rasakan masih basah, karena ketika ia mencoba bergerak, ia dapat merasakan otot-otot yang bertaut pada tulangnya serasa disobek menjadi serpihan kecil. Air mata Sai berlinang, teringatnya musabab ia terluka di lantai hutan itu.

Sai bukan tukang kayu, bukan juga orang yang memiliki pengalaman dalam menebang kayu. Setelah sampai di Selatan, Sai dengan serampangan menebas batang pohon besar dengan kapak tua yang ia bawa. Ayunan-ayunan kapak itu tidak lantas mencoaki batang pohon, namun cukup untuk menggoyahkan buah-buah masak yang menggantung di tiap dahan. Beberapa buah dari pohon itu menghujani tempurung Sai, membuat lelaki itu ketakutan setengah mati, berusaha lari melindungi dirinya dari hujaman buah liar itu. Nahas, Sai tersandung akar pohon, lantas berdebum ke tanah. Tempurungnya yang ia lindungi dari hujan buah dengan pasrah terbentur ke tanah. Tungkainya tergores bebatuan, sementara tangannya lecet akibat memaksa menggunakan kapak.

Entah sudah berapa lama Sai tergeletak di lantai hutan itu. Siang dan malam bak tiada berbeda, Sai sudah tidak dapat mengatur matanya untuk beristirahat. Setiap kali ia terpejam, makhluk besar merah itu selalu datang sambil mengunyah sesuatu. Sesekali juga Sai dapat merasakan tubuhnya menyeret di lantai hutan itu, bergeser dari tempat semula ia berdebum. Terkadang juga, Sai dapat merasakan makhluk besar merah itu menaungi dirinya dengan sebuah daun raksasa, agar wajahnya tidak basah dari hujan.

Sai kembali terjaga, entah untuk yang ke berapa kalinya. Perutnya kenyang, seperti sebelum-sebelumnya. Cedera di kepalanya sudah jauh membaik, sehingga ia bisa mengangkat kepalanya sedikit. Ia menemukan luka-luka di tungkai dan telapaknya sudah berangsur-angsur mengering, dapat ia rasakan juga sebuah lendir hijau di telapaknya yang sudah hampir menyatu dengan kulit.

Sai mencoba bangkit, namun tenaganya belum cukup untuk menopang keseluruhan torsonya agar bisa berdiri tegak. Ia baru mampu mendudukkan dirinya dan bersandar pada sebuah pohon besar di dekatnya. Ia memejamkan sedikit matanya, menikmati angin yang dibawa senja. Berkas-berkas cahaya di antara dedaunan mulai semakin redup, pertanda makhluk merah besar itu akan kembali menghampiri Sai dalam mimpi. Perlahan tubuh Sai melemas, seiring dengan alam bawah sadar yang mulai mengambil alih pikiran Sai. Gemeresik dedaunan terdengar, tidak jauh, juga tidak begitu dekat. Sai sadar akan suara itu, tiba-tiba, seperti mengalami astral projection, Sai dapat menyaksikan dirinya yang terduduk di bawah pohon besar itu. Gemeresik itu semakin terdengar, diikuti dengan suara debum dari pohon yang tidak jauh dari posisi Sai. Suara itu beberapa kali terdengar, hingga akhirnya tidak terdengar sama sekali. Perlahan Sai dapat mendengar suara langkah kaki yang sedikit diseret mendekat ke arah tubuhnya. Sai berusaha membuka matanya dan bangkit dari situ. Namun upaya itu hanya menjadi sebuah denyut di pelipis dekat kelopak matanya. Sosok empunya langkah menyeret itu semakin mendekat. Untuk pertama kalinya setelah beberapa kali dihampiri, Sai dapat melihat sosok merah besar yang selalu mengunyah itu. 

Makhluk itu tinggi, sekitar 180 cm dengan postur yang membungkuk. Lengannya besar, berhias surai-surai coklat kemerahan. Wajahnya lebar, dengan kulit kehitaman dan sepasang bola mata lebar yang menatap tajam. Lagi-lagi makhluk itu datang sambi melumat sesuatu di mulutnya. Kedua telapak tangannya penuh dengan dedaunan dan buah,  Sai dapat merasakan kulit wajahnya tergelitik oleh hujung daun yang dibawa oleh makhluk itu. Buah yang digenggam makhluk itu juga Sai rasakan menjejal di muka bibirnya, seperti dipaksa agar masuk ke dalam rongga mulut Sai. Didorong rasa lapar yang mulai menyeruak dari pencernaannya, Sai membuka mulutnya, lantas menggigit buah itu dengan geliginya. Air mata Sai perlahan meremang pada pipinya, kemudian menitik pada lengan makhluk merah besar itu. Rasa buah itu membangkitkan memorinya, dengan sekejap ia merasa kenyang. Tidak ada sensasi hangat atau pahit seperti yang ia ingat. Jemari hitam besar di hadapan Sai menyeka air mata dari pipi Sai, meletakkan sisa buah ara masak yang sedari tadi digenggam di samping Sai, kemudian melangkah menjauh. Sosoknya hilang di antara pepohonan, namun, Sai melihat jelas makhluk merah itu memanjat naik ke sebuah pohon besar tak jauh dari tempat Sai mengakar. Sai kembali mengunyah buah di mulutnya, menelannya dengan sukarela.

*** 

Beberapa halaman sebelum Sai mencampakkan koran hari itu, ia sempat membaca kolom artikel mengenai dunia ilmu pengetahuan yang dihebohkan dengan seekor orang utan jantan yang menyembuhkan dirinya setelah membubuhi luka di wajahnya sendiri dengan dedaunan yang dikunyah. Sai hanya membaca sekilas dan tidak terlalu peduli dengan berita tersebut.

“Apa hebatnya? Aku juga bisa menyembuhkan kudis di pantatku sendiri tanpa harus pergi ke dokter,” gumamnya.

Sai memang tidak terlalu peduli dengan lingkungan hidup, dia lebih suka dengan kemewahan dan ingar bingar kota besar yang sesak dengan kemajuan teknologi. Ingatan itu terbesit dalam pikiran Sai yang masih terduduk di antara pepohonan besar di Selatan. Ia ingat, orang utan yang menghebohkan itu ada di Sumatra Utara, namun ia tidak dapat mengingat lebih rinci lagi soal berita itu. Kini benaknya dihantui dengan pikiran-pikiran: benarkah berita itu? Apakah orang utan itu yang telah menyelamatkan dirinya? Jika hutan ini dibuka, akan tinggal di mana orang utan, burung-burung, laba-laba tanah, serta semut-semut yang melintas pada luka di tungkai dan telapaknya?

Bagai disetrum, ia merasa dirinya harus segera bangkit. Diingatnya kembali sumpah serapahnya tentang ketidakpedulian terhadap hutan. Luka di tungkainya sudah jauh menutup, jaringan-jaringan kulitnya juga, sehingga ia bisa berdiri tegak menopang tubuhnya. Telapak tangannya meraba-raba batang-batang besar yang menjulang, seraya ia berlalu menuju rumahnya. Sayup-sayup dapat ia dengar suara bising mesin-mesin yang menderu masuk ke hutan. Sai tidak melihat mesin-mesin itu, tidak juga dengan pekerja-pekerja yang mengoperasikan alat-alat berat berbunyi berisik itu. Namun di pikirannya, jelas ia melihat gergaji-gergaji mulai diarahkan ke batang-batang pohon besar. Terdengar suara teriakan pilu ketika gerigi gergaji mesin menembus lapisan xilem.

“Hentikan mesinnya! Hentikan pembukaan lahan pada hutan! Hentikan pembangunannya!” Ujar Sai keras-keras. Teriakannya terus melantang sampai ia keluar dari hutan. 

*) Cileungsi, Juni 2024.

1 thought on “Hutan dan Ingatan Buah Ara”

  1. Cerita yg keren untuk mengajak kita semua melestarikan lingkungan,hutan dan hewan2 dilindungi, orang utang dsb

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami