HYMENOPUS

Oleh: Epani Rachmaditia

            “Lama banget…” keluhku sembari menyeruput secangkir Macchiato hangat.

            Hujan rintik membasahi kota Bandung sejak petang tadi. Dewi Fortuna masih berpihak padaku setidaknya. Terlambat sedetik saja, mesin cuci usang di binatu sebelah kafe ini yang malah akan menjadi pasangan kencanku. Riuh rendah suara pengunjung di kafe ini, membuat pikiranku sedikit mandek. Mungkin asupan dopamin dari Instagram, Tiktok, atau Twitter bisa sedikit membantu. Ya, membantuku menemukan cara untuk tidak menjadi cowok redflag saat kencan offline untuk pertama kalinya.

            “07.15 PM”

            Jam digital berwarna abu yang terpasang di atas lemari buku bacaan dan koran itu menjadi penanda seberapa lama aku menunggu di kafe ini. Menunggu seorang malaikat.

            Sejujurnya, belum pernah dalam hidupku bertemu dengan sesosok malaikat semudah ini. Tak kusangka, petuah buaya darat itu supaya aku mulai bermain aplikasi dating apps berbuah manis. Tak heran, setiap malamnya temanku yang satu kos denganku itu selalu mengenalkan gadis belia yang rupawan dan atraktif padaku. Sebelum kembali ke sarangnya, bersama dengan mangsanya yang baru.

***

            “Rafa? Kamu Rafa, kan?”

            Baru kali ini suara lembut nan manja memanggil namaku. Apakah aku bermimpi? Ah, mungkin saja aku sedang terlelap karena terlalu lama menunggu. Dan membayangkan sesosok malaikat dengan rupa menawan memanggil namaku.

            Nyawaku hampir melayang saat sesuatu menyentuh pundak kananku dengan lembut. Reaksi terkejutku yang mungkin terlihat lucu, menghadirkan gelak tawa bagi sesosok rupawan yang kini berada di hadapanku.

            Tidak mungkin! Apakah ini lelucon belaka? Di semesta mana, aku bisa bertemu dan bercengkrama dengan seorang idol? Kaki jenjang, kulit putih putih berseri, tubuh yang seksi, dan wajah yang cantik seperti idol dari Korea Selatan yang selalu menjadi pusat fantasiku?

            Pandanganku tak berpindah sedikit pun dari keanggunan wanita di hadapanku ini.

            “Rafa?” tanyanya sembari melambaikan telapak tangan mulusnya di depan wajahku.

            “Eh iya.. Hai.. Halo..” jawabku gugup. 

            “Halo juga. Aku Tia. Salam kenal, ya.” ucapnya sembari tergelak melihatku salah tingkah.

            “Udah lama ya disini? Duh, maaf ya aku baru beres urusan di kantor…” tanyanya sembari menyingkap rok span selutut berwana abu yang ia kenakan saat kerja dan duduk di kursi di hadapanku.

            “Eh santai, kok.. Aku juga baru sampai.” jawabku.

            Menunggu hingga aku mati pun akan kujalani, pikirku.

***

            Ditemani udara sejuk kota Bandung malam ini, obrolan kami ngalor-ngidul tak karuan. Mulai dari hobi kami yang ternyata berbeda 180 derajat, passion dalam berkarir, hingga cerita konspirasi dari kasus penculikan dan perdagangan organ tubuh ilegal yang sedang marak terjadi di kota ini.

            Paras asrinya ketika berbicara, menyiratkan karakternya yang lemah lembut, mandiri, namun terasa kesepian. Perlahan, dorongan untuk mendekapnya dalam pelukan hangat dan tak membiarkannya kesepian makin bergemuruh dalam dadaku. Tatapan mata coklatnya yang jernih nan tegas, seolah menenggelamkanku dalam lautan delusi saat aku menjalani hidup bersamanya kelak. Entahlah, mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa dia lah orangnya. Walau pun jika itu membuatku kacau balau.

            “Duh, udah  jam segini ternyata…” ucapnya sedikit panik.

            Kepalaku menoleh ke arah jam digital abu tadi.

            “11.49 PM”

            “Iya juga. Kamu bawa kendaraan enggak dari kantor?” tanyaku penasaran.

            “Enggak euy, aku naik Damri sama ojeg buat pulang pergi…” jawabnya sedikit mengeluh.

            Kami berdua terdiam. Suasana kafe yang mulai sepi menambah kecanggungan di antara kami. Kebingungan antara menyudahi kencan kali ini, atau berlanjut…

            “Kalau aku anter gimana? Kayaknya Damri juga jam segini udah beres.” tanyaku spontan, menawarkan solusi yang berbasis keinginanku untuk melanjutkan kencan ini.

Tia nampak ragu. Jelas saja, wanita mana yang bersedia diantar pria asing yang baru saja dikenalnya via dating apps? Sudah pasti pria itu akan dicap sebagai cowok redflag.

“Boleh, Fa. Tapi kamu enggak keberatan nganter aku pulang sampai ke rumah?” harapnya dengan mata coklatnya yang berbinar.

            Dewi Fortuna masih memberkahiku, pikirku sembari menjelaskan pada Tia bahwa kewajiban seorang pria adalah memastikan bahwa wanita yang menjadi teman kencannya selalu merasa aman.

Ya, merasa aman. Bahkan hingga terlelap di ranjang…

***

            Sembari memacu Brio-ku menyusuri gelapnya malam di jalanan kota Bandung sehabis hujan, Tia menceritakan sedikit tentang kehidupan pribadinya. Terlahir sebagai putri tunggal pasangan pengusaha tersohor di kota Bandung, menjadikan lingkup pergaulannya terbatas. Gaya hidup bak putri raja harus dijalaninya sejak tangisan pertamanya di dunia ini. Setelah beranjak dewasa, dan memilih karir sebagai dokter spesialis bedah, orang tuanya melonggarkan sedikit kekangan putri semata wayangnya itu.

            Bunga paling indah tercipta dari bibit unggul dan perawatan ekstra ketat, pikirku sembari menggenggam jemari mungilnya.

            Dia kesepian.

***

            Layaknya kuil Parthenon dari peradaban Yunani kuno, berdiri megah di hadapanku struktur bangunan yang Tia sebut sebagai ‘rumah’. Warna serba putih membutakan penglihatanku yang terbiasa dengan pemandangan perumahan kumuh dan tak layak huni. Lantai marmer putih nan dingin, ah aku merasa risih jika harus menginjak barang mewah ini. Jiwa proletarku meronta hebat, membandingkan nasibku dengan segala ya Tia miliki sejak lahir.

Sepi banget, pikirku sembari melihat sekeliling komplek rumahnya. Tak terlihat satu pun petugas penjaga atau bahkan asisten rumah tangga yang dengan sigap melayani tuan putrinya yang baru tiba bersama seorang teman jelatanya.

            “Aku tinggal sendirian sekarang, Fa.” ucapnya dingin.

            “Papa sama Mama masih di Aussie. Baru pulang bulan depan. Satpam dan ART dirumahkan sementara.” ujar Tia singkat.

            “Jadi, kamu santai aja…” ucapnya menggodaku, membuatku sedikit gugup.

            Apakah malam ini aku akan lulus dari keperjakaanku?

Pikiran kotor itu lagi-lagi mencemari otakku.

***

            Secangkir teh hangat sudah tersaji dihadapanku. Tia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Mataku melayang memandangi berbagai koleksi mewah yang terpajang di ruang tamu yang luasnya seukuran rumahku di kampung. Mulai dari buku-buku tebal, lukisan era gothic, awetan spesimen serangga berbentuk seperti belalang sembah, vase keramik dengan bunga anggrek tertanam di atasnya, dan seperangkat pisau bedah…

            Koleksi yang unik, pikirku.

            Teguk demi teguk teh buatan Tia aku nikmati, sembari menunggunya selesai dengan urusan kewanitaannya. Rasa kantuk perlahan mulai mendekapku. Sofa ini terlalu empuk, tubuhku tak sanggup menahan rasa nyaman ini. Kesadaranku perlahan memudar menjadi fatamorgana. Rasanya seluruh isi ruangan ini berputar kencang. Hanya ada aku, pikiranku, dan sosok Tia mengenakan lingerie merah muda yang kini berdiri di hadapanku.

            Mimpi indah…

            Suara halus itu perlahan menggema di pikiranku, seiring memudarnya kesadaranku.

***

            Kenapa tubuhku terasa dingin!?

            Kesadaranku yang sirna berangsur pulih, seiring rasa nyeri dan dingin di sekujur tubuhku yang mulai kurasakan.

Belum sempat aku sadar sepenuhnya, Tia yang mengenakan jubah plastik menyapaku.

            “Rafa sayang… Enak enggak mimpinya?” tanyanya manja.

            Ini mimpi? Huh, suaraku!? Ada apa ini!?

            Seketika rasa panik menyerangku. Kedua kaki dan tanganku yang terkekang erat di ranjang besi, perlahan membiru. Keringat dingin mengucur deras dari tiap sudut kulitku. Terlebih, rasa nyeri yang hebat begitu terasa di bagian bawah belakang punggungku.

            Darah!? Ada apa ini!?

            “Ehh, kamu jangan banyak gerak, dong. Nanti ginjal kamu rusak, harga jualnya nanti jatuh…” ucap Tia menggerutu sembari menjentikkan jarinya pada jarum suntik yang berisi cairan misterius tak berwarna itu.

            Air mata seketika mengalir deras dari kedua mataku. Rasa takut itu kini membuatku mengompol seperti anak bayi. Kengerian semakin menjadi, ditambah rasa nyeri hebat dari bagian bawahku ketika mengompol tadi, membuatku semakin menggila.

            “Uhh, sayang… Aku kasih kamu penenang ya, biar enggak terlalu sakit.” ucapnya berusaha menenangkanku dari tindakannya yang tak masuk akal.

            Rasa takut dan ngeri itu perlahan sirna. Semua rasa sakit hebat yang kurasakan tadi perlahan menjadi ilusi semata. Kesadaranku perlahan terkikis. Hilang menuju kehampaan. Berganti menjadi mimpi yang kuharapkan sejak bertemu dengannya…

            Ahh, aku beruntung ini hanya mimpi. Dewi Fortuna masih bersamaku, malah kini ia berada di sampingku. Terlelap dalam pelukanku dengan balutan lingerie merah muda…

***

            Wanita muda itu dengan santainya mencabut organ ginjal pria malang itu. Tangan mungilnya, secara terampil menaruh gumpalan daging yang telah steril itu ke dalam kantung plastik tebal, dan memasukannya ke dalam lemari pembeku.

            “Saatnya gajian…” ucapnya sambil tersenyum.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami