Kataprang Keris JokoPituru

 mekkasen kottha

Oleh: Joko Rabsodi

Bicara tanah jungcangcang berarti membuka senyawa sepi

gerukan pasukan tanah bali dibantai

dengan demit pusaka tanpa liuk terbang dari nata tak biasa

apalagi pangeran Lor I dinyatakan enyah

setengah telanjang ia mengacungkan serapah dekat pelabuhan sungai

Dari mata lancipnya tereka seribu gamis kematian

dibakarlah seluruh kota dengan darah paling marah

mayat-mayat jatuh membawa ngeri ke dalam tubuh 

perahu-parahu nuh menjadi jadwal sirna yang utuh

Lewat sumpah agung panembahan ronggo sukowati

menancapkan keris berpamor tunggal kukus

di punggung kanannya sebagai janji bakti

segenap nyawa dicekal lalu ditumis dalam kondisi amis

tak terkecuali ki lemah duwur yang salah tengka

di teduh pohon waru rindang dengan mimpi seram

terhunus kejang keris lurus panjang, naas menjalang siang 

Beberapa pernyataan murka dan kesalahpahaman

menyimpang tumpeng mata

sisakan luka pada rahim ibunya, setengah malam di pelaminan kemarau

tapi kedua lengan anaknya terlalu kukuh menahan angkuh yang teguh

—ètèmbhâng potè mata, angoan apotèa tolang

mon la biy’sa ngaḍhebbhi omba’, ma’ dhi sossa ètambu angèn panèmoran

Dua puluh tahun perkara, sesal anaknya yang wibawa mulai basah

meski sanggup membangun kota dari tujuh pertemuan dengan pemuda langka

memberi amanat tanpa suara lalu dirakit empu kesohor

tapi dilempar ke kolam ko`ol

Genderang suara asing dari sudut percikan air itu

berteriak semacam lolongan kecewa subali kepada sugriwa 

“ronggo sukowati, kau lempar kekuasaan tanah jawa

               ke dalam keruh air tak bermata, percuma mata-matamu mencari hati terluka” 

Kembali sesal menyungkur tubuh rentanya

hancur di atas dubur mandhilaras! Madura, april 2024

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami