Akbar Mawlana

Keberadaan Harapan Manusia Modern

Harapan merupakan kondisi normal yang dimiliki oleh manusia semenjak dilahirkan di muka bumi. Setiap manusia yang menjalani kehidupan pasti memiliki konsepsi harapannya. Tindakan pembentukan harapan oleh setiap individu adalah keadaan manusiawi, karena manusia diciptakan dengan memiliki hati dan nalurinya. Kedua komponen tersebut memberikan pembentukan harapan yang selalu diinginkan oleh setiap orang agar bisa dicapai. Bentuk dari harapan mempunyai perbedaan bagi setiap individu sebab sifat manusia yang begitu beragam. Keberagaman tersebut akhirnya memunculkan tingkatan harapan dengan nilai berbeda.

Proses harapan manusia memiliki hubungan erat dengan zaman kehidupannya. Apabila manusia pada zaman berburu gagasan harapan lebih ditujukan pada bagaimana dia bisa mencapai hasil maksimal dari kegiatan mencari binatang. Tindakan yang dilakukan agar harapan tersebut bisa dicapai maka penggunaan cara dilakukan dengan membuat alat – alat berburu sebaik mungkin. Berbeda dengan masyarakat yang hidup ketika zaman berladang mereka sudah tidak memikirkan cara membuat perkakas untuk menangkap hewan. Alasannya sederhana arah harapan mereka sudah tidak terfokus dalam bertahan hidup dengan cara bergantung hidup dari tangkapan hewan. Masyarakat saat berladang lebih memikirkan tentang teknik bercocok tanam dengan baik. Agenda harapan secara fundamental sebenarnya berkaitan dengan kebutuhan sesuai perjalanan waktu yang dilakukan.

Dinamika harapan manusia  menurut definisi tokoh mazhab frankfurt bernama Erich Fromm yang menyatakan bahwa harapan merupakan unsur penentu untuk membawa perubahan sosial ke arah sifat hidup, kesadaran diri, dan akal yang lebih besar (halaman 21). Sifat hidup manusia secara langsung berhubungan dengan alamnya. Hubungan yang kuat antara alam dengan manusia memberikan efek dalam pembentukan karakter . Erich Fromm melihat dan menganalisis manusia dari tingkatan mikro mengenai harapan. Melalui bukunya berjudul Revolution of Hope: Toward a Humanized Technology kemudian diterjemahkan ke bahasa indonesia dengan judul Revolusi Harapan oleh Hari Taqwan Santoso. Melalui buku tersebut membuka sebuah unit analisis mendalam mengenai harapan manusia atas munculnya dimensi zaman modern. Pemikiran Erich Fromm tentang harapan dituangkan secara detail mulai perihal terkecil hingga memberikan gambaran kasus dengan sederhana.

Zaman modern memberikan gambaran dalam akumulasinya yang cukup kompleks bagi kehidupan manusia. Erich fromm memulai dari bagian pemahaman harapan, bagi dia harapan bukan sekadar bentuk dari kepasifan yang berakibat sikap manusia hanya sekadar menunggu (halaman 22). Sikap pasif manusia terbentuk dari belenggu jeratan sistem yang mengakomodasi untuk memenjarakan sikap manusia. Penutupan kebebsan tersebut berdampak fatal yang berakibat pada ruang kebebasan mulai ditekan, sehingga pergerakan menjadi lebih berkurang. Pintu masuk sesungguhnya bagi seseorang untuk menyatukan harapan berasal dari nilai bebas agar dapat mencapainya namun kebebasan ini secara kasat mata sudah dihilangkan.

Jenis harapan pasif merupakan kriteria yang dibentuk lalu termodifikasi agar manusia nyaman berada dalam lingkaran kehampaan. Wawasan manusia mulai diburamkan demi menghentikan bentuk perlawanan. Kalkulasi senyatanya saat ini adalah makna harapan hanya berada pada tatanan di bawah kesadaran. Sifat harapan yang dijalankan manusia tidak sesuai pada bentuk paradoksal yang bisa mendongkrak kepasifan untuk mematahkan paham realitas yang salah.

Faktor penentu dari harapan berupa keimanan yang mempunyai arti kepastian ukuran yang belum diketahui kebenarannya. Apabila dapat dipahami secara benar tentang keimanan akan membuat manusia menjadi makhluk tersadar mengenai masalah hidupnya, tetapi faktanya dapat dilihat kebanyakan manusia berada pada lintas keimanan yang salah. Mereka tidak bisa melihat perbedaan antara keimanan rasional dan irasional. Bentuk dari keimanan irasional mengarah pada kepasifan individu untuk berpikir (halaman 33).

Dampak berbahaya dari kontrol keimanan irasioanal membuat seseorang menjadi tunduk pada objek yang membuat mereka menjadi budak secara halus. Fenomena ini banyak dijumpai era sekarang, dapat dilihat para pekerja merasa nyaman dalam hubungan kekuatan pemimpin dalam mengekang alam sadar tenaga kerja hingga menjadi lemah. Bagi Erich Fromm setiap saat keberadaan menghadapkan pada pilihan kematian atau kebangkitan (halaman 38). Kebangkitan akan selalu hadir apabila kelemahan manusia ditingkatkan menjadi hasrat penguatan.

Pertanyaannya adalah siapakah orang yang berada dalam dimensi harapan bersifat pasif ini ?. Secara gamblang Erich Fromm menjawabnya dengan tegas bahwa manusia era modern dengan kemajuan teknologi di sekelilingnya merupakan objek dari harapan kepasifan. Kemudian mengapa bisa manusia di era modern dengan segala macam teknologinya bisa membuat manusia menjadi lebih pasif ? Jawabannya sederhana bahwa manusia modern terjebak terhadap konsep ketamakan, ia hanya sekadar melihat dari segi kuantitas tanpa memperhatikan kualitas terberinya. Akibatnya manusia hanya dijadikan konsumen dengan membuka mulutnya secara terus – menerus tanpa bisa berpikir panjang.  

Modernisasi merupakan zaman penipuan bagi umat manusia di muka bumi jika dapat melihatnya lebih luas. Penggunaan kata modern hanya berupa simbolis belaka yang memberikan perangkap mematikan. Proses telaah era modern jika menyelisik secara terperinci akan terlihat bahwa ini merupakan sistem yang hanya bersifat tunggal. Penyebabnya menurut Fromm pertama imajinasi dari setiap individu akan dibuat pincang oleh patologi psikis. Kepincangan ini berdampak  pemikiran kreatif menjadi mati sehingga ketika sudah mati akan memberikan kekosongan dalam kehidupan sehari – hari. Kedua individu terjebak dari metode keefektifan, tetapi itu hadir sebagai metode yang keliru untuk dijalankan ( halaman 66).

Fenomenanya adalah masyarakat modern dipaksa untuk hidup secara seragam dalam hal konsumen. Konsumsi manusia bergeser menjadi bersifat homogen penyebabnya terlihat oleh sistem kapitalis mencoba untuk mendongkrak produknya kepada masyarakat secara menarik. Pemberian kesadaran manusia yang seragam membentuk jiwa dari setiap individu dalam kepasrahan hidupnya. Kenyataan sistem ini memberikan catatan bahwa manusia sudah terperangkap menjadi bagian mata rantai konsumsi.

Manusia diatur seperti boneka tali saat menjalani hidupnya yang digerakan oleh pengendalinya. Pengendali di sini dipaparkan sebagai sosok pemilik modal dalam birokrasi alienasi. Birokrasi alienasi membuat jurang pemisah terhadap manusia yang  didekte dan pendekte . Efek dari jalannya birokrasi bukan humanis menimbulkan nurani otoritarian bagi manusia, mereka hanya menjalani perintah – perintah dari pihak berwenang saat pengambilan sikap (halaman 139).

Perbudakan manusia untuk memenjarakan harapan aktif masih terus berlangsung di era modern. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana manusia bisa keluar dari permasalahan tersebut ?. Melalui buku revolusi harapan Fromm menyajikan jawaban atas dilema manusia yang tidak disadarinya. Cara yang dipakai dengan menyadari kepemilikan identitas diri. Identitas diri harus dipahami secara sadar bahwa aku adalah aku sebagai pusat struktur terorganisir dan aktif secara potensial (halaman 141). Keinginan manusia sering kali menemui kegagalan ketika memasuki tahapan awal, karena diri sendiri bukan memahami tentang pemahaman dirinya melainkan beradaptasi dengan sistem dunia modern dengan dinamika kebrutalan. Kegiatan terbatas manusia akan hilang jika ia sadar untuk keluar dari posisi keterasingan. Secara sederhana langkah pertama individu harus memahami secara baik mengenai konsep aku untuk menjadi bukan memiliki.

Langkah selanjutnya ketika seseorang sudah bisa membentuk kesadarannya secara utuh maka pola berpikir harus diubah dari sebelumnya hanya sebatas rasa ingin tahu menjadi minat. Rasa ingin tahu hanya memuaskan pada rasa kepasifan semata. Ringkasnya kita sebagai manusia harus bisa melampaui keinginan untuk melompat terhadap keterbukaan dunia dengan memaknai konsep minat. Cara berpikir seperti itu diharapkan bisa mendobrak kepalsuan dari modernisasi yang diciptakan hanya sebatas penciptaan barang untuk keuntungan semata.

Pemikiran Erich Fromm yang terangkum dalam buku revolusi harapan disajikan untuk membentuk kesadaran tentang kondisi peradaban modern sesungguhnya. Tujuan tersebut dibuat demi memberikan pemahaman bahwa dunia modern tidak seindah yang dipertontonkan ke masyarakat. Keinginan selanjutnya melalui buku tersebut ada keingin untuk memberikan cara bagaimana agar bisa bertindak semestinya dan berada pada batas kewajaran. Upaya fromm hanya sebatas mengonsep sikap manusia modern secara sederhana namun tidak memaksakan kehendak untuk mengikuti tentang apa yang dikatakannya. Pandangan tersebut dilatar belakangi oleh manusia terlahir dengan kebebasan untuk memahami apa yang diperoleh selama hidupnya. Bukti itu disajikan di beberapa bab dengan menyatakan saya tidak perlu meyakinkan pembaca untuk menyajikan sebuah rencana demi mencapai akhir tujuan, penunjukan itu bukan dilalui dari buku secara ringkas  namun membutuhkan banyak telaah (halaman 159).

Judul: Revolusi Harapan

Penulis: Erich Fromm

Penerjemah: Hari Taqwan Santoso

Penerbit: IRCiSod

Tebal : 276 halaman

—————————————————————————

Penulis bernama lengkap Akbar Mawlana, dan dilahirkan di Sumenep. Saat ini  merupakan mahasiswa sosiologi semester 4. Awal mula menulis di majalah sekolah dengan genre puisi. Beberapa karya puisi berhasil dibukukan dalam lomba puisi tingkat nasional. 

@akbarmawlana3113 (instagram)

× Hubungi kami