Kepiting Emas

Oleh: Khairul Anam

            Kau duduk menghadap laut dengan mata awas. Matamu serupa elang yang tengah mendaratkan cakar ke daging empuk seekor ayam. Kau sedang mengintai sebuah keberuntungan besar. Kepiting emas. Semacam harta karun yang bisa membuatmu kaya dengan cepat. 

Ibumu sakit. Berhari-hari hanya terbaring di ranjang dan tak bisa lagi bekerja. Seluruh kebutuhan keluarga—dirimu, ibumu, istrimu—mesti kau tanggung sendirian. Kau adalah tulang punggung, sebab ayahmu wafat saat kau masih kuliah.

Sejak ayahmu wafat, biaya kuliah dan segala kebutuhan hidupmu jatuh ke pundak ibumu yang renta itu. Dengan kekuatan tubuhnya yang uzur, ibumu membanting tulang dan memeras keringat dengan susah payah. Ibumu berharap, kelak bila telah lulus, kau menjadi anak yang membanggakan orang tua.

Penyakit yang diderita ibumu, kata dokter, lumrah dialami orang berusia senja. Usia  barangkali memang telah menentukan, tua adalah nama lain dari pensiun. Pensiun dari kesehatan. Pensiun dari pekerjaan. Pensiun dari kebugaran. Penuaan adalah proses menuju pikun dan rentan.

Tapi saat itu, kau belum rajin ke pantai setiap malam, menghadap laut dengan mata awas, dan berpikir tentang kepiting emas. Kau masih sanggup menaklukkan gelombang demi gelombang hidup. Gunungan beban yang menindih punggungmu mampu kau pikul dengan kukuh walau dengan tertatih dan langkah sempoyongan.

Kau mengajar di sekolah yang dahulu bangkunya pernah kau gunakan belajar bersama teman-temanmu. Kini, kau menjadi guru di sekolah itu dan dengan gaji itulah kau berusaha tetap mengepulkan dapur, rutin mengobati ibumu yang kian hari sakitnya kian parah, menafkahi istrimu, serta mencukupi beragam kebutuhan lain di rumahmu.

Guru nonsertifikasi—yang di sekolah itu jumlahnya mencapai delapan puluh persen—sepertimu mendapat gaji yang diambil dari dana bos dan bisnis lain milik Yayasan. Dibanding sekolah lain, nominalnya sangat kecil. Setiap bulan kau hanya mendapat tujuh puluh lima ribu rupiah. Itu pun sering lambat cair. Sekolah itu belum mampu menyejahterakan tenaga pendidiknya. Menjadi guru adalah sebentuk pengabdian.

Dengan gaji sekecil itu kau harus memenuhi kantong kehidupan keluargamu? Hatimu galau. Kadang kau menyesal terlahir sebagai orang melarat. Tidak imbang, gerutumu selalu. Secangkir kebutuhan keluargamu muhal dicukupi oleh cuma setetes air. Mau seirit bagaimanapun, mana bisa terpenuhi? Kau ingin marah tapi bingung mesti marah pada siapa.

“Kalau semisal saya dan istri merantau ke luar kota, apa ibu mengizinkan?” dengan canggung kau beranikan diri meminta restu ibumu.

            “Kamu mau meninggalkan ibu sendirian dalam kondisi sakit begini?” jawab ibumu. Sejak sakit, ibumu suka marah, kau tahu itu.

“Kalau begitu, saya berangkat sendirian saja. Biar istri yang merawat ibu di sini,” ucapmu lagi membujuk ibumu.

            “Tidak! Kamu anak ibu satu-satunya. Umur ibu sudah tua. Apa kamu tak mau merawat ibu?”

Kau anak tunggal, demikian pula ibumu. Sementara rumah familimu yang lain berjauhan semua. Jika kau dan istrimu pergi, ibumu benar-benar akan sendirian. Tak akan ada yang merawatnya. Ibumu tidak boleh hidup sebatang kara.

            “Tapi, Bu, gaji saya tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari kita.”

            “Kalau begitu cari pekerjaan lain, di sini. Apa gunanya ibu memperjuangkan pendidikanmu sampai jadi sarjana kalau merawat ibu saja kamu tak sanggup?”

            Terbayang kisah Malin Kundang, kau diam. Hening. Ada hawa nyeri merambat di kepalamu. Seketika kau tertunduk. Tertekuk, hingga dagumu menyentuh sepasang tulang di bagian paling atas dadamu. Kau tak sanggup memandang wajah perempuan kurus di hadapanmu. Deru napasmu terdengar bagai orang yang baru saja berlari. 

Tanpa sadar, kau terisak dan air matamu tumpah. Kau menangis. Lama sekali. Kau sesenggukan. Tubuhmu berguncang. Kau sangat menyesal telah menyatakan keinginan itu kepada ibumu. Kau merasa baru saja terlahir sebagai anak durhaka.

“Kenapa tak melaut saja, Kak?” usul istrimu setelah kau ceritakan tanggapan ibumu.

Melaut?

Kau bukan tak berani abantal omba’ asapo’ angen. Kau tumbuh dan dirawat oleh asin laut dan angin pesisir. Ketika masih kecil, kau selalu melihat ayahmu berangkat menjelang subuh bersama kawan-kawannya, menaiki perahu, dan menaklukkan gelombang seharian. Kadang, ayahmu berangkat setelah sembahyang asar dan baru pulang ketika tarkhim maghrib di musala berkumandang lewat corong loudspeaker.

Bila ayahmu pulang, kau dan ibumu dengan girang menyambut ayahmu menenteng banyak ikan yang sebagian besar telah dijual ke gudang Madrumu. Kau sadar, tubuh ayahmu terbuat dari kekar sampan dan darah dagingmu berasal dari denyut ikan-ikan.

Tapi sejak peristiwa nahas itu terjadi, ibumu menjadi trauma. Malam itu, ayahmu melaut sendirian. Mungkin ayahmu hanya ingin memancing. Hingga lebih dua hari ayahmu tak pulang. Aneh. Ibumu diliputi perasaan jangan-jangan.

Akhirnya, dua orang tetanggamu menyusul ayahmu ke tengah laut. Cukup setengah hari, mereka telah kembali membawa tubuh ayahmu yang tak sadarkan diri. Ayahmu digotong ke rumahmu. Mukanya putih pucat. Jasadnya kaku. Ayahmu wafat. 

Kata orang, itu biasa terjadi pada pelaut. Bukan perkara ganjil. Kemungkinan besar, di tengah laut, ayahmu tak sengaja melihat seekor gajah emas. Binatang yang entah siluman entah jelmaan malaikat itu akan membuat siapapun yang melihatnya, pingsan seketika hingga seminggu. Dan ayahmu sendirian di tengah lautan. Tubuh ayahmu kehabisan energi. Karena itulah ibumu melarangmu melaut. Ibumu trauma. Anak semata wayangnya tak boleh bernasib sama.

“Kau ini, bagai tak tahu saja,” tukasmu lantas disambut senyum malu istrimu.

“Siapapun memang tak bisa kaya dengan cepat. Bersabarlah, Kak. Yang penting pekerjaan kita halal.”

Maka kau pun mencoba memulai bisnis.

            Bersama istrimu, kau membuka usaha sebagaimana diajarkan dosen di kampus. Kau mendirikan warung kecil-kecilan di tepi jalan raya di dekat rumahmu. Kau jual aneka macam minuman seperti pop ice, es gudir, top ice, dan es sitrup. Kau juga menyediakan beberapa gorengan seperti bulut, ote-ote, tahu isi, sosis goreng, dan kerupuk cabai. 

Sebulan berlalu dan jualanmu laris manis. Hanya saja, kantong keuanganmu tetap bagai balon yang tak kunjung ditiup. Semua pembeli yang adalah tetanggamu itu hanya menjadi pembeli. Sepenuhnya. Mereka tak membayar. Seolah tak mengerti keadaanmu, mereka selalu berutang. Bahkan, beberapa orang tega meminjam uang kepadamu walaupun tak mau membeli daganganmu. 

Tentu saja, pada akhirnya kau tutup warung. Berbisnis ternyata tak menambah penghasilan. Utangmu menumpuk. Kau baru tahu, teori bisnis di bangku kuliah tak membantumu sedikit pun dalam menyelesaikan persoalan hidup. Hatimu kalut seperti pasir digulung beliung. Pikiranmu ruwet dan buntu.

Satu-satunya jalan rejeki yang kau punya adalah gaji mengajar. Meskipun terbilang sedikit, masih cukup buat makan dan biaya listrik sebulan. Kebutuhan-kebutuhan lain bagaimana? Tentu saja, kau harus berutang. Tak ayal, selama setengah tahun tak ada perkembangan ekonomi, utangmu kian membukit. Parahnya, gajimu dari sekolah selalu saja telat cair.

“Kau mau mengabdi apa mau bekerja?” ucap Darsono, kepala sekolah di tempatmu mengajar, setiap kau mendesak pencairan gaji.

“Saya paham, Pak. Di sekolah ini saya mengajar untuk mengabdi. Tapi kalau telat melulu, bisa-bisa saya tak makan.”

“Omong kosong. Kau sarjana ekonomi. Kau lebih paham soal bisnis.”

Kau tak segera menanggapi.

“Jadi gaji saya tetap tidak turun sekarang?”

“Bukan cuma kamu. Guru-guru yang lain juga belum gajian.”

“Nah, itu dia. Saya bukan tak tahu. Sekolah ini mendapat dana bos dari pemerintah dan itu tidak diberikan kepada siswa.”

“Tahu apa kamu soal dana bos?”

“Jadi bapak mengkorup dana itu?”

Tak ada jawaban. Mata Darsono benar-benar menatapmu bagai pistol yang hendak ditembakkan. Mukanya merah padam. Dadanya naik turun. Lelaki itu benar-benar marah.

“Kalau tak mau mengabdi, berhenti saja dari sekolah ini. Kami tak butuh guru mata duitan sepertimu. Tapi jangan pernah berharap berkah!” 

Kau diam. Mulutmu menjadi kelu. Kalimat itu benar-benar menusuk hati nuranimu. Bagaimanapun, kau masih alumni. Memang sepatutnya kau mengabdikan diri di sekolah itu. Maka, ketika hari-hari selanjutnya utangmu kian menggunung, sejak itulah kau berpikir tentang kepiting emas.

Di pantai, udara laut makin dingin. Bulan tanggal lima belas menggantung di langit memancarkan cahaya kuning keemasan. Riak laut meriapkan cahaya teduh itu bagai kelip buntut kunang-kunang. Angin pantai begitu dingin menembus jaketmu, meniup tulang-tulangmu. Serban yang mengelilingi lehermu kau lingkarkan lebih erat. Lantas kau gosok-gosokkan tanganmu hingga merasa lebih hangat.

Pandanganmu begitu awas. Fokus dan tajam seperti elang. Indera penglihatan dan pendengaranmu dipakai dengan kepekaan paling tinggi seolah tak sudi mengabaikan gerak sekecil apapun di sekelilingmu. Kepiting itu bisa muncul kapan saja, dari arah mana saja dan akan sembunyi dengan cepat jika menangkap gerak-gerik manusia. Harta karun itu tak boleh terlepas. 

“Kepiting emas itu sangat banyak. Semuanya akan berhamburan di tepi pantai seperti setumpuk beras yang ditumpahkan. Mereka berpencar dan cahaya bulan yang menimpa tubuh mereka akan memantulkan warna emas menyilaukan. Malam bagaikan kilatan emas yang begitu indah. Begitu indah. Dan kau hanya bisa menangkapnya di waktu orang-orang sedang tidur,” cerita nenekmu terngiang di benakmu.

“Apakah ada yang berhasil menangkapnya, Nek?” tanyamu penasaran.

“Tentu saja. Salah seorang kiai di desa kita yang suka melihat matahari terbit pernah menangkapnya seekor. Esok harinya ia mendadak kaya,” pungkas nenekmu sembari menyuruhmu segera tidur sebelum kau sempat bertanya cara menangkap hewan itu.

Telah dua bulan, kau duduk di atas sebuah hamparan batu segi empat di tepi pantai ini, setiap malam, ditemani desir angin, debur ombak, sampan-sampan tertambat, dan kadang cahaya bulan yang kuning meneduhkan. Kau duduk menghadap laut dengan mata awas. Bila azan berkumandang namun tetap tak ada hasil, kau pulang dan—tanpa salat subuh—langsung tidur sampai matahari sudah tinggi. Begitu tiap hari.

Namun malam ini, malam keenam puluh tiga setelah kau berpikir tentang kepiting emas, detik-detik adalah pertanda bahwa semua akan berakhir. Bulan bulat penuh memancarkan cahaya keemasan ke relung-relung pantai. Tak ada angin. Tak ada bintang di hamparan langit. Dan kau tak membaca panorama aneh ini. 

Kau hanya memandang laut. Sesekali matamu menyusuri tepi pantai, terus ke timur hingga mengabur di ujung antara gelap malam dan cahaya kuning keemasan. Tonggeret terdengar berbunyi di antara pohon-pohon nyiur dan cemara. Lantas, kau merasakan kakimu disentuh sesuatu. Kau belum menyadarinya. Sesuatu itu menyentuh lagi, kali ini ke tumitmu.

Kau melihat ke bawah. Sesuatu bergerak-gerak di antara dua kakimu. Seperti kepiting. Kau mengucek mata. Ya, betul. Kepiting menyentuh kakimu dengan dua penjepitnya yang tajam. Kepiting itu berwarna agak kekuningan tapi tidak kuning. Andai saja kau pernah melihat warna matahari terbit, persis seperti itulah warna kepiting itu.

“Aha! Kepiting emas!” kau kegirangan sembari bangkit untuk menangkapnya.

Saat berdiri, kau takjub. Berpuluh atau mungkin beratus kepiting emas berkeliaran bagai setumpuk beras tumpah di atas lantai. Matamu berkilat-kilat. 

Kau tertuju pada seekor kepiting. Kau mengejar dan melompat dan berhasil mencengkeramnya. Di luar dugaan, kepiting-kepiting lain berbalik arah, menyerbumu. Kau yang masih telungkup dengan tangan mencengkeram kepiting tak bisa berbuat apapun. Mereka mengerumuni tubuhmu seperti serombongan semut menemukan sebutir gula. Mereka menjepit jemari, kaki, betis, paha, selangkangan, kemaluan, perut, punggung, bahu, tangan, lengan, hidung, bibir, lidah, telinga, mata, rambut, dan semua sisi tubuhmu. Kau menjerit.

Di bawah langit berkilau cahaya keemasan, dalam jepitan hidup yang tajam, penglihatanmu mendadak gelap.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami