Koran Pagi Kakung yang Tak Datang Lagi

Oleh: Octa Berliana

Simbah Kakung sudah menghabiskan tiga per empat hidupnya dengan membaca koran. Jika misal usia Kakung delapan puluh tahun, maka Kakung sudah membaca koran selama enam puluh tahun. Tapi tidak ada yang tahu pasti tepatnya usia Kakung. Ibu, Bapak, bahkan Kakung sendiri tak tahu betul kapan tahun lahirnya. Yang jelas, waktu Pak Karno memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, Kakung ingat, sedang bermain sisa-sisa bambu runcing yang dibentuk jadi pistol-pistolan mirip punya penjajah Jepang.

Kakung kecil mendapat kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat. Meski tidak sampai tamat, karena pada waktu itu orang tua Kakung mengharuskan anak-anaknya bertani untuk menyambung hidup, kesempatan belajar Kakung membuatnya jatuh cinta dengan segala macam bacaan. Dari bacaan bergambar anak-anak, sampai cerita dewasa yang tidak sengaja dibacanya karena paman-pamannya lupa menyembunyikan. Dari semua bacaan yang sudah pernah dibacanya, yang paling disukainya adalah koran. Kata Kakung, dengan membaca koran seolah dia bisa melihat luasnya dunia, bisa merasakan sedihnya dunia, bisa mengukur maju-mundurnya dunia.

Beranjak muda, menanti koran pagi jadi kegiatan wajib Kakung sebelum berangkat bertani. Berapa pun harga berlangganan koran waktu itu, Kakung selalu menyisihkan uang hasil kerjanya untuk membayar tagihannya.

Nek diklumpukke, duite kan biso kanggo tuku udud. Kok ndadak moco koran barang. Gayamu koyo pejabat-pejabat kae, [1] cerita Kakung ketika teman-temannya mengoloknya, karena Kakung menolak merokok, demi bisa membayar tagihan koran bulan depan. “Tak apa, asal bisa membaca koran, rasanya semua nafsu lahir batin Kakung terpenuhi,” canda Kakung.

Suatu hari, koran pagi yang dinanti tidak datang. Kakung menunggu dengan cemas, barangkali pengantar koran sakit atau berhalangan. Hari itu, Kakung tidak berangkat bertani, mau menunggu berita hari ini, katanya. Tapi tetap saja koran pagi itu tidak datang, pun beberapa hari setelahnya, pun beberapa bulan setelahnya. 

Kabar burung yang sudah ramai diceritakan mengatakan, bahwa terjadi kudeta berdarah di Jakarta, beberapa jenderal dieksekusi, lalu berlanjut dengan eksekusi pelaku kudeta sampai ke pengikut-pengikutnya. Media surat kabar diberhentikan karena takut isinya memuat pemberitaan yang menyinggung penguasa atau lapisan masyarakat tertentu. 

Kakung sedih, karena daya hidupnya diberedel. Kehilangan semangat hidup. Seolah mayat berjalan, tiap pagi hanya bangun, minum segelas air putih, lalu berangkat bertani. Bekerja, pulang, lalu tidur lagi. 

Sampai suatu pagi, Kakung bertemu dengan seorang perempuan manis berkepang dua yang sedang mengantarkan rantang makan siang untuk Pak Maun, tetangga barunya. Rupa-rupanya Dik Marni, nama perempuan itu, keponakan Pak Maun yang sedianya akan lama tinggal di desa itu, karena kedua orang tuanya tiba-tiba saja hilang entah ke mana. 

Dik Marni yang akhirnya menjadi semangat hidup Kakung untuk bangun pagi, rajin bekerja dan melewati hari-harinya dengan penuh cinta. Tak sampai setengah tahun, Kakung dengan berani melamar Dik Marni untuk dipersunting menjadi pengantinnya.

Hampir setahun Kakung tidak memikirkan tentang koran-koran paginya, sampai suatu hari, si pengantar koran datang dan menawari Kakung untuk berlangganan lagi. Tentu saja Kakung setuju, hidupnya serasa lengkap waktu itu. Punya istri cantik, yang saat itu sedang mengandung anak pertamanya, sawah ladang yang pada hari-hari itu menunjukkan tanda panenan yang baik, rumah yang cukup pemberian orang tuanya. Dan dari semua kesenangan itu, koran tetap menjadi pemantik hidupnya untuk mengawali hari.

Usianya sekitar setengah abad, ketika pagi itu Kakung membaca koran sambil gemetar dan tanpa sadar meneteskan air mata. Kakung yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya segera meraih gagang telepon. Memencet sederetan nomor, tampaknya tidak tersambung. Lalu berganti dengan deretan nomor yang lain, sama tak tersambung juga. Lalu sekali lagi dengan deretan nomor yang berbeda. Kali ini ada suara di seberang telepon. Aku, yang waktu itu berusia lima tahun, mendekati Kakung karena takut Kakung kenapa-kenapa. Raut wajahnya sangat muram dan khawatir. Tampaknya suara di seberang telepon bercerita sambil menangis. Aku menunggu di dekat kaki Kakung sampai tertidur, karena seingatku, Kakung tidak beranjak dari meja telepon sampai tengah hari. Bertahun kemudian, aku bertanya tentang hari itu.

“Hari itu, sahabat-sahabat Kakung di beberapa daerah berduka. Mereka yang berkulit kuning, bermata sipit, entah salah atau tidak, dirampok, dianiaya, diperkosa, dibunuh. Mereka yang tak berkulit kuning, tak bermata sipit, entah salah atau tidak pun sama saja. Jika sedikit saja melakukan hal yang tampak mencurigakan, langsung ditandai. Hari itu, Mei 1998,” cerita Kakung sambil menitikkan air mata.

Usia Kakung yang tak lagi muda, sudah mulai membatasi kegiatannya. Pagi hari, setelah berolahraga sebentar sambil menyapu halaman, Kakung akan duduk di teras, tetap menunggu datangnya koran pagi. Terlebih setelah Eyang Putri sedo, seolah kembali seperti muda dulu, satu-satunya penyemangat hidupnya hanya menanti koran di pagi hari.

Aku ingat betul hari ketika Eyang putri meninggal. Koran hari itu memberitakan tentang tsunami besar di Aceh yang meluluhlantakkan kota paling ujung di Indonesia itu.

Kakung menangis dalam diamnya, entah karena kepergian seorang yang paling dicintainya, atau karena bencana besar yang diketahui dari koran paginya.

Bencana bertubi datang, setelah Aceh, lalu Jogja, lalu yang lain-lainnya. Meski ada televisi di rumah, Kakung tetap merasa bahwa koran pagi adalah awal hidupnya. Berbagai berita yang kita ketahui lewat televisi, entah bagaimana, Kakung selalu sudah tahu. “Makanya baca koran,” ujar Kakung kalau ada yang menyeletuk, “Kok, Kakung tahu?”

Sebulan yang lalu, aku mengunjungi Kakung. Karena itu adalah hari ulang tahun Kakung, entah yang ke berapa, aku dan kakakku patungan membelikan Kakung hadiah. Sebuah gawai yang cukup canggih untuk bisa berkomunikasi jarak jauh, dengan video. 

“Supaya kalau kangen bisa saling lihat, Kung,” kata kakakku.

Kakung menerima dengan senang hati. Ketika diajari cara memakainya, tampak bingung, tapi berusaha tetap menghargai hadiah dari kami. Setelah itu, diletakkan begitu saja di atas meja. “Koran isukku endi, yo? [2] tanya Kakung kemudian. Aku dan kakakku hanya berpandangan menahan tawa. Kakung kita memang seperti itu, bukan?

Yang mengkhawatirkan adalah, karena hari-hari ini, ketika teknologi sudah semakin maju. Yang manual, jadi digital. Pun koran-koran sudah banyak yang gulung tikar karena kalah dengan media digital. Lalu, sampai hari itu tiba, ketika Kakung tidak lagi mendapat koran paginya, kami tak berhenti menghubungi Kakung, menanyakan kabarnya, berusaha menyenangkan hatinya.

Di masa tuanya, ketika hanya koran pagi yang menjadi penyemangat hidupnya, ketika sudah beberapa hari koran tak datang, Kakung bagaimana?

Aku segera meluangkan waktu untuk mengunjungi Kakung, ketika Ibu menelepon, “Kakung ki wis rong dino ning kamar wae. Metu sediluk mung ning kamar mandi karo dhahar. Ibuk kuwatir.[3]

Sampai di rumah Kakung, aku bergegas mencarinya. Tak ada di mana pun. Karena Ibu sedang berbelanja, aku beranikan mengetuk kamar Kakung.

“Kung, ini Ningsih. Kakung jangan seperti itu, to. Ningsih sedih kalau Kakung juga sedih. Ayo, yang semangat lagi.”

Tak lama pintu dibuka. Tampak Kakung dengan wajah lelah, “Ono opo, Nduk? Teka-teka kok nangis-nangis ngono. Rene-rene kebeneran, iki Kakung diajari carane donlot Instagram. Kok jarene akeh berita sing lucu lan nyenengake. Awit isuk tak otak-atik kok ora biso, Nduk. Pie iki? Reneo, Kakung diajari.[4]

**SELESAI**


[1] “Kalau dikumpulkan, uangnya kan bisa untuk membeli rokok. Kok pakai membaca koran segala. Gayamu seperti pejabat-pejabat itu,”

[2] “Koran pagiku mana, ya?”

[3] “Kakung itu sudah dua hari di kamar saja. Keluar sebentar hanya untuk ke kamar mandi dan makan. Ibu khawatir.”

[4] “Ada apa, Nak? Datang-datang kok menangis-nangis seperti itu. Sini-sini kebetulan, ini Kakung diajari men-download Instagram. Kok katanya banyak berita yang lucu dan menyenangkan. Dari pagi, saya otak-atik kok tidak bisa, Nak. Bagaimana ini? Sini, Kakung diajari.”

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami