KUPU-KUPU DALAM PERANG

Oleh: Darwanto



gadis kecil di bawah reruntuhan, merindukan gurih rempah dan wangi kemangi, berisik pada debu-debu berbisik lalu-lalang wajah ibu, aroma mesiu dan kapulaga menyatu dalam bayangan kuah santan, harum kayu manis dalam kulit-kulit tangis, nyanyian pedas pala yang terus dipanen dari butir-butir kepala, suara renyah lara


ibu, ibu, ibu, daging mana yang mereka panggang hari ini? serbuk bumbu bilur biru-biru dicucurkan pada bulat bulan, pucat duka penuh bekas luka, ampas malam mengambang di permukaan gelap semesta, dunia tertidur kehabisan daya gadis kecil tergugu di bawah bongkahan batu, merindu gurih rempah dan buai ibu, tindih bongkah ngilu


perang begitu terang, pundak-pundak kecil setipis sayap kupu-kupu sekokoh susunan batu, hari ini terbogkar esok kembali mekar, buah-buah ranum dari bibir putik peluru, capung raksasa mendengkur di langit abu-abu, berjatuhan bulir-bulir tinja dosa, api terbahak matang membakar dirinya, bumi selengang lambai kabut, selapang maut 


tirus, lapar dan dahaga gedung-gedung, langit yang tak lelah menanak seporsi mendung, kurus, rumah sakit mejadi sakit sebab tak tahu bagaimana lubang-luka sejarah musti dijahit, berkatalah kerontang pada hujan, bayi-bayi sebening pagi bergeletakkan dalam timbangan, tanpa nyawa, tanpa tanya, tak tahu apa-apa


ibu, ibu, ibu, sirup merah mana yang hari ini mereka tuang? gelas-gelas berdenting, beling-beling mencuat dari tubuh mungil kurus kering ampas malam mengambang di permukaan gelap semesta, dunia tertidur kehabisan daya gadis kecil tergugu di bawah bongkahan batu, merindu gurih rempah dan buai ibu, terbuka sayat sedan sedu


Malang, 2023

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami