Men Putung: Mata Dibalas Mata, Nyawa Dibalas Nyawa

Oleh: Dewi Ayu Putri Diah Pramesti

“Sa … kit ….”

Rintihan seorang perempuan berumur seperempat abad terdengar di sebuah kamar indekos kecil berukuran 3×3. Perempuan itu meringkuk di ranjang kecilnya sembari memegangi perutnya yang terasa seperti diremas dengan sangat hebat, dan semakin lama, semakin terasa sakit.

Perempuan itu mencoba bangun dari ranjangnya untuk keluar meminta pertolongan. Namun, baru saja dia berdiri, perempuan itu langsung rebah ke lantai karena tidak bisa menahan rasa sakit yang dahsyat pada perutnya. Di tengah rasa sakitnya, perempuan itu merasa ada suatu cairan yang mengalir di kakinya. Dalam waktu beberapa detik, yang perempuan itu lihat, bahwa cairan itu sudah berubah menjadi sebuah genangan berwarna merah di lantai. Dan dalam waktu beberapa menit, perempuan itu merasa ada sebuah gumpalan yang keluar dari dirinya. Gumpalan daging berwarna merah, semerah genangan cairan yang tercipta di lantai.

Sebelum perempuan itu kehilangan kesadarannya, dia menatap gumpalan daging itu dengan nanar. Tidak hanya perutnya yang terasa diremas, tetapi juga hatinya. “Jika ini syarat yang harus aku penuhi, lebih baik aku tidak usah menikah denganmu saja. Bukan begini caranya.” Perempuan itu bermonolog dan langsung kehilangan kesadarannya.

Beberapa jam kemudian, seorang laki-laki tua datang berkunjung ke kamar indekos perempuan itu dan terkejut karena melihat tubuhnya tergeletak pingsan di lantai dengan genangan berwarna merah dan gumpalan daging yang bentuknya lumayan besar. Laki-laki tua itu bergegas memanggil para penghuni indekos untuk membantunya membawa perempuan itu ke rumah sakit terdekat. Sebelum pergi ke rumah sakit, laki-laki tua itu mengambil gumpalan daging di lantai dan bergegas pergi ke rumahnya yang berada tepat di samping indekos untuk memasukkan gumpalan daging itu ke dalam sebuah kendi berukuran sedang yang terbuat dari tanah liat. Masih belum terlambat. 

***

Mbok, tiang kan warga baru di desa niki, tiang penasaran, Pan Ludi to kude sebenarne ngelah kurenan?[1]

Dadua. Kurenan ne pertama adane Men Ludi, ngelah panak adane Ludi jak Sari. Kurenan ne nomer dua adane Men Putung.[2]

Yih, adi bise putung kurenan ne nomer dua?[3]

Kurenan ne pertama sih ngorang jak rage nak kurenan ne nomer dua to sing ngidang ngelah panak, mandul kone.[4]

Bih, aget san toh Men Putung, sing ngelah panak tapi tetep Pan Ludi nyak jak ye. Sing perlu menghasilkan apa-apa tapi tetep kel maan warisan. Pan Ludi kan sugih, bek ye ngelah tanah, milehan. Nyen emangne ne nyak jak luh ne sing ngidang ngelah panak?[5]

Men Putung tersenyum kecut ketika mendengar percakapan antara ibu-ibu yang sedang berbelanja di pasar. Kebetulan, Men Putung berada tepat di sebelah ibu-ibu yang sedang bergosip mengenai dirinya dan mereka tidak menyadari keberadaan Men Putung di sana.

Sudah delapan belas tahun terlewati sejak kejadian di mana Men Putung kehilangan darah daging yang berasal dari benih laki-laki yang amat sangat dia cintai. Sampai saat ini, masih terekam jelas dalam ingatan Men Putung bagaimana rasa sakit yang dialaminya ketika dia keguguran dalam keadaan sendiri di kamar indekosnya. Tidak hanya rasa sakit pada perutnya, tetapi juga rasa sakit pada hatinya ketika Men Putung melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa gumpalan daging yang belum sempat tumbuh itu harus keluar lebih dulu dari tubuhnya. Men Putung tidak tahu harus merasa beruntung atau tidak karena dia diselamatkan oleh bapak angkatnya. Bukankah lebih baik dia mati bersama janin itu daripada harus menderita di dunia ini?

Delapan belas tahun yang lalu, Men Putung bertemu dengan Pan Ludi di tengah pagelaran Pesta Kesenian Bali di Panggung Terbuka Ardha Candra. Saat itu, Pan Ludi sudah selesai pentas dan hendak menonton penampilan berikutnya. Ketika penampilan berikutnya dimulai, mata Pan Ludi tidak bisa lepas dari seorang perempuan rupawan yang tengah meliuk-liukkan tubuhnya di atas panggung, membawakan tari tradisional Bali. Pan Ludi menganggap bahwa itu adalah cinta pada pandangan pertama.

Ketika Men Putung menyelesaikan pentasnya, Pan Ludi menghampirinya, mengajaknya berkenalan. Perkenalan tersebut bertransformasi menjadi beberapa pertemuan. Beberapa pertemuan itu bertransformasi menjadi benih-benih cinta. Benih-benih cinta itu dirawat dengan baik oleh mereka sehingga cinta tumbuh mengakar kuat di hati keduanya. Rasa percaya Men Putung kepada Pan Ludi begitu besar sehingga perempuan itu tidak melontarkan penolakan ketika Pan Ludi mengajaknya melakukan hubungan suami istri meski mereka belum terikat secara sah di mata agama dan negara. Saat itu, semua terasa membahagiakan.

Setelah beberapa kali berhubungan suami istri, Men Putung akhirnya sadar bahwa dia tengah berbadan dua. Jelas saja dia tidak merasa khawatir dengan hal itu karena yakin bahwa Pan Ludi akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Toh, mereka juga saling mencintai, kan?

Namun memang benar kata orang, kebahagiaan itu ialah semu. Awalnya, Men Putung harus mendesak Pan Ludi untuk segera mengenalkannya kepada keluarga Pan Ludi dan menikahinya, karena sikap laki-laki itu benar-benar berubah drastis, terlihat sering sekali gelisah setelah Men Putung mengabarkan berita kehamilannya. Ketika akhirnya Pan Ludi mengenalkan Men Putung kepada keluarganya, di situlah Men Putung mengetahui bahwa sebenarnya Pan Ludi sudah memiliki satu orang istri dan dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Di situlah Men Putung merasa dunianya runtuh karena dikhianati. Men Putung tidak pernah tahu bahwa Pan Ludi memiliki wanita lain di hidupnya. Lagi pula, Pan Ludi tidak memakai cincin ketika mereka pertama kali berkenalan.

Pan Ludi pada awalnya benar-benar kelabakan untuk mengatasi masalah yang datang menghampirinya. Namun, demi memperjuangkan cintanya dengan Men Putung, Pan Ludi berusaha membujuk istri pertama dan keluarga besarnya untuk menerima Men Putung sebagai bagian dari mereka. Tidak ada yang tidak sakit hati dengan perbuatan Pan Ludi, tetapi toh nasi sudah jadi bubur. Setelah Pan Ludi berdiskusi panjang dengan istri pertama dan keluarga besarnya, mereka sampai pada sebuah kesepakatan.

“Jika kamu memang benar-benar ingin mempersuntingnya, ada satu syarat yang harus kamu penuhi. Kamu tidak boleh memiliki keturunan dari perempuan itu dan jangan sampai dia tahu tentang hal ini.”

Pan Ludi pusing tujuh keliling. Jika itu syarat yang harus dia penuhi, itu berarti dia harus menggugurkan kandungan yang ada di perut Men Putung. Apakah dia tega untuk menghabisi darah dagingnya sendiri? Pan Ludi hanya memberi tahu Men Putung kalau mereka bisa menikah dengan syarat, tetapi tidak memberi tahu secara gamblang syarat apa yang harus mereka penuhi. Jelas saja Men Putung merasa bahwa dia masih memiliki harapan. Akan tetapi, setelah mengalami kejadian mengerikan itu sendirian, tepat setelah Pan Ludi membawakan makanan untuk dirinya, Men Putung tahu bahwa itulah syarat yang harus dia penuhi, dan yang menghabisi benih di perutnya adalah bapaknya sendiri. Meski begitu, rasa cinta Men Putung masih lebih besar darip[ada rasa benci dan jijiknya karena Pan Ludi sudah menghabisi darah dagingnya sendiri.

Men Putung bukan putung karena mandul, tetapi karena dia dipaksa putung. Namun, julukan putung ini diberikan karena rumor yang mengatakan bahwa dia mandul. Suaminya sama sekali tidak pernah membantah hal tersebut. Men Putung hidup dengan julukan negatif sejak dia pindah ke kediaman Pan Ludi yang sebenarnya, dan julukan itu benar-benar diturunkan ke para generasi berikutnya di desa tempatnya tinggal.

Pertemuan yang Men Putung kira akan membuatnya bahagia, malah berbalik membuatnya hidupnya dipenuhi sengsara. Suaminya tak pernah peduli dengannya selama menikah. Haruskah dia menghabisi nyawanya sendiri dan menyusul darah dagingnya yang kini mungkin sudah berada di surga?

***

Siang ini, warga desa, digegerkan dengan kabar bahwa Pan Ludi sudah wafat. Sebenarnya, bukan kabar wafatnya Pan Ludi yang membuat geger, tetapi kabar bahwa Pan Ludi memberikan seluruh harta warisannya baik berupa uang, emas, dan tanah kepada seorang petani muda bernama Dawan yang belum lama ini membantu Pan Ludi untuk menggarap sawahnya setelah Men Putung meninggal. Tidak ada satupun yang tersisa untuk istri dan anak laki-laki pertamanya.3

Bagaimana tidak, seharusnya yang mendapat harta warisan itu adalah istri pertama dan anak laki-laki dari istri pertamanya, Ludi, berhubung Men Putung sudah meninggal dunia akibat gantung diri di kamarnya. Pan Ludi sudah lama sakit-sakitan, dan yang setia merawatnya adalah Men Putung, semua warga desa mengetahui hal itu. Istri pertamanya malah sibuk berfoya-foya dan meninggalkan keluarganya. Mereka kira yang akan pergi duluan adalah Pan Ludi, tetapi tebakan mereka meleset jauh. Men Putung lah yang pergi lebih dulu dan tidak ada yang mau membantu mengurus jasadnya, takut tertular nasib putungnya kata mereka. Akhirnya, Sari, anak tirinya lah yang mengubur ibu tirinya itu di tanah belakang rumah tanpa prosesi upacara ngaben karena tidak tega dengan nasib ibu tirinya yang terlalu sengsara. Ini semua adalah salah bapaknya.

Istri pertama Pan Ludi alias Men Ludi, merasa tidak terima karena petani muda itu bukanlah siapa-siapa dan tidak jelas asal-usulnya. Dawan hanyalah seorang petani muda yang dibawa oleh Jero Mangku[6] Begawan untuk membantu karena tidak ada lagi yang bisa menggarap sawah milik Pan Ludi. Selain itu, Jero Mangku mengatakan bahwa dia memang sengaja membawa Dawan agar anak itu memiliki kegiatan dan tidak bosan di rumah. Sejak hari pertama bekerja, Dawan memang petani yang pintar dan bijak, serta pekerja keras. Pan Ludi sangat menyukai cara kerja Dawan, dan sejak saat itu Pan Ludi sudah menganggap Dawan sebagai anaknya sendiri. Memang, semasa Pan Ludi masih hidup, Dawan lah orang paling dekat dan selalu merawat Pan Ludi, tetapi itu tetap tidak adil karena Men Ludi dan Ludi lah selaku keluarga kandung yang berhak dengan seluruh harta itu.

“KENAPA BISA DIA YANG DAPAT!? MANA BAGIAN UNTUKKU DAN ANAK LAKI-LAKIKU!? APA SURAT WASIATNYA TIDAK SALAH!?” Men Ludi berteriak histeris.

Dawan berada di rumah Pan Ludi dan menonton semua keributan itu dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya, bersikap santai. Dalam hati, Dawan tertawa melihat perpecahan akibat bapak brengseknya itu bersikap sangat egois; menghamili ibunya ketika dia sudah memiliki seorang istri dan anak. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya anak kandung Men Putung masih hidup, bahwa sebenarnya Men Putung tidaklah putung. Dia punya satu anak laki-laki yang akan membalaskan dendamnya.

“Dawan, bukankah aku hanya menyuruhmu untuk mengambil harta bapakmu? Kenapa kau juga membunuhnya? Aku menyelamatkanmu saat masih berbentuk gumpalan daging dan memasukkanmu ke kendi agar kau bisa tumbuh menjadi anak yang baik, kenapa kau malah jadi seorang pembunuh?”

Tidak ada yang tahu jika Dawan sebenarnya merobek surat wasiat yang asli dan menggantinya dengan surat wasiat yang memuat namanya serta memalsukan tanda tangan bapaknya sendiri. Tidak ada yang tahu bahwa Dawan memiliki akses untuk memasuki semua ruangan yang ada di rumah bapaknya.

Pekak ne kenken sihNgerti bedik ajak perasaan Dawan.[7] Aku mengambil harta bapakku karena dia sudah merenggut harta satu-satunya di hidupku, yaitu ibuku. Aku hidup tanpa kasih sayang ibuku meski aku bisa melihat hidupnya yang kehilangan arah.  Pekak kira aku bisa memaafkan bapakku begitu saja ketika aku mendengar cerita hidup ibuku lewat pekak? Aku membunuh bapakku karena dia menjadi penyebab kematian ibuku. Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa.

-TAMAT-


[1] “Mbok, saya kan warga baru di desa ini, saya penasaran, Pan Ludi itu sebenarnya berapa punya istri?”

[2] “Dua. Istri pertama namanya Men Ludi, punya anak namanya Ludi sama Sari. Istri nomor dua namanya Men Putung.”

[3] “Yih, kenapa bisa putung (orang yang tidak punya anak/keturunan berhenti di orang tersebut) istri nomor dua?”

[4] “Istri pertama sih bilang ke aku, istri kedua itu nggak bisa punya anak, mandul katanya.”

[5] “Bih, beruntung banget dong Men Putung, nggak punya anak tapi Pan Ludi tetep mau sama dia. Nggak perlu menghasilkan apa-apa tapi bakal tetep dapet warisan. Pan Ludi kan kaya, banyak dia punya tanah, di mana-mana. Siapa juga yang mau sama perempuan yang nggak bisa punya anak?”

[6] Orang suci (pemuka agama) dalam agama Hindu di Bali

[7] “Pekak (Kakek) ini bagaimana sih? Ngerti sedikit sama perasaan Dawan.”

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami