Menagih Dulla Nyabis

Oleh: Mustofa

Tidak hanya ibu, tetapi juga kakak dan para sepupunya telah sepakat menagih keputusan Dulla. Amat bisa perempuan itu bertekuk lutut atau dibuat tidak laku. Namun, Dulla tetap menggeleng. Dia beralasan, bagaimana kalau ajal datang dan mati di rumah dukun? Apa kata berita? Seorang guru ngaji ditemukan tewas di rumah ahli sihir. Berencana guna-guna perempuan, malah bernasib nahas, apa kata Tuhan?

***

Kenapa bisa begini? Pikir Dulla. Padahal, selama taaruf tiga bulan terakhir, pertemuan dengan perempuan itu sudah tiga kali banyaknya. Keduanya sudah sama-sama sepakat, merencanakan kehidupan rumah tangga yang seperti apa kedepannya. Barang yang dibawa untuk meminang pun, atas persetujuan si calon perempuan itu. Berangkat dengan tradisi suku jawa khas Jember: sekilo gula, sekilo kopi dan setandan pisang raja.

Dulla berangkat dengan riang bersama rombongannya ke Lumajang, bercanda dengan sahabat yang mengantarnya meminang. Tetapi Dulla pulang dengan muka tertunduk. Diamnya, dibarengi tatapan kosong ke arah kaki. 

Pasalnya, paman yang menjadi pengadhek[1] memutuskan cepat-cepat pulang. Si gadis ragu-ragu, katanya. Hal ini biasa terjadi, lantaran bukan cinta melainkan proses taaruf[2].

“Kamu tidak usah malu, Cong[3]. Justru keluarga perempuan yang coni[4],” hibur paman yang duduk di belakang kursinya.

“Kalau kamu mau, demi harga diri, sangat bisa kalau cuma membuat dia mengejar-ngejar kamu, Cong,” sahut ibunya yang duduk di sebelah paman.

“Itu syirik, Mak,” jawab Dulla singkat.

Pantang baginya sebagai guru ngaji melakukan kemungkaran sebesar itu. Walaupun malu- meski yang coni sejatinya pihak perempuan, status keimanannya tidak akan pernah ditukar kesesatan. Lagipula dia tidak cinta. Hanya karena masih satu rekan kerja dan kepala sekolah yang mengenalkan, jadilah keduanya bertukar proposal.

***

“Coba nyabis[5], Cong. Kamu tidak pernah nyabis masalahnya. Walaupun cuma sekali seumur hidup, datangilah kiai,” ujar pamannya setiba di rumah. Satu-satunya lelaki di keluarga yang didengar wejangannya. Ayah Dulla telah lama wafat, sejak dia masih berusia 10 tahun.

Perintah apalagi ini? pikirnya. Dulla tidak menggeleng, juga tidak mengangguk untuk wejangan itu. Menurutnya, nyabis seperti meminta doa keberuntungan. Sebuah tradisi yang dibawa nenek moyang suku Madura untuk mengharap berkah, ketika bertemu kiai di pesantren. Bedanya, masyarakat pandalungan[6] nyabis kepada macam-macam kiai. Di daerah pandalungan, Kiai tanpa punya pondok pesantren pun boleh. Misalnya guru ngaji sepuh yang taat beribadah.

Terkadang, Dulla menyaksikan sendiri orang-orang nyabis kepada siapa saja yang  lumrah dipanggil kiai. Seperti yang dia ketahui, orang-orang sepulang nyabis banyak yang memperoleh secarik kertas dari kiai, untuk ditaruh di dompet. Gara-gara itu, Dulla menyebutnya dukun berkedok tokoh agama. Itulah yang membuatnya tidak pernah nyabis seumur hidup. Tidak seperti paman dan orang-orang di sekitarnya. Sedangkan pamannya sudah berganti-ganti kiai.

Sewaktu Dulla masih SMA 10 tahun lalu, pamannya bepergian jauh ke Situbondo menemui kiai yang punya karamah. Dulu paman memiliki penyakit yang tidak diketahui secara medis. Karamah dari kiai itu adalah membaca doa-doa yang diajarkan nabi, meniupkan doa itu ke bejana berisikan air yang akan dicampur dengan air untuk mandinya paman. Doa-doa dari ayat suci juga mustajab. Terutama soal jodoh. Sayangnya, kiai itu sudah wafat.

Pamannya nyabis ke kiai pesantren dekat rumah setelah wafatnya kiai Situbondo itu. Namun, kiai di pesantren dekat rumahnya itu spesialis membuat laku dagangan. Sementara paman bukan pedagang. Sekitar tiga tahun kemudian, berdasarkan usul seseorang, paman pindah nyabis ke kiai yang tahu arti mimpi. Sebelas kilometer ke arah barat dari rumahnya, beda kecamatan.

Kiai penakwil mimpi itu juga mengajarkan berdagang. Tafsiran mimpi dari kiai menunjukkan bahwa paman cocok beternak kambing. Paman yang mulanya bukan pedagang jadi senang berbisnis dengannya. Setiap enam bulan sekali, kambing jantan di rumah kiai dijual dan dibelikan anak kambing, sisanya bagi hasil. Kini ada lima ekor kambing milik paman di kandang kiai.

“Hanya melalui mimpi, kiai bisa tahu mana yang cocok dan mana yang harus dihindari olehmu. Setelah kamu ceritakan perihal mimpimu, kiai akan masuk ke kamar sebentar. Setelah keluar kamar, dia akan menjelaskan arti mimpimu. Mimpi apapun itu. Sewaktu nyabis nanti, ceritakan saja. Semua ada artinya,” ujar pamannya lagi.

Dulla tetap tidak tertarik nyabis disana. Namun, wejangan paman tidak bisa dianggap angin lalu. Dia akan ditanya melulu. Esok hari, lusa bahkan hari-hari berikutnya. Sampai seminggu sejak wejangan itu, tawaran paman belum ada jawaban. Sedangkan omongan tetangga mulai memanaskan keningnya. Dulla dianggap angkuh, seperti menganut aliran agama yang anti sowan ke kiai. Saudara-saudara sepupulah yang membongkar aibnya ke tetangga, dengan dalih keceplosan.

Demi melepas penat dunia kerja dan rehat dari mendengar cibiran, dia pergi ke rumah temannya. Sepulang kerja sore hari, dia langsung menuju rumah sahabat yang mengantarnya melamar. Dia akan pulang agak malam- cukup malam bagi tetangga penebar gibah. Sehingga tetangga enggan berbibir manis di hadapannya, yang selalu ingin tahu langkah mana yang dipilih Dulla- nyabis atau bermain jampi-jampi.

“Terus terang, aku juga nyabis, Dul. Setelah menikah, aku bertamu ke rumah Habib Idris bersama istri. Mau bagaimana lagi? Istriku orang Madura, sudah pasti aku ikut tradisi mereka. Tidak ada secarik kertas yang disuguhkan untuk disimpan di dompet, seperti yang kamu ceritakan. Tidak semua kiai yang tidak punya pesantren melakukannya.”

“Tapi wajar, kan? Aku masih takut salah kiai. Bahkan sampai minta bantuan doa segala dan mendapat amalan tertentu dari kiai. Iya kalau sesuai ajaran nabi. Kalau tidak? Yang Maha Mendengar sebegitu tidak maukah, mendengar langsung doa hamba-Nya? Sampai-sampai doa ditulis oleh kiai di secarik kertas dan disimpan di dompet. Apalagi sekarang marak-maraknya, orang dengan gampangnya mengaku kiai.”

“Sama sih, awalnya aku juga berpikir begitu,” tanggap sahabatnya.

“Setelah mendapat wejangan dari mertua, aku baru tahu seperti apa sesungguhnya makna dari nyabis itu. Intinya kita bersedekah kepada ulama yang berdakwah tanpa pamrih. Pahalanya seperti membelanjakan harta kita di jalan Allah,” imbuh sahabat.

Dulla membenarkan ucapan sahabatnya. Bagaimanapun, hidup harus terus bergerak. Dia pulang dari rumah sahabatnya dengan pikiran lebih tenang dan yakin. Meskipun dia masih belum memutuskan tawaran paman untuk bertamu ke kiai penakwil mimpi atau tidak. Belum pula memutuskan kapan nyabis.

***

Dulla belum jera mencari wanita jalur taaruf. Namun, tidak lagi melalui kepala SMP swasta tempatnya mengajar melainkan menghubungi kepala TPQ[7]. Dulla telah memaafkan perempuan yang mendustakan janjinya. Meskipun masih terasa sakit di dadanya bila mengenang peristiwa enam bulan lalu atau sewaktu berpapasan di tempat kerja.

Dulla memutuskan dengan yakin untuk pergi nyabis. Dia nyabis ke Habib Idris sesuai saran sahabat. Setidaknya, keluarga serta tetangga yang baik hatinya tidak perlu menagih jawabannya lagi. Keesokan harinya, Dulla diantar sahabatnya meminang perempuan di daerah pusat kota Jember. Sewaktu taaruf, dia hanya bertemu satu kali dengan calon. Tetapi visi misi pernikahan calon membuatnya jatuh hati. Mereka ada kesamaan, ingin membangun keluarga Qurani, yang keturunannya berusaha dijauhkan dari amalan syirik.

“Kami sangat senang, Nak Dulla datang dengan niatan serius, meminang anak bungsu kami. Pisang raja ini menandakan pemimpin yang siap mengarungi kehidupan. Kopi dan gula yang dibawa, berarti siap menelan pahit manisnya berumah tangga,” ujar ayah perempuan yang akan dipingit itu.

Acara lamaran lancar, paman pun senang menjadi pengadhek yang berhasil. Sebagaimana perannya sebagai pengadhek putranya dan keponakan yang lain. Dulla dan perempuan itu duduk di singgasana pelaminan, dua bulan setelah acara pinangan. Prasangka Dulla menjadi rancu, ini semua karena berkahnya nyabis ke Habib Idris atau sudah suratan takdirnya berjodoh? Tetapi dia tidak lagi ambil pusing prasangkanya itu, ketika melihat paman dan ibunya amat bersyukur.

Sebulan penuh Dulla menikmati kebahagiaan hidup baru. Tetapi di bulan berikutnya, ada kabar yang tidak enak baginya. Kiai tempat pamannya nyabis telah pergi. Kandang kambingnya telah kosong. Tidak ada lima ekor kambing milik paman di sana.

***

Ketika bertanya kepada orang-orang sekitar, mereka tidak tahu kemana perginya. Rumah itu hanya rumah kontrakan, bukan hak milik kiai. Bahkan tetangga kontrakan, baru tahu kalau orang-orang yang sering bertamu, bukan hanya jual beli kambing saja. Sampai pemilik rumah kontrakan menemui Dulla dan pamannya. Pemilik kontrakan memberi keterangan kalau penakwil mimpi gadungan itu sekarang merantau ke Malaysia. Saat pemilik kontrakan bersih-bersih, ada barang milik orang itu yang ketinggalan. Salah satunya kitab tafsir mimpi karya Muhammad Ibnu Sirin[8], yang ditemukan  di dalam kamar.

Bondowoso, 11 Juni 2023


[1] Juru bicara.

[2] Proses cari jodoh melalui proposal yang memuat foto, biodata dan kriteria.

[3] Nak (anak).

[4] Sangat malu (bahasa khas suku Madura di Jember).

[5] Sowan ke kiai, agar mendapatkan keberkahan atas suatu hajat. Masyarakat memberikan sejumlah uang di dalam amplop kepada kiai dengan cara berjabat tangan (bersalaman).

[6] Berbaurnya suku asli (jawa) dengan suku pendatang (madura) sehingga tradisi tiap-tiap suku saling bercampur. Tetapi mayoritas orang Madura tinggal di daerah Jember bagian utara.

[7] Tempat Pengajian Quran.

[8] Salah satu ulama di masa Khalifah Utsman bin Affan, tetapi hingga saat ini karyanya sering disalahgunakan oleh oknum.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami