Muhamad Miguel Adrian Pasha

Mengubah Aliran Waktu Di Kala Pandemi

Persepsi akan bagaimana waktu bergerak berubah dikarenakan pandemi yang melanda seisi Bumi. Kita berharapmasa sulit ini akan cepat selesai agar kita dapat kembali berlari meraih jati diri. Sari pati kehidupan yang makin hari makin redup diserap oleh Bumi dan seisinya. Lalu, manusia mungkin bertanya kenapa alam bertindak sedemikian rupa hingga memberikan sebuah cobaan yang teramat berat hingga mengubah aliran waktu di kehidupan kita. Akal pikiran pun dipaksa untuk bergerak dengan kecepatan waktu yang tidak menentu di kala pandemi ini.

 

Sebuah waktu dimana perjalanan jauh terasa sangatlah cepat. Kala ini, rasanya kita hanya bisa terbaring lemah lesu tanpa daya untuk berpikir atau bertindak. Sebuah tempat yang dijaga oleh dua malaikat pelindung, terjaga setiap malam, dan terbangun ketika kita terbangun. Terkujur tubuhnya terbaringdibawah langit-langit yang menanti untuk digapai.Pagi dan malam berubah sesuka hati. Nuansa terbit dan terbenam matahari pun tiada arti.Alamsemestatidak memihak kepada siapa-siapa, dia bertindak semaunya, dan dia berada diatas segalanya.

 

Seorang insan yang tidak tahu pasti kenapa hari ini dia tidak bisa berlari untuk menggapai mimpi. Tidak pernah dia bayangkan suata saat nanti dunia akan berhenti terdiam tidak bisa bergerak seperti bagaimana mestinya. Ia terbaring diatas tanah pertiwi menanyakan kapan waktu akan berhenti. Di tengah pandemi ini banyak dari kita yang berusaha untuk mengisi hari-hari dengan aktifitas dibawah mentari pagi. Banyak sekali perubahan iklim yang terjadi sehingga kita tidak menyadari kalau siang hari sudah berubah jadi malam hari.

 

Covid-19 yang awalnya hanya isu belaka yang berubah menjadi malapetaka. Diawali oleh ketidakpedulian, dijalani dengan ketidakpastian, dan mungkinsaja diakhiri dengan kemusnahan. Hari berlalu sedemikian rupa diawal tahun 2020, lalu berubah menjadi sebuah arung jeram yang mengombang-ambing para pemimpi. Kesadaran akan kebersemaan hanyut dalam aliran kepanikan yang melanda membuat orang lupa akan waktu yang ada. Banyak cara telah dicoba bagi para pengejar asa untuk mengembalikan ini semua menjadi semula. Banyak dari kita yang sudah kehilangan rasa untuk berbicara karena tidak jumpa dengan sesama manusia.

 

Apa yang menimpa kita semua termasuk dalam kategori bencana alam yang tidak terdugatapi dapat kita terka. Waktu kita untuk mencegah sudah tiada dan sekarang waktunya untuk siagadan menjaga. Jangan biarkan waktu yang kita punya terbuang oleh kemauanan perorangan. Waktu berjalan dengan kecepatan yang berbeda untuk segelintir orang. Ada yang sudah tidak terima akan apa yang terjadi dengan mereka, dan masih ada yang berusaha untuk melalui semua ini bersama-sama. Semuanya kembali kepada kita untuk melihat bencana ini dari sisi yang mana. Alam berusaha untuk memperbaiki dirinya, dan dia tidak mempunyai rasa akan tindakannya. Apa yang menimpa kita bukanlah kebetulan belaka, tetapi kepastian yang terjadi akan ketidakpeduliaan yang sudah lama dihiraukan.

 

Secara nalar kita berusaha untuk menggapai arti dan makna dari kejadian yang melanda umat manusia, tetapi waktu untuk itu tidaklah ada. Sekarang hanya ada memikirkan bagaimana kita semua dapat melaluinya dengan bersama. Perjalanan yang kita lalui sudah cukup panjang, walaupun tidak semua dari kita berjalan dengan kecepatan yang sama. Pengertian akan jarak dan waktu tersatukan dengan keterbatasaan pikiran yang kian hari kian merana. Satu per satu invidu mulai mengadu teori-teori pemicu pandemiuntuk meluangkan waktu. Hal ini dipicu oleh bertebarnya informasi dari segala penjuru melaju dengan kecepatan cahaya.

 

Apa yang diperbuat oleh manusia kepada alam terkadang tidak lekang dari waktu. Bukti sejarah yang terpapar kepada semua golongan membuktikan kalau pandemiini juga termasuk perbuatan alam kepadamanusia. Walaupun tidak semua orang di dunia dapat mempercayai fakta itu, kita tetap bersatu membahu mengatasi satu per satu masalah baru. Terkadang pula masalah yang muncul bukan dikarenakan karena penyakit Covid-19 itu sendiri, melainkan masalahnya datang dari orang yang tidak terjangkit. Orang-orang diseluruh penjuru negeri berdiri berharap satu hari dimana pandemi ini akan diakhiri.

 

Waktu memang tidak bisa dirasakan dan dilihat, kadangkala dia pergi tanpa sepengatahuankita, dan kadang juga dia terikat kepada jiwa dan raga kita. Covid-19 telah mengubah esensi waktu dalam kehidupan sehari-hari kita semua. Kita semua harus memikirkan apa yang harus kita lakukan dengan semua waktu yang kita punya. Dan juga, apa yang akan kita relakan demi waktu yang tersisa bagi yang mempunyai waktu terbatasdi dunia. Sangatlah mulia bagi yang dapat mengatur waktu sedemikian rupa agar orang yang tertimpa bencana dapat menikmati hari tuanya.

× Hubungi kami