Musiyam Menelan Rembulan

Oleh: M. Isnaini Wijaya

Berkali-kali Musiyam berpikir, bagaimana cara menghilangkan hari raya dari kalender. Berkali-kali Musiyam seperti terjerang api, jika gema takbir mengetuk gendang telinganya. Seperti saat ini. Keringat berleleran dari sekujur kulit dan matanya. Di pembaringan tempat tidur, ia miring ke kanan, lalu ke kiri, ke kanan lagi, ke kiri lagi. Berulang-ulang seperti itu. Bahkan, denyut jantungnya menggetarkan ranjang. Bahkan lagi, jika boleh dan jika bisa, Musiyam ingin menelan rembulan, supaya 1 Syawal tak kunjung datang.

Ketika bunyi takbiran masih menggema keras, Musiyam mengetuk kulit Karbit, suaminya, pelan. Karbit telah tidur paling tidak dua jam lalu. Tapi, lain kepala lain soal. Musiyam tak bisa memejamkan kelopak matanya tanpa dibayang-bayangi hari esok.

“Pak, besok gimana?” Musiyam memandangi punggung suaminya. Suaminya hanya meng-oh belaka. Barangkali tak dengar. Lalu pelan, pelan sekali, Musiyam mengusap punggung suaminya yang kasar terjerang matahari.  

Derit ranjang kayu lapuk menggantikan talu beduk sebentarKarbit terbangun lalu memandangi Musiyam. Mata Karbit bertanya ada apa, maka Musiyam mengulangi pertanyaan yang tadi ia utarakan.

Bila tadi talu takbiran diselingi riak kayu bergesekan, sekarang diiringi suara desah sekaligus resah dari mulut Karbit. Karbit tak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Ia hanya melingkarkan tangannya, menangkal resah sebisanya. Tapi, bukan itu yang diinginkan Musiyam. Ia yakin, yakin sekali, kalau besok, ketika hari raya tiba, dirinya akan dihujani macam-macam pertanyaan oleh ibu-ibu yang mulutnya lebih bocor dari kran air. Tiba-tiba, keringat merembes dari kelopak matanya. 

“Sudah, Bu, sudah,” kata Karbit. Ia bingung memandangi istrinya bercucuran air mata. “Kita sudah berusaha. Besok kita hadapi sama-sama, Bu.”

Air mata Musiyam semakin mengalir deras. Berkali-kali tangannya mengusap perutnya, kadang memukul-mukul, lalu meratap-ratap, “ini kenapa kok bisa kering, Pak. Apa salahku, Pak.”

Sawal bantalnya basah kuyup. Kalau sudah begitu, suaminya tak bisa berbuat banyak. Karbit hanya memegangi tangan Musiyam, mengelus pelan, membiarkan Musiyam diserang kantuk hingga matanya capai dan tertidur. Tapi kali ini tidak seperti itu. Musiyam mereda. Ia membiarkan suaminya tertidur lagi, lalu pelan-pelan, ia meninggalkan ranjang lapuk menuju suatu tempat yang bakal membungkam mulut para tetangga.

***

Bukan barang anyar, bila hidup di desa dinding-dinding bisa menguping. Dulu, sebelum menikah dengan Karbit, Musiyam dibilang bakal jadi perawan tua. Itu tak lain karena badan Musiyam begitu gembrot. Orang-orang bilang, siapa yang bakal mau dengan perempuan yang badannya melar seperti ban truk. Apabila hari raya tiba, dan Musiyam anjangsana di rumah-rumah tetangga, di dalam batin Musiyam, ia hujani kutukan tetangga-tetangga yang mengatakannya seperti itu. Tapi, ia sebisa mungkin tak menanggalkan bulan sabit  pada mulutnya. 

Tuhan membenamkan matahari lebih sering. Kuping Musiyam serasa sudah tebal dengan racauan tetangga yang menyebalkan. Tapi, nasib selalu berkata lain. Saat itu, Musiyam sudah menikah. Di hari raya pertama ketika Musiyam telah menikah, ia banjir ucapan selamat. Sembari bercanda, tetangga-tetangga Musiyam bilang kepada Karbit, suaminya. Macam-macam yang dibilang. Seperti, 

“Selamat, Nok, untung ada Karbit, kalau tidak…” Tetangga itu tak meneruskan.

“Bersyukurlah kamu, Nok, ada jejaka yang mau dengan kamu,” kata tetangga yang lain.

“Yam, bagi resepnya biar dapat lelaki gagah seperti suamimu, dong!

Atau, yang lebih parah, “Bapaknya gagah seperti ini, nanti anaknya niru siapa, ya?”

Tetangga-tetangga itu mengucapkan yang demikian sembari tersenyum-senyum. Musiyam tahu, tahu belaka, kalau mereka hanyalah bercanda. Tapi, hatinya kepalang gondok. Hatinya kepalang menyimpan bara api, sementara mulut-mulut tetangga itu justru seperti menyiramkan minyak tanah. Musiyam berkobar di dalam. Tapi di luar, ia harus bisa tampil tepa selira. Sebagai wanita Jawa, ia harus bisa memahami dan memaklumi kalau yang demikian hanyalah bercanda.

Tahun berikutnya, ketika hari raya tiba, Musiyam tak juga dirundung senang. Ia justru gelisah. Sudah dua tahun ia menikah, dan tidak ada tanda-tanda berbadan dua. Musiyam hafal betul, kalau yang begini ini pasti bakal diurus oleh tetangga-tetangga itu. Maka, sejak tahun itu, ia mulai menangis ketika beduk ditalu dan takbiran dikumandangkan. 

Sebelum hari raya tiba, Musiyam sudah mengupayakan macam-macam hal supaya ia cepat berbadan dua. Ia tak berani bertanya kepada suaminya. Ia memilih diam dan menelan segala resahnya bersama derit ranjang. Di hari-hari itu, Musiyam selalu mengolahkan masakan berbau kecambah. Kalau suaminya bertanya macam-macam mengapa setiap hari hanya diberi sayur dan lauk kecambah, Musiyam enteng menjawab, untuk kesehatan. Sementara Karbit tak pernah tahu dan tak pernah mengerti, kalau Musiyam dihantam gelombang susah tak berkesudahan.

 Sayangnya, upaya makan kecambah setiap hari hanya menambah resah. Ketika di bakul sayur, Musiyam justru digoda macam-macam.

“Yam, kok tiap hari membeli kecambah?” Suatu kali tetangganya menggoda seperti itu.

Musiyam hanya mesem. Ia tak boleh membuka aib rumah tangganya. Kewajibannya sebagai wanita Jawa yang mikul dhuwur mendhem jero haruslah ia tunaikan. Selama ini ia hanya mengira-ngira, apa yang  perlu dibenahi dari tidurnya dengan suaminya. Atas dasar pikiran yang sederhana dan omongan orang-orang dulu, kalau kecambah mempunyai kasiat untuk membikin tidur pria menjadi prima, Musiyam melakukannya. Akan tetapi, lama-kelamaan membeli kecambah hanyalah menimbulkan denging kuping. Musiyam mencoret kecambah sebagai alternatif supaya lekas berbadan dua.

Hingga tibalah di tahun ke tiga pernikahan. Dari mulut-mulut yang meleter mencibir sekaligus memberi saran, Musiyam diarahkan untuk ke dukun pujan. Dukun spesialis mengatasi rahim kering kerontang. Awalnya, Musiyam tak menyangka bahwa yang bermasalah dalam rumah tangganya adalah badannya sendiri. Ia hanya mengira jikalau suaminyalah yang kurang prima. Di dukun itu, barulah Musiyam diberi tahu oleh dukun pujan bahwa rahimnya telah kerontang. Sekonyong-konyong ia layu seperti kangkung terjerang air. 

“Tak perlu susah, Nok,” kata dukun itu memulai. Ia melihat kalau Musiyam seperti bayam yang telah tercerabut dari akarnya. “Aku ada solusi.” Dukun pujan menahan perkataannya. 

Musiyam dan Karbit saling pandang. Kelayuan menguar. Tapi, mereka segera dirundung tanya. Solusi macam apakah yang ditawarkan dukun pujan.

Dukun pujan menangkap kebingungan itu, lalu ia bilang, “Aku bisa memindahkan janin yang ada di perut orang lain ke dalam perutmu, Nok.

Mendengar itu, Musiyam seperti ikan pindang dilolosi tulang-tulangnya. Karbit tak kalah mencolos. Mereka saling pandang lagi. Adakah jalan yang tak lebih terjal dari yang ada di depan matanya sekarang? Pikir Musiyam tak ada. Maka ia lekas mengangguk. Ia siap menanggung apapun asal rahimnya yang kering bakal terisi bakal bayi.

Musiyam dan Karbit diberi petunjuk-petunjuk apa saja yang harus ia lakukan. Mulai Karbit yang harus bersedia tidur di bawah pohon keduh paling besar di desanya hingga menyembelih ayam cemani. Semua-muanya dilakukan Musiyam dan Karbit. Mereka tak merasa takut sejengkal pun, meski sebenarnya, di jantung terdalam Musiyam bergejolak bilang tidak. Tapi keinginan lebih besar dari ketakutan. Mereka memenuhi syarat-syarat yang diberikan dukun pujan. Dan sampailah, setelah berhubungan dengan dukun itu, paling tidak, dua bulan, perut Musiyam mulai berisi. Kondisi yang demikian membikin Musiyam senang bukan kepalang. Ia dan suaminya merasa bahwa kebahagiaan sedekat api dengan panasnya. Karena mereka bahagia, orang-orang segera ikut bahagia. Orang-orang itu seperti mengamalkan pepatah: kalau orang lain bahagia, haruslah ikut merasa bahagia.

Di hari raya tahun ketiga, mereka seperti pasangan ketiban pulung. Tidak ada kebahagiaan yang mengalahkan rasa bahagianya Musiyam dan Karbit. Tetapi, kebahagiaan itu, di tanggal yang tak ada dalam kalender muspra pula. Perut yang selama ini seperti mengandung bayi tiba-tiba kempes.

Musiyam awalnya merasa tak ada yang aneh. Hingga ketika pagi masih merayap pelan-pelan, dan ia bangun dari tidur nyenyaknya, tangannya tak sengaja mengurapi perut. Ia kaget bukan kepalang. Perutnya kendur seperti beberapa bulan lalu. Ia berteriak nyalang senyalang lolongan serigala hutan. Suaminya, yang masih lelap segera tercerabut dari mimpinya. Karbit terlonjak kaget. Yang tak kalah mengagetkan ketika ia pandangi perut istrinya. Karbit meraba-raba, mencari-cari, di mana janin yang dikandung istrinya selama ini. Sekonyong-konyong, tanpa meminta banyak pertimbangan, ia pergi menemui dukun pujan. Sesampainya di sana, ia dibikin lemas tanpa tulang. Dukun pujan telah mati. Dan ia tak punya pilihan selain pulang dengan pundak yang lebih rendah dari dada. 

Musiyam mengalami rasa yang tak bakal dirasakan oleh orang manapun. Ia pupus harapan. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan, Musiyam tak keluar rumah. Ia tak belanja sayur, tak menyapa tetangga, tak melakukan apa pun selain rebahan di ranjang. Karbit tak berani memberi saran. Ia membiarkan istrinya seperti itu. Mungkin laki-laki cepat lupa akan nestapa yang selama ini ditanggung karena beratnya pekerjaan. Tapi, Musiyam tidak, ia selalu mengingat-ingat, meraba-raba, mengusap-usap perutnya. 

Berita tak keluarnya Musiyam pada akhirnya menjalar. Tetangga-tetangga merasa perlu untuk tahu kenapa Musiyam tak pernah keluar. Waktu mengandung Musiyam juga telah lewat tanggalnya. Mereka perlu tahu apa yang terjadi pada keluarga Musiyam dan Karbit. Dari kuping ke kuping, akhirnya tahulah mereka bahwa bayi yang dikandung Musiyam telah hilang. Di tempat penjual sayur, serasa tak ada berita yang tak lebih enak dibicarakan selain Musiyam.

“Kok bisa ya bayi di dalamperut hilang?”

“Ya bisa saja, Yu. Apa yang nggak bisa di dunia ini.

“Kok bisa, ya?” Orang yang pertama bertanya masih mengulangi pertanyaan yang sama. Sambil mengawang-awang apa yang telah terjadi pada Musiyam.

“Ya, kalau memperoleh bayinya dengan cara nggak benar, hasilnya kayak begitu.”

“Memang kamu tahu gimana Musiyam kok bisa hamil.”

Ibu-ibu itu semakin merapat dan lirih. Mereka meng-oh ketika salah satu dari mereka membeberkan apa yang dilalui Musiyam. Tak ada lagi penasaran. Beli sayuran menjadi kegiatan paling seronok saat itu. Pertanyaan mereka sudah terjawab tanpa perlu bertanya. Pada akhirnya kuping Musiyam panas. Ia tak tahan orang-orang selalu menyorot kehidupannya. Berbulan-bulan setelahnya barulah Musiyam berani keluar rumah. Itu tepat di tahun keempat pernikahannya.

Suatu kali, ketika Musiyam telah berani srawung dengan para tetangga, di tempat semuanya bermula, yaitu, penjual sayuran, Musiyam kembali mendapatkan solusi. Solusi gila barangkali.

“Yam, kamu pengen tahu bagaimana biar bisa punya anak lagi?”

Musiyam hanya mesem. Tapi hatinya digarami rasa ingin tahu. 

Lingga, Yam.”

Musiyam menoleh. Ia tak paham apa maksud dari lingga. Lalu orang yang memberinya solusi itu berbisik lirih, alat kelaminnya laki-laki tetangga. Musiyam terlonjak kaget. Ia cepat mengemasi barang belanjaannya dan surut pulang. Di perjalanan, Musiyam memikirkan solusi itu. Solusi gila, tapi, barangkali ia bisa mendapatkan momongan dari sana? Tapi, tidak, Musiyam tak ingin menodai hubungan kasih dengan suaminya. 

Telah lewat empat purnama, Musiyam masih digelayuti pikiran itu. Lingga. Hingga beduk ditalu dan suara takbiran mengetuk gendang telinga. Musiyam tahu, tahu belaka, kalau hari raya esok ia pasti bakal diloncati pertanyaan-pertanyaan menyakitkan hati seperti tahun-tahun sebelumnya. Maka, alih-alih tidur seperti suaminya, matanya justru lebar memandang hari-hari depan. Setelah dirundung bimbang dan nestapa, ia akhirnya memilih pergi ke tegal senggotan. Meninggalkan suaminya yang pulas tidur dan menenggelamkan kekhawatiran dalam lelap mata.

***

Di tegal senggotan, ia sudah tahu apa yang bakal ia lalui. Ia hanya perlu diam dan tak banyak tingkah. Di sana, sudah menunggu seseorang, yang beberapa hari ini dihubungi Musiyam.

“Cepatlah, Mas, mumpung takbiran, tak banyak orang menjenguk ladang malam-malam.”

Orang itu tertawa sebentar. Lalu Musiyam rebah. Ia memandangi langit bersih tanpa bintang. Musiyam hanya ingin punya momongan. Musiyam hanya ingin, mulut-mulut tetangga yang seperti kran bocor diam.  Musiyam hanya ingin, pisau-pisau yang mengiris perasaannya segera berlalu.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami