Ridho Adji Asshodiq

Namaku Sumarni dan Anakku Dua

        Tubuhku terasa sakit. Darah mengalir menemani malamku saat ini. Sakit sudah pasti. Namun aku sudah cukup terbiasa untuk ini. Menahan sakit yang teramat sakit. Menahan luka dan perih yang aku alami. Tak kupedulikan tubuhku yang lemas tak berdaya. Aku hanya bisa diam dan menikmati sakit ini yang juga pernah kualami dulu. Aku mendengar suara tangis bayi yang baru mengenal dunia. Hari ini, tepat pada tengah malam ini, pukul dua lebih tujuh menit. Bersama tangis untuk kedua kalinya aku mengalami itu dan mencurahkan sedihku saat melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki ini. Namaku Sumarni dan anakku dua.

Warga biasa memanggilku Mar. Aku sudah terbiasa mendengar panggilan itu. Bahkan dengan embel-embel yang sangat menyakitkanku. Namun tak mengapa, aku tak marah. Aku tinggal di sebuah hutan. Bersama sebuah gubuk sederhana, bersama sayuran di kebun yang kutanam, bersama sebuah pohon besar yang ada di muka halaman gubukku, bersama seorang putri cantikku dan kini aku mendapatkan seorang putra tampan yang baru saja lahir dini hari ini. Kali ini aku tak melahirkan seorang diri. Sebab ada Mbok Juminah yang dengan kebaikan hatinya mau menemani kesedihanku seraya membantu persalinan anak keduaku.

“Mbok Jum,” panggilku pada wanita tua berumur enam puluh sembilan tahun itu. “Mbok kalau sudah kembali ke desa nanti dicemooh warga gimana?” Tanyaku yang cukup khawatir padanya sembari memangku bayiku.

“Gak papa, ndok,” jawabnya singkat dengan hati yang ikhlas.

“Aku takut mbok nanti dihusir,” ucapku yang takut. Aku bersyukur kali ini mbok datang tepat waktu untuk membantu persalinanku malam ini, meski aku takut mbok akan dihusir.

“Kalo mbok dihusir ya, mbok tinggal sama kamu toh.” Jawabnya santai.

Aku menghela nafas. Sepertinya mbok cukup senang berada di sampingku. Aku tahu, sudah sekitar dua puluh tahun mbok hidup sendiri, menanam kangkung lalu menjualnya keliling desa. Suami dan dua putranya telah meninggal dunia saat merantau entah dimana.

Mbok Jum meninggalkanku. Ia pergi ke ruang depan ketika mendengar Susanti putri pertamaku yang menangis. Aku sangat menyayangi Nti, panggilku pada anakku ini. Meski sesungguhnya aku amat membencinya karena suatu hal. Namun aku tak kuasa untuk menyakitinya.

Terlebih sekarang ini aku telah kehadiran anak keduaku. Putra pertama dalam hidupku. Aku akan menamainya Sutomo. Doaku kelak ia akan segagah dan seberani Bung Tomo. Aku memang mengharapkan seorang anak laki-laki yang gagah dan berani. Mampu melindungiku dan kakaknya kelak. Meski sesungguhnya aku sangat membenci wujud seseorang laki-laki yang kuat. Sebab aku takut laki-laki yang kuat akan memakai kekuatannya untuk hal yang tidak sewajarnya dilakukan oleh seorang laki-laki.

Tiba-tiba Tomo menangis, entah mengapa. Mbok Jum yang mendengar Tomo menangis pun menghampiriku. Mengambil alih Tomo lantas menggendongnya. Dengan mengayunkan Tomo di lengannya, Tomo lantas terdiam dan nyenyak dalam tidurnya.

Mbok Jum duduk di sampingku. Menatapku sendu. Bola matanya menjelaskan belas kasihnya kepadaku. Mbok Jum adalah satu-satunya orang yang peduli padaku. Ia adalah wanita yang mungkin mengerti perasaanku. Matanya berlinang. Butiran air matanya makin menjelaskan tentang ia yang sangat mengasihaniku.

“Kamu enggak papa kan, Ndok?” tanyanya kemudian padaku.

“Enggak papa bagaimana Mbok?” Aku mengernyitkan dahiku seraya berpikir apapun.

“Ini sudah kedua kalinya kamu melahirkan begini. Enggak papa kamu Ndok?” Mbok Jum terlihat sangat mengkhawatirkanku.

“Ya Marni bisa apa, kalau Tuhan ngasih anak ke Marni dengan cara seperti ini. Marni pasrah saja. Melihat Nti dan sekarang ada Tomo, Marni rasa sudah cukup bahagia. Marni menganggap Tuhan kasih hadiah buat Marni agar tumbuh tua tidak sendirian.” Aku mencoba tampak bahagia. “Yang Marni khawatirkan sekarang adalah bagaimana nanti Mbok pulangnya? Marni takut warga malah murka dan mencemooh Mbok,” tambahku.

“Kamu gak usah khawatirkan Mbok, Mbok aman-aman saja. Lagian siapa yang mau menghusir Mbok yang sudah tua ini,” jawab Mbok dengan santai.

Persalinan malam ini dan pertanyaan Mbok Jum membuatku kembali teringat sekitar dua tahun lalu saat usiaku lima belas tahun. Ketika aku masih tinggal di desa bersama keluargaku. Aku seorang gadis muda yang tidak mengenyam bangku sekolah seperti gadis-gadis lainnya yang nampak elok dengan seragam sekolah mereka. Aku cuma mengenal bangku kelas tiga sekolah dasar sebelum aku akhirnya berhenti sekolah karena ibu dan bapakku membutuhkanku untuk membantu mereka berjualan demi mendapatkan uang. Tak masalah bagiku asal kehidupan keluargaku tidak terganggu oleh hutang saat itu.

Sampai pada akhirnya aku menjadi buah bibir di usiaku yang ke lima belas tahun ini. Tidak ada yang kuperbuat namun kabar memberitahukan bahwa aku telah menggoda anak kepala desa. Respon seluruh warga desa heboh saat itu. Sebab aku yang tidak berpendidikan berusaha menggoda anak kepala desa itu dengan kecantikanku.

Semua warga desa mengakui bahwa kecantikanku memanglah yang paling sempurna diantara semua gadis di desaku. Namun karena aku yang berasal dari keluarga miskin dan tidak mengenyam pendidikan, ketimbang pujian yang aku terima, lantas cacian dan makian yang aku terima. Mereka mengatakan bahwa kerjaanku hanyalah menggoda laki-laki di desa.

Aku sering difitnah menggoda suami orang, bahkan wajahku pernah ditampar oleh seorang ibu-ibu yang menuduhku berusaha memegang alat vital suaminya. Padahal sesungguhnya suaminya itulah yang tiba-tiba meramas pahaku. Aku berteriak karena terkejut, namun suaminya kemudian berteriak dan memarahiku. Dan kemudian istrinya segera menampar wajahku dan membuang kue daganganku ke tanah.

Kemudian kabar mengenai aku menggoda putra kepala desa sangat menghebohkan warga.  Aku sering dicaci, bahkan rumahku beberapa kali dilempari oleh tahi hewan. Alih-alih orangtuaku yang membelaku, mereka makin memfitnahku dan meninggalkanku. Mereka pindah kota karena merasa aku membawa sial dalam keluarga. Aku tak tahu kenapa hal mengerikan ini hadir saat aku mulai tumbuh dewasa.

Putra kepala desa adalah orang yang sangat terpandang karena keramahan dan kepintarannya, serta keluarganya yang kaya. Mas Jono, begitu panggilan warga kepadanya. Tak hanya ramah dan pintar, Mas Jono adalah sosok yang sangat tampan dan gagah. Ia sering dipuji oleh warga desa bahkan oleh desa lain karena kesempurnaan yang Mas Jono miliki. Sementara aku adalah gadis cantik yang miskin dan warga menuduhku selalu menggodanya. Demi mendapatkan hartanya.

Suatu ketika Mas Jono mendatangi rumahku. Saat aku akan sarapan pagi dengan sisa nasi semalam. Aku tak tahu tujuannya datang ke rumahku. Raut wajahnya tampak baik dan ramah padaku. Saat itu aku berharap bahwa ia akan membelaku untuk melawan kabar yang sesungguhnya dia tahu bahwa aku tidak menggodanya.

“Ayo,” ucapnya saat melihat wajahku. “Kamu kan suka dengan aku, ayo goda aku seperti kamu menggodaku saat itu, hingga kabar menjadi heboh dan membuatmu terkenal. Ayo goda aku lagi,” lanjutnya ia dengan tatapan aneh.

“Mas Jono, ada apa ini mas? Kenapa sampean datang ke rumahku dan bicara seperti itu?” tanyaku yang terkejut.

“Sudah, ayo.” Tangan Mas Jono meraih tangan kiriku dan seraya menarik paksa tubuhku ke dalam kamar.

Ia lantas melemparku dengan kekuatannya ke atas kasurku. Tubuhku terlungkup di atas kasur. Sambil menahan sakit di pergelangan tanganku akibat genggamannya yang sangat kuat. Aku ingin memarahinya namun tak sempat aku berbicara, tubuhnya telah siap mendekapku dengan keadaannya yang sudah bertelanjang dada. Saat itu aku merasa menjadi seorang wanita yang hina. Tubuhku kotor akibat dinodai oleh seorang laki-laki yang terpandang dan memiliki nama di desaku. Usianya tak jauh beda denganku. Baru tujuh belas tahun, dua tahun lebih tua dariku. Namun perlakuannya kepadaku tak menunjukkan bahwa ia masih seorang remaja belasan tahun. Dimana sikap ramah dan baik hati Mas Jono yang selalu di agung-agungkan warga desa?

Beberapa bulan kemudian aku pun mulai menyadari bahwa ternyata perutku mulai membesar dan tanda-tanda kehamilan pun aku alami. Kabar sangat cepat tersebar. Kabar mengenai aku yang tengah mengandung tanpa seorang ayah pun mulai memenuhi seluruh desa. Hingga suatu hari tiba, suara masa yang riuh berjalan dari kejauhan dan semakin mendekati rumahku. Rupanya mereka akan menghusirku dari desa. Dengan alasan bahwa aku gadis kotor dan tidak pantas untuk tinggal di desa ini sebab aku telah hamil di luar nikah. Dengan hati yang pasrah aku pun pergi.

Para warga menggiringku untuk masuk ke dalam hutan lebat tak berpenghuni. Cukup jauh masuk ke dalam hutan sehingga tak semua warga ikut untuk masuk. Hingga aku pun tiba di suatu gubuk sederhana yang usang. Gubuk itulah yang aku tempati hingga saat ini. Meski cacian, makian dan seruan kata-kata hina selalu menemani perjalananku ke dalam hutan, aku bersyukur bahwa para warga tidak menyakitiku dan memberikan tempat tinggal meski di tengah hutan dan tidak cukup layak dihuni.

Aku hidup sendirian di tengah hutan. Dengan usiaku yang masih lima belas tahun dan dalam keadaan hamil. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk kelahiran anakku kelak. Setiap malam aku menangis dan sangat ingin mengakhiri hidupku di dalam gubuk ini. Pisau bahkan kapak sempat ku ambil untuk memotong perutku untuk mengakhiri bayi ini dan diriku. Namun aku tak berani melakukan hal itu. Aku tidak ingin meninggal dalam keadaan yang sedih. Itu adalah satu janji yang selalu aku ucapkan.

Aku pun pada akhirnya melahirkan seorang diri. Menahan sakit sendirian dengan rasa ketidaktahuanku terhadap proses persalinan pertamaku ini. Dan tak kusangka ternyata seorang ibu-ibu tua datang menolongku. Ia adalah Mbok Jum. Meski ia datang setelah proses persalinanku, aku sangat bersyukur karena ada seseorang yang membantuku.

Aku hidup bahagia dalam kesunyian bersama Nti, putri pertamaku. Umurnya hampir menginjak satu tahun. Aku merasa bangga dapat membesarkannya seorang diri meski aku masih remaja. Hingga di suatu siang hari, aku mendengar riuh beberapa orang yang terdengar dari kejauhan dan suaranya semakin mendekat. Aku yang tengah menyuapi anakku dengan ubi rebus yang aku tanam sendiri terkejut dan berusaha menyembunyikan diri di dalam gubukku ini, berharap mereka semua tidak kemari.

“Kita sudah sampai.” Terdengar kalimat dengan suara pria yang cukup familiar bagiku.

“Oooohh, jadi disini. Mana orangnya?” lanjut seorang pria lain yang bertanya.

Mereka berbincang sejenak. Sekitar ada empat orang yang tengah berbincang di depan gubukku ini. Dan suara yang cukup familiar bagiku, aku menduganya adalah Mas Jono. Tidak lama kemudian, pintu gubukku pun dibuka paksa oleh mereka dan mulai masuk seperti mencari-cari sesuatu.

Saat melihatku, Mas Jono langsung berkata bahwa akulah orangnya. Aku memasang wajah garang. Apa maksudnya ini. Kenapa Mas Jono datang ke gubukku dan membawa tiga laki-laki yang sepertinya adalah temannya.

Tanpa banyak bicara, Mas Jono lantas menarik keras tanganku sehingga aku berada di dekapannya. Aku tak bisa mengelak. Tentu saja aku tidak bisa melawan seorang pria sendirian. Aku berteriak sekuat tenagaku. Berharap ada orang yang datang membantuku, meski itu tidak mungkin. Tiga pria lain yang memenuhi ruang depan gubukku pun mulai bergerak kompak seakan telah membagi bagian masing-masing untuk melakukan apa. Satu orang menutup mulutku dengan kain yang ia bawa. Dan dua orang lainnya lantas mulai melucutiku sehingga tak sehelai pun benang menutupi tubuhku. Dan untuk kedua kalinya aku merasa aku adalah seseorang yang hina. Seseorang yang pantas mati. Sebab tubuhku yang dirampas dan dinodai oleh seorang laki-laki bejat. Bahkan kali ini empat orang pria sekaligus yang menodaiku. Anakku, Nti hanya bisa menangis melihatku berteriak dan meronta. Hanya sakit dan tangis yang kurasakan. Untuk kesekian kalinya aku membenci seorang laki-laki.

Tomo ialah hasil dari noda yang kuterima dari empat pria tersebut, termasuk Mas Jono. Entah Tomo ini anak siapa, aku ingin sekali menggugurkannya saat aku tahu aku tengah hamil saat itu. Namun Mbok Jum mengajarkanku bahwa anak adalah seorang insan yang sangat suci. Seorang anak tidak bersalah. Jadi jangan lampiaskan amarah kepada seorang anak. Itu pesan yang sangat membekas bagiku.

Meski aku kini sangat sedih dan sakit terhadap takdir yang aku terima, namun aku harus tetap berjuang untuk hidup dan membesarkan dengan baik anakku ini. Kelak mereka akan membuktikan bahwa aku bukanlah wanita hina yang seperti warga desa bayangkan.

× Hubungi kami