Ode untuk Sebuah Setrika

Oleh: Ikrom Rifai

Aku langsung teringat cerita almarhum Ibu ketika kolektor barang antik itu melayangkan penawaran pamungkasnya di angka 250 ribu untuk menebus setrika arang ini. Sesaat, aku hanya tercenung. Pikirkanku terbelah menjadi dua: satu memikirkan biaya pengobatan Tiska, anak perempuanku,  dan satu lagi memikirkan cerita almarhum Ibu itu. Entahlah, bagaimana bisa sebuah cerita yang lebih mirip seperti wasiat itu tiba-tiba menggoyahkan niatku untuk menjual barang antik ini. Padahal, uang hasil penjualannya sangat kubutuhkan untuk membawa anakku ke rumah sakit. Ya, empat bulan setelah aku turut menjadi korban PHK besar-besaran perusahaan, aku memang nyaris tak punya penghasilan apa-apa.

“Bagaimana, Mas? 150, ya?” tanya sang kolektor dan aku hanya bisa menjawabnya dengan tatapan kosong.

***

“Setrika arang ini, 20 tahun lalu pernah menyelamatkan nyawa bapakmu,” kata Ibu sambil mengusap alas setrika yang entah apa mereknya itu.

Itu pembukaan cerita yang sulit kupahami. Tentu saja. Aku bingung mencari hubungan kausalitas antara setrika tua dengan keselamatan nyawa seseorang, apalagi nyawa Bapak. Aku sempat berpikir apakah setrika arang itu memiliki kekuatan ajaib sebagaimana tongkat Nabi Musa yang sering diceritakan guru agamaku di sekolah. Atau memiliki kekuatan gaib sebagaimana yang terdapat pada cerita-cerita mistis. Atau entahlah. Namun, belum sampai rasa penasaran itu terjawab, Ibu sudah melanjutkan kembali ceritanya dan kali ini ia malah bicara tentang tato.

“Tato di tubuh Bapak, Ibu hapus pakai benda ini,” lanjutnya, kali ini sambil menggenggam gagangnya.

Kalimat kedua itu membuatku yakin bahwa Ibu memang tidak cocok menjadi pencerita. Ia lebih cocok jadi pendengar. Bagaimana tidak, Ibu sudah membuat kepalaku pusing tujuh keliling hanya dengan dua kalimat pembuka ceritanya yang buruk. Bapak memang punya tato dan telah lama dihapus dengan menyisakan luka seperti kulit yang melepuh. Tapi, hubungan antara setrika, tato, dan keselamatan nyawa Bapak adalah sesuatu yang sulit kupahami, sebagaimana sulitnya memahami soal-soal trigonometri pada pelajaran matematika. Kalimat itu sungguh tidak memberikanku pemahaman apa-apa selain sebuah informasi bahwa: Ibu yang telah menghapus tato di tubuh Bapak menggunakan setrika arang itu.

Saat itu usiaku masih 15 tahun, kelas satu SMA dan aku bukanlah siswa yang pintar. Rangking yang kuperoleh tak pernah lebih sedikit dari jumlah provinsi yang ada di Indonesia. Aku adalah golongan siswa yang menganut paham bahwa memperoleh nilai 6 dari hasil mencontek adalah sesuatu yang mengecewakan. Dan memperoleh nilai 4 dari hasil mengerjakan sendiri adalah sebuah mukjizat. Tak ada mata pelajaran yang kusukai, termasuk mata pelajaran yang nantinya akan Ibu sebut: sejarah.

“Apa hubungannya antara setrika, tato, sama nyawa Bapak?” tanyaku, seperti sebuah rumusan masalah pada makalah. Aku bertanya dengan nada yang meremehkan, seolah yakin bahwa tiga hal itu memang sama sekali tak ada hubungannya.

Tentu saja pertanyaan itu mesti dijawab dengan penjelasan yang cukup panjang. Dan itu artinya, aku akan mendengar Ibu berbicara lebih panjang lagi. Itu artinya pula, kemungkinan aku untuk segera beranjak meninggalkan Ibu karena penjelasannya yang sulit kupahami semakin terbuka lebar.

Namun, sebentar kemudian, Ibu malah beranjak lebih dahulu dari duduknya. Ia masuk ke bekas kamar Bapak yang kini tak pernah ditempati itu, lalu keluar kembali dengan membawa sebuah foto. Ia lantas duduk kembali di ruang keluarga bersamaku seraya menunjukkan foto yang dikemas dalam pigura usang. Mudah kuduga, ia akan menunjukkan foto Bapak.

Sekarang, Ibu memegang dua benda: setrika arang dan sebuah foto. Ada empat orang di dalam foto itu, dan tentu saja satu di antaranya adalah Bapak. Bapak berada di paling kiri, mengenakan jaket kulit dengan celana cutbray dan gaya rambut yang mengingatkanku pada gitaris Guns N’ Roses, Slash. Entah di tahun berapa mereka mengabadikan momen itu.

“Waktu itu, semua orang ini mati, kecuali Bapak,” Ibu melanjutkan ceritanya, disusul menyerahkan kembali setrika arang itu kepadaku. Kini ibu hanya memegang foto.

Selain Bapak, aku tentu tak mengenali siapa orang-orang di dalam foto itu. Dan karena itulah, kalimat ketiga dari ibu sedikit menggugah rasa penasaranku. Atau setidaknya, minatku untuk tetap mendengarkan ceritanya masih tetap terjaga. Dan kemungkinan untuk aku meninggalkan Ibu yang tengah bercerita kini jadi lebih sedikit.

“Yang paling kanan ini namanya San Turham,” kata Ibu, sambil menunjuk. “Dia yang mengenalkan Bapak pada Ibu di Gang Ndalem. Waktu itu, Bapak sengaja minta dipijat. Ibu memberikan Bapak pijatan, tapi Bapak malah memberikan Ibu kandungan. Dan karena itulah, kami akhirnya menikah.”

“Kandungan itu aku?”

“Bukan. Kakakmu.”

Ah, kakak yang malang. Betapa ia diciptakan melalui proses yang ngawur.

“Sama seperti Bapak, lengan San Turham juga penuh tato. Dan karena itulah ia mati. Jasadnya ditemukan mengambang di Kali Serayu, persis seminggu setelah gerhana matahari. Tahun delapan puluh berapa, Ibu lupa.”

Itu cerita yang menarik, pikirku. Tapi, bagaimana sebuah tato bisa membuat orang jadi mati adalah sesuatu yang sulit kupahami, sebagaimana sulitnya aku memahami semua mata pelajaran di sekolah.

“Lain San Turham, lain pula Wartoyo,” lanjut Ibu, kali ini sambil menunjuk orang di sebelah San Turham, nomor dua dari kanan. “Ia mati mengenaskan dan jasadnya ditemukan membusuk di gorong-gorong belakang pasar kecamatan. Semua warga pasar geger saat itu. Begitu ditemukan, jasadnya sudah menggembung, bola matanya melotot, dan lidahnya menjulur. Bau busuknya, ah, Ibu yang saat itu melihat juga muntah-muntah.”

“Dia punya tato juga, Bu?

“Tentu.”

Mengapa yang bertato bisa mati semengenaskan itu? Apakah pada masa itu, malaikat pencabut nyawa bernama Izrail itu lebih suka pada orang-orang yang bertato? Atau apakah Tuhan sengaja ingin mengurangi jumlah populasi manusia di muka bumi dan yang pertama-tama tereliminasi adalah golongan orang-orang bertato? Itu rasa penasaran yang konyol, tentu saja.

“Setelah itu, semuanya menjadi tampak cemas. Apalagi setelah banyak koran-koran dan siaran radio yang mewartakan, bahwa ternyata kejadian semacam itu terjadi juga di tempat lain. Mereka yang memegang banyak kawasan di dekat pasar, baik di parkiran atau ruko-ruko, memilih sembunyi. Di pangkalan truk, anak buah Bapak juga banyak yang ketakutan. Sebagian ada yang memilih sembunyi. Sementara Bapak? Ia sama seperti yang kau kenal sampai sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya: keras kepala dan ngeyel.”

Belum sempat aku bertanya, mengapa orang-orang yang bertato itu seakan dikejar-kejar malaikat penjabut nyawa, Ibu lebih dahulu menjawab. Seolah memang ia tahu apa yang ada di kepalaku.

“Negara tak suka sama orang-orang yang tatoan.”

“Dan karena itu mereka dibunuh?”

“Iya.”

“Siapa yang membunuh?”

“Petrus.”

“Petrus?”

“Ah, jelas kamu tak tahu. Wong nilai sejarahmu saja 3.”

Entah karena aku selalu ketiduran setiap Bu Muji menerangkan rupa-rupa peristiwa sejarah di kelas, atau karena memang sama sekali tak dibahas dalam pelajaran sejarah. Tapi, sungguh, aku tak pernah mendengar kata “Petrus” kecuali pada saat Ibu menyebutkan barusan.

“Lalu yang tengah ini,” Ibu melanjutkan, kali ini menunjuk orang di sebelah Bapak, nomor dua dari kiri. “Namanya Sam Yo. Di antara mereka bertiga, dialah yang paling dekat dengan Bapak. Mereka berkawan sejak SR. Mbok Ritam, eyang putrimu, sudah anggap dia seperti anak sendiri. Sebelum jasadnya ditemukan kaku dan menyisakan luka tembak di bagian ulu hati, Sam Yo adalah gali yang paling disegani. Uang dari bea keamanan yang ditarik oleh para gali kelas ketengan di pasar-pasar, seluruhnya masuk ke kantongnya.”

Ibu mengambil jeda sebentar sebelum kemudian mengambil kembali setrika arang ini dari tanganku. “Kematian Sam Yo membuat Bapak ketar-ketir. Bagaimanapun, dia manusia biasa. Ibu ingat, Bapak sempat bilang begini, ‘Kalau setelah ini giliran Bapak yang kena, Bapak titip kakak sama adek,’ sambil mengusapmu yang saat itu masih di dalam perut.”

“Maka pagi itu, sebelum semuanya terlambat—meski Bapak masih bersikeras menolaknya—Ibu menggosok semua tato di kulitnya dengan setrika ini. Masih terbayang bagaimana Bapak menggeliat, merintih, menahan sakit, dan maaf, sekalipun ia seorang yang garang, ia juga meneteskan air mata saat itu. Tak tega, tapi semua itu harus dilakukan demi keselamatan; demi ia bisa melihatmu lahir ke dunia dan tumbuh menjadi dewasa,” kata Ibu, disusul sembap pada matanya.

Sungguh, betapa pun saat kejadian itu aku masih berupa gumpalan darah dalam rahim Ibu, aku bisa membayangkan bagaimana getirnya momen itu; membayangkan alas setrika arang yang panas itu menggilas sekujur pori-pori kulit Bapak yang penuh tato di kedua lengan.

Sebentar kemudian, suara isak mulai terdengar seiring air mata Ibu yang mulai mengalir. Lalu, ia mendekap erat-erat setrika tua itu sebagaimana ia mendekap Bapak pada momen lebaran terakhirnya sebelum Bapak pergi untuk selama-lamanya.

“Tanpa setrika ini, aku tak yakin kau akan bisa melihat Bapak. Jadi, berterima kasihlah pada setrika ini. Rawat dengan baik, sebagaimana kamu merawat Bapak saat menjelang hari-hari terakhirnya.”

***

“Hey, Mas. Gimana, kok, malah bengong. 250, ya?” tanya sang kolektor seraya membuyarkan tatapan kosongku.

“Punten, Mas. Sepertinya saya enggak jadi jual setrika ini.”

“Loh, Mas-nya ini gimana?”

“Maaf, Mas.”

Yowes, 175 gimana?”

“Saya pamit dulu, Mas.”

Aku segera beranjak meninggalkan galeri sang kolektor. Sepanjang jalan, aku tak berhenti mengutuk diri sendiri lantaran tak becus menjadi orang tua yang baik. Ayah yang tak bisa menjadi penolong bagi anaknya yang tengah sakit parah. Oh, Tiska, anak semata wayangku. Maafkan Ayah yang belum juga bisa membawamu ke rumah sakit.

Sempat terlintas dalam benakku untuk berbuat nekad: mencopet, membobol ATM, atau apa saja asal aku bisa pulang membawa uang. Tapi, sebentar kemudian ponselku sudah berdering dan itu adalah panggilan dari istriku.

“Halo.”

“Kamu di mana, Mas? Cepat pulang!”

“Aku masih di jalan. Ada apa?”

“Tiska, Mas! Tiska!” terdengar seperti sambil menangis.

“Tiska kenapa?”

“Cepat pulang!”

Ah, kalian tentu sudah bisa menduga apa yang akan terjadi setelah ini, bukan? Aku bahkan tak berani menuliskannya di sini … (*)

Purbalingga, 2022-2023

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami