Om Darwin

Beri Hanna

Aku tulis surat ini untuk Om Darwin meski nantinya aku tak tahu cara mengirimkannya.

Guruku sering bilang—tentu saja dia mengutip dari buku pelajaran sekolah—, menurut Om Darwin manusia berasal dari satu nenek moyang yang sama. Yakni kera dari Afrika. Berjuta-juta tahun yang lalu nenek moyang kita—kurang lebih—berevolusi menjadi lebih baik dari sebelumnya. Seperti kekuatan tangan yang terakhir didapatkan begitu juga kemampuan kaki yang dapat menopang tubuh sehingga mampu berjalan dan bertualang, hingga ke Asia.

 Jauh sebelum itu, kehidupan nenek moyang masih menjadi misteri. Apa dan bagaimana mereka menjalani hidup ketika masih merangkak atau bergelantungan di pohon—jika itu benar, tidak pernah kita ketahui atau mungkin belum betul-betul tahu.

Belakangan, yang cukup membantu untuk mendapat gambaran kehidupan masa lampau bermula dari temuan dan penelitian tengkorak kepala, tulang kaki, gigi: Homo erectus atau genus Homo (manusia) yang diduga sudah berdiri tegak.

Dari temuan tulang, tengkorak kepala, dan gigi bermacam genus Homo yang tersebar di Afrika, Eropa, Asia; Jawa Tengah, para peneliti khususnya kajian ilmu paleoantropologi, mendebat perbedaan yang melesat jauh ketika menghubungkannya ke mata rantai kehidupan yang hilang atas kemunculan Homo sapiens; yakni kita (jenis manusia modern) dengan Homo erectus—atau jauh ke belakang: ordo primata—yang lebih jauh dari primitif karena tidak mengenal konsep bertempat tinggal dan hanya berkemampuan berdiri, mengolah batu menjadi alat bantu, serta memakan hewan dan tumbuhan purba.

Satu hal lagi, Om Darwin, kemunculan Homo neanderthal menjadi polemik lain yang mendilemakan asal-usul sapiens. Homo neanderthal dikatakan tidak memiliki kesamaan dengan Homo erectus. Sedangkan Homo neanderthal dengan sapiens, dikatakan memiliki sedikit kesamaan dan diduga sebagai asal-usul sapiens.

Di samping itu, Om Darwin, masih banyak pendapat para ahli yang mengatakan mereka semua berbeda. Salah satunya, Yuval Noah Harari. Dalam bukunya berjudul “Sapiens” tegas mengatakan: Salah kaprah kita membayangkan spesies-spesies tersusun dalam garis keturunan yang lurus, dengan egaster menjadi erectus, erectus menjadi neanderthal, neanderthal menjadi kita. Model linear ini memberikan kesan salah bahwa setiap saat hanya ada satu genus Homo tertentu yang menghuni bumi, dan bahwa semua spesies terdahulu hanyalah model diri kita versi lama. Yang benar menurut Yuval, sekitar dua juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun, planet ini adalah rumah bagi beberapa spesies manusia sekaligus[1].

Kendati demikian, tetap saja kita tidak pernah tahu yang sesungguhnya. Bukankah kebenaran—sekaligus ilmiah—bersifat sementara, Om Darwin? Sejauh apa dapat diuji dan suatu saat tidak menutup kemungkinan akan dapat dikalahkan oleh kebenaran lain. Lagi pula, kata mamaku kebenaran dan spekulasi terkadang tidak berbeda antara satu dan satu lainnya. Dengan kata lain, usaha menjahit mata rantai kehidupan antara ordo primata dan manusia, tidak lain sikap eksistensi sapiens dengan kemampuan berimajinasi atas obsesi yang janggal.

Mengapa, ya, dulu Om Darwin berani mengemukakan gagasan tanpa bukti kuat bahwa semua makhluk hidup berevolusi dari satu nenek moyang? Ini lah yang juga menjadi pertanyaan yang mengganggu aku. Gara-gara apa yang Om Darwin katakan itu menjadi fenomenal—dan mengganggu orang-orang saat itu—sampai Richard Owen, naturalis dari Inggris, marah dan berkata; “Bencana alam apa yang mendorong kera menjadi manusia?” tentu yang dimaksud Richard Owen adalah Australopithecus Africanus atau fosil kera dari Afrika Selatan yang ditemukan Raymond Dart.

Om Darwin, aku hanya pelajar muda yang saat ini kebingungan. Gara-gara membaca artikel dan buku-buku teori evolusi—dimulai dari tugas sekolah—aku jadi semakin terobsesi dan sedikit tenggelam dalam kajian asal-usul atau mata rantai kehidupan. Tidak ada teman-teman, juga guru yang mau membahas hal ini lebih lanjut. Sayangnya aku terlanjur penasaran dengan beberapa pertanyaan yang lebih sering membuat aku merasa lebih dari sekadar gelisah.

Tiap kali mencoba berhenti memikirkan apa yang telah aku baca, bayangan dan imajinasi muncul seperti mendesak aku untuk mencari jalan terang dari kebuntuan menemukan jawaban. Sering juga ketika tertidur, aku berimimpi aneh, seperti bertemu manusia purba dan bercakap-cakap seolah aku adalah bagian dari mereka.

Kadang-kadang, mimpi itu terbawa ke kenyataan dan tidak heran ketika melamun di tengah keramaian, aku merasa sedang melihat sekumpulan orang berjalan tidak lain adalah kera tanpa bulu yang tengah beraktivitas tanpa memedulikan satu sama lainnya. Belum lagi aku mendengar apa yang dikatakan mama dan papa, manusia memakan manusia lainnya dengan cara paling bijak. Entah apa maksudnya.

Mungkin Om Darwin tidak tahu, ‘kan, (atau aku yang keliru) pada 1987 ada laki-laki bernama Dubois yang rela berhenti mengajar mata kuliah anatomi untuk mendaftarkan diri menjadi dokter militer dan bertugas di Hindia Belanda. Waktu itu, tidak banyak orang yang penasaran dengan keputusannya. Barulah nanti, setelah beberapa waktu orang-orang tahu, bahwa dia punya tujuan lain, yakni menemukan jawaban mata rantai kehidupan yang hilang.

Butuh waktu tiga tahun—setelah bertolak dari Sumatra ke Pulau Jawa—untuk Dubois menemukan atap tengkorak Pithecanthropus erectus sebagai titik terang dari mimpi dan obsesinya. Temuannya ini seakan meledakkan kembali gagasan Om Darwin sekaligus menembak masa-masa kehidupan yang memang seperti lembah hitam, gelap dan, kita seperti terus meraba di mana dan ke mana garis rangkaian asal-usul dari semua kehidupan ini?

Mana yang harus aku percayai dari begitu banyak kajian tentang asal-usul manusia? Seperti belakangan ini baru aku ketahui, Anaximander, 610 SM, pernah berkata kalau manusia berasal dari ikan-ikan yang melompat ke darat lalu berevolusi sampai memiliki kaki dan tangan, kemudian mendapatkan kemampuan berpikir dan hidup berdampingan sampai menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Kemudian, sedikit dari apa yang aku baca dari koleksi perpustakaan, pada abad ke-13, Zakariya al-Qazwini sudah menggambar keajaiban segala sesuatu yang diciptakan. Aku telah melihatnya dalam karya risalah arab berjudul Ajā’ib al-makhlūqāt wa-gharā’ib al-mawjūdāt. Ikan-ikan digambar berkepala manusia, memiliki tangan besar, bahkan ada juga yang berbadan dan kepala domba. Aku terkejut penuh takjub dan bertanya-tanya, siapa orang yang memasukkan buku itu ke dalam perpustakaan sekolah?

Dengan demikian, dari lapisan-lapisan misteri yang tidak terbantahkan, aku sendiri berada di lapisan lain—yang hampir tidak terlacak atau dapat aku tentukan titiknya, terlebih pula jika aku dekatkan dengan pandangan agama.

Benarkah gagasan Om Darwin bahwa manusia berasal dari satu nenek moyang? Jika demikian, apakah bisa aku simpulkan kita manusia ini, tidak lain merupakan template jenis makhluk yang hidup untuk sekadar melengkapi kebutuhan. Sedangkan hal-hal di luar indra, tidak lain hanya imajinasi atas kemajuan daya capai pemikiran dari kebutuhan yang semula hanya sekadar makan.

Oh, Om Darwin. Menelusuri jejak kehidupan masa lampau tanpa bekal ilmu yang cukup, membuat aku pusing dan sekali-kali berhenti di titik ketidaktahuan. Tetapi sejauh ini, usaha kecil atas rasa penasaran tetap mendorong aku untuk mencari jawaban.

Seperti orang-orang di kampung nenekku, yakni Kampung Nambuk Kubo, percaya manusia berasal dari batu garam. Satu batu di dasar laut—waktu itu laut dipercaya masih tawar dan belum berombak—, mendadak bernapas ketika sepasang lele diturunkan dari langit lalu bercinta di laut dengan batu garam sebagai ranjangnya.

Sperma ikan lele muncrat ke batu dan menyebabkannya nanti menjadi hidup. Inilah keanehan lain yang berasal dari cerita rakyat orang-orang kampung. Tanpa kajian dari kerangka teori yang kuat, fiksi lebih hidup dan mudah melekat di kepala orang-orang. Hingga kini, semua orang tua di kampung nenek, tahu bagaimana cerita itu, bahkan memiliki beberapa versi.

Ada juga yang mengatakan lele memang pernah hidup di laut dan satu-satunya jenis ikan yang memiliki sayap dan dapat terbang. Apa pun ceritanya, semua tentang lele dan batu garam. Pada suatu waktu lele terbang ke langit, meninggalkan laut dan batu garam yang dipercaya adalah anak yang dilahirkan ikan lele.

Hidup melayang di udara, lele merasa pantas ketimbang berenang dalam kesunyian. Entah sudah berapa lama lele melayang, tanpa ada tanda alam seperti petir, angin kencang dan sebagainya, tahu-tahu batu garam dari laut mulai bernapas dan mampu menggerakkan air laut.

Kura-kura—yang saat itu juga hidup di laut—melompat ke darat dan muntah-muntah karena air mendadak jadi asin. Di darat itulah, kura-kura melihat sepasang ikan lele terbang seperti bangga menunjukkan keahliannya melayang.

Beberapa ikan dan jenis binatang lain—karena tidak tahan terganggu air asin dan ombak—mulai melompat ke darat dan, sejak pertama melihat lele melayang, mereka sepakat membenci lele yang begitu sombong dengan keahlian terbang.

Apa yang direncanakan binatang-binatang ini, tidak lain sebuah usaha menipu agar lele mendekat. Begitu rencana sudah disusun dan lele mendekat sesuai yang diharapkan, kura-kura langsung melompat dan menggigit lele lalu mengempas-empasnya. Ikan-ikan dan binatang lain, ikut menyerang hingga mematahkan sayap lele.

Apa yang terjadi setelah itu, sebetulnya aku sendiri lupa. Kalau tidak salah dan boleh—dianggap—sedikit mengarang, lele tunduk dan memohon untuk dapat hidup meski suatu saat nanti hanya di rawa-rawa atau lubang berisi air.

Sedangkan ikan-ikan dan binatang lain, setelah beberapa tahun mulai bisa beradaptasi untuk kembali hidup ke dalam laut. Dan untuk batu garam, aku benar-benar lupa dan tidak dapat mengarangnya. Apakah batu itu manusia pertama yang menyembul dari laut setelah berevolusi ke berbagai jenis sampai menjadi manusia? Aku benar-benar tidak tahu dan tidak dapat mengarangya.

Nanti saja, Om Darwin, setelah libur sekolah dan aku bisa main ke kampung nenek, pasti aku sempatkan mendengar dongeng orang tua di sana dan, tentu aku akan menuliskannya dengan detail untuk Om Darwin.

Meski pun dari cerita di atas terdengar aneh dan tidak ada kerangka yang dapat disangkal bila kita karang sendiri bentuk-bentuk lainnya, ada baiknya jika aku mendengar sekali lagi ceritanya lalu menuliskannya untuk Om Darwin. Setidaknya, dengan begitu aku tidak akan disalahkan sebagai orang yang mengada-ada, atau mengubah apa yang dipercaya orang-orang Kampung Nambuk Kubo.

Surat ini sampai di sini dulu ya, Om Darwin. Aku sudah ngantuk dan ingat belum mengerjakan tugas matematika. Kalau sudah begini, aku harus bangun lebih awal dan menyontek tugas teman sebelum bel pagi berbunyi, atau kalau tidak aku harus rela kena hukuman denda membawa sapu atau mengepel seluruh kelas dan sebagainya.

Maaf kalau surat ini aneh. Aku sendiri tidak yakin apakah Om Darwin mengerti apa yang aku resahkan dalam surat ini. Apa pun itu, sampai nanti di surat berikutnya, ya, Om Darwin.

                                                                                                                                                                                                      Salam, Muslonah, 2022


[1] Diolah dari buku “Sapiens” hlm. 8.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami