Rencana Minah Pergi dari Rumah

Oleh: Daruzarmedian

Malam itu, si bocah bernama Lupit bermimpi bapaknya dimangsa hewan dan dari situlah rencana Minah, emak si bocah, pergi dari rumah benar-benar ia tuntaskan setelah bertahun-tahun menderita sebagai perempuan. Kau akan tahu alasan kenapa mimpi seorang bocah sampai membuat seseorang minggat dari rumah kalau kau menyimak cerita ini sampai akhir.

Ya, malam itu Lupit bermimpi bapaknya dimangsa hewan. Sebelumnya, dalam mimpi itu, ia diajak pergi ke tegalan pinggir hutan untuk mencari belalang. Beberapa saat kemudian, ada singa dari belakang hendak menerkam tubuhnya yang kecil dan malang. Ia berteriak kencang dan bapaknya dengan sigap menghadang. Tetapi, singa itu justru beralih perhatian. Lupit makin histeris karena tahu tubuh bapaknya dicabik-cabik singa itu. Ia yang kecil, tentu saja tak bisa membantu. 

“Heh, heh, ada apa?” Minah berusaha menenangkan anaknya yang mengigau, memanggil-manggil bapaknya.

            Lupit tergeragap bangun. Antara sadar dan tidak, ia bertanya, “Bapak mana?”

            “Kok kayak gak tahu bapakmu saja.” Timpal Minah dalam keadaan ngantuk.

            “Mak! Mak!”

            “Ada apa to? Sudah ayo tidur lagi. Tak kiro ono opo.

            “Aku mimpi Bapak dimakan singa.”

            “Aneh-aneh saja kamu. Sudah ayo tidur.” Perempuan itu beralih posisi. Ia miring kekiri dan anaknya ia punggungi. Ia memang harus meneruskan tidurnya karena capek seharian bekerja. Tapi, Lupit tidak patuh pada ucapan itu. Ia lebih memilih duduk dan menggoyang-goyangkan tubuh emaknya.

            “Mak. Bangun leh, Mak! Aku takut… Bapak di mana leh, Mak?”

            Minah kesal, “Bapakmu itu memang gak tahu diri. Tiap malam ngopa-ngopi. Sudah tahu apa-apa habis, uang habis, masih saja nongkrong terus gak ingat waktu.”

            Lupit terdiam. Beberapa kali ia mendengar keluhan serupa dan ia tidak tahu harus berbuat apa.

            “Sana ikut bapakmu. Susul sana ke warung Yu Kanah! …. Sana!”

            Perempuan itu balik badan dan mendorong Lupit sampai terjengkang. Ia mulai marah dengan anaknya. Ah, tidak, tidak. Sebenarnya bukan murni karena itu saja kemarahannya naik. Ia sudah capek seharian nyari sisa-sisa panenan padi di sawah orang lain. Tentu saja, itu karena ia tak punya sawah sendiri. Padi-padi itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit, lalu dijual dan uangnya dibelikan bahan makanan. Tidak memadai memang, tapi hanya itu yang ia bisa lakukan. 

            Perempuan itu juga sudah sangat muak dengan suaminya. Akhir-akhir ini ia tidak diberi uang sama sekali. Suaminya makin hari makin tak tahu diri, makin pelit pada istri. Jadi, ketika memegang sedikit uang, tak langsung diberikan kepadanya. 

            Akhirnya, semua permasalahan bertumpuk di kepala, dan karenanya setiap hari ia selalu merasa ada yang mendorongnya untuk melepaskan kemarahan. Sialnya, ia lebih sering melampiaskan kemarahan itu pada anaknya. Ya, seperti malam di malam itu. Ia mendorong Lupit sampai terjengkang dalam keadaan tersedu.

            Lupit ketakutan dan memilih meringkuk. Ia menangis tertahan. Tapi sungguh, sebenarnya ia tak ingin menangis seperti itu. Menangis yang ditahan-tahan justru lebih sakit ketimbang yang dilepaskan. Karena ia merasa tenggorokannya semakin lama semakin sakit, akhirnya kemudian tangis itu pun ia lepaskan. Bahkan lebih nyaring dari sebelumnya.

***

Minah tak lagi bisa tidur karena Lupit masih terus menangis, juga meraung-raung memanggil bapaknya. Makin lama tangis itu makin memilukan, disertai sesenggukan yang berkepanjangan. Ia bangkit sambil mendengus kesal. Ia akhirnya bertekad untuk menyusul suaminya yang mungkin saja masih di warung.

            Sebenarnya, Minah sudah tak begitu peduli mau suaminya itu pulang malam, pulang sore, bahkan tidak pulang sekali pun. Lagi pula, ketika lelaki itu ada di rumah, Minah sudah mulai merasa tak nyaman. Ia kerap bertengkar karena masalah apa pun. Mulai dari yang besar sampai masalah yang sepele sekalipun.

            “Ayo aku susulin ke bapakmu!”

            Lupit tak menjawab. Ia masih sibuk dengan tangisannya. Apakah menangis bisa dikategorikan sebagai sebuah kesibukan?

            “Ndang ayooo!!! Bangun!”

            Bocah itu makin ketakutan. Ia tahu, emaknya kemarin bertengkar dengan bapaknya. Ia masih ingat emaknya dibentak-bentak karena menanyakan uang hasil jualan kayu. Ia tidak tahu secara detail kenapa emaknya menanyakan uang dan kenapa bapaknya jadi muntab karena pertanyaan itu. Ia yang masih kecil, belum paham apa-apa soal uang, selain uang jajan. Yang jelas, ketika mereka bertengkar, dirinyalah yang kena imbasnya. 

            “Ndeh, ayo bangun!!!”

            Minah kehilangan kesabaran. Ia menggendong paksa anaknya. Dengan langkah yang tersaruk-saruk, ia membuka pintu rumah yang bunyinya “krieet” karena engselnya mulai rusak. Udara dingin menggerayangi tengkuknya.

            Di tengah malam yang sepi dan mengirimkan gigil, Minah menyusuri gang-gang kecil. Suara burung kedasih menyertai langkahnya. Di sepanjang perjalanan, yang Minah pikirkan adalah, ia segera memberikan anak yang ada di gendongannya itu kepada suaminya. Lalu ia pergi—sebagaimana yang diniatkan di hari sebelum-sebelumnya. Pergi sejauh mungkin. Ia sudah benar-benar lelah dengan hidupnya.

            Minah lambat laun menyadari bahwa ia telah memilih lelaki yang salah untuk dijadikannya sebagai suami. Selama ini, ia telah kehilangan banyak hal. Waktu, tenaga, dan kesenangan-kesenangannya sebagai perempuan. Ia tak pernah benar-benar tenang menjadi istri. Suaminya sampai saat ini kerap berbuat semena-mena. Tidak peduli apakah ia kehabisan uang atau tidak. Tidak peduli bahan makanan di dapur habis atau tidak. Tidak peduli dengan keadaan dirinya yang sangat lelah mengurus rumah. Ia tidak mendapatkan kasih sayang sebagaimana yang ia bayangkan dulu ketika sebelum menikah.

Minah mempercepat langkahnya.

            Dan masih dalam keadaan sesenggukan, si bocah bernama Lupit melemparkan pertanyaan, “Mak, bapak di mana?”

            “Wes toh, diam.” Minah menjawab ketus.

***

Warung kopi Yu Kanah tidak terlalu jauh dari rumahnya memang. Tapi itu cukup membuat Minah kelelahan. Warung kopi Yu Kanah bentuknya kecil. Mungil. Luasnya hanya sekitar 5×7 meter. Dindingnya dari kayu dan sebagian dari anyaman bambu. Di depan warung ada lincak, yang biasa dipakai untuk bermain karambol dan skak. Beberapa orang duduk di sana sambil bersenda gurau, merokok, dan menyeruput kopi.

            Minah berhenti sejenak di gang menuju warung kopi itu. Ia termangu. Di bawah cagak lampu neon yang cahanya keremang itu, ia memandang ke arah warung, menelisik barangkali ada suaminya di situ. 

            Minah tak melihat suaminya. Barangkali ada di dalam warung, pikirnya. Ia pun melangkah ragu-ragu. Ia bertanya mengenai suaminya pada beberapa orang yang ada di warung itu.

            “Qomari ada di dalam rumah.” Salah satu dari mereka menunjuk ke arah rumah di belakang warung. Ya, itu rumah Yu Kanah. Tidak persis di belakang rumah sebenarnya. Letaknya di pojok warungnya, agak ke belakang. 

            “Kang, Kang Qomari. Dicari istrimu lho!”  Teriak seseorang yang memakai sarung dengan cara menyerupai selimut.

            Tidak ada balasan apa pun dari arah rumah. Di sana hanya ada suara gelak tawa dan senggak-senggakan. Karenanya, tidak ada yang mendengar panggilan. Sementara itu, Minah yang sudah tidak sabar, tergopoh-gopoh menuju rumah Yu Kanah. Ia curiga dengan apa yang dikerjakan suaminya. Perasaannya mulai tak karuan.

            Dan… dengan mata telanjang, Minah mendapati Qomari, suaminya, duduk bersama orang-orang yang memegang kartu remi. Qomari pun juga sedang memegang kartu remi. Tak butuh waktu lama, Minah menyadari bahwa suaminya ikut judi. Sebelumnya ia memang pernah samar-samar mendengar kalau rumah Yu Kanah sekarang sering dipakai untuk judi, tapi ia tak pernah melihatnya langsung, dan tak begitu yakin kalau Qomari ikut-ikutan berjudi. Di pikirannya, Qomari adalah pemalas yang jarang punya uang. Jadi mana mungkin ia ikut begituan. Tapi kini, ia melihat dengan matanya sendiri peristiwa yang membikinnya panas dingin sekujur tubuhnya. 

            Minah kalap. Muntab. Dadanya membara. Sementara itu, Qomari bengong, tak percaya kalau istrinya akan menyusulnya.

            Minah menghampirinya tanpa banyak berkata-kata. Ia lalu membanting Lupit ke meja judi. Ia sungguh tak peduli anaknya menangis dengan suara yang amat kencang.

            “Ini anakmu!” Suara Minah bergetar.

            “Maakkkk! Maaaakkk!” Teriak Lupit. Anak kecil itu takut banyak hal: takut perlakuan emaknya, takut kerumunan orang-orang, dan takut akan terjadi sesuatu yang berbahaya di sana.

            Semua orang yang ada di situ terdiam. Suana mencekam karena kejadian itu tak ada satu pun di antara mereka yang menduganya. Qomari kehilangan kata-kata. Ia menurunkan kartu reminya. Sementara Minah beranjak pergi dengan langkah yang cepat. Ia tak menghiraukan suara anaknya yang meraung-raung memanggil namanya.

            Qomari yang awalnya bengong, tak percaya kejadian itu bakal terjadi, bangkit dan segera menggendong Lupit yang menangis dan menjerit-jerit memanggil emaknya. Qomari beranjak dan berusaha membuntuti istrinya. Tapi, Minah, dengan langkahnya yang terburu-buru, tidak peduli apa pun dengan yang terjadi di belakangnya. Bahkan, ia mulai berlari untuk segera menjauhi tempat laknat itu.

            Qomari termangu di samping warung sambil melihat Minah yang makin menjauh. Antara malu dilihat orang-orang, sedih karena anaknya menangis sekencang-kencangnya, dan juga merasa bersalah karena telah berbuat semena-mena. Pikirannya campur aduk. Akhirnya yang ia kerjakan adalah menenangkan anaknya terlebih dahulu.

            “Sudah. Berhenti nangisnya, Le. Nanti kususulin ke emakmu.” Suara Qomari memberat. Ia lalu berbincang-bincang sebentar dengan orang-orang yang ada di sana dan bilang ingin pulang dulu. Tidak meneruskan permainan remi itu.

            “Maak!”

“Maaaaaak!”

Teriakan Lupit ditelan malam.

***

Sesampainya di rumah, Minah mengemasi pakaian-pakaiannya. Tidak banyak pakaian yang ia miliki, sehingga ia tak perlu waktu lama melakukan ini. Tidak lupa, ia mengambil kantong berisi sedikit uang, yang itu adalah uang terakhir yang ia simpan.

            Matanya tak berhenti membasah. Sungguh, ini adalah pilihan yang sangat susah. Ini kali keberapa ia berniat pergi dari rumah. Dan peristiwa tadi benar-benar meyakinkan dirinya untuk melakukan itu. Seandainya Qomari tak keterlaluan, ia mungkin masih bisa bertahan, meski dengan berat hati. 

            Minah bergegas pergi sebelum dilihat Qomari. Atau… sebelum diketahui anaknya. Ia melangkah ke arah selatan, arah di mana bertentangan dengan jalan biasanya, jalan yang biasa Qomari lewati. Ia menerobos terowongan rumpun bambu, lalu ke persawahan. Angin berdesau dari tempat yang jauh. Dingin. Ya, dingin dan … sedikit memilukan. 

            Bulan di langit, yang meski temaram, lumayan membantunya melihat jalanan. Minah sungguh masih tak percaya apa yang ia lihat tadi. Tapi dari situ ia jadi tahu kenapa selama ini tak pernah diberi uang lagi. Bahkan, ketika Qomari menjual beberapa batang kayu besar yang diambilnya dari hutan, sedikit pun ia tak diberi uang.

            Minah berhenti sejenak ketika melewati barang lima petak sawah. Ia menengok ke belakang, ke arah rumpun bambu yang di baliknya berdiri rumah yang sejak kecil ia tempati. Atau singkatnya, ia melihat masa lalunya di sana.

***

Minah menghentikan langkahnya lagi. Udara makin dingin, malam makin kelam, dan ia menyadari telah jauh berjalan menyusuri pematang. Minah terduduk, kakinya ia julurkan ke pinggir sawah yang permukaannya sudah mengering karena kemarau panjang. Memang, di saat-saat seperti itu, pipinya tak lagi basah, tapi hatinya benar-benar gundah. Ia teringat Lupit. Tentu saja, ia ingat bagaimana perjuangannya membesarkan anak itu. Jauh dalam hati, ibu mana yang tega meninggalkan anaknya begitu saja? Anak yang dilahirkannya dengan susah payah, anak yang disusuinya, anak yang digendongnya, anak yang sudah membikinnya tahan untuk melewati hari demi hari yang berat. 

            Di tengah kegelapan, Minah terjerembap pada penyesalannya sendiri. Kenapa ia harus melakukan sesuatu yang menyedihkan ini? Ketika ia memutuskan untuk pergi dari rumah itu, sebenarnya ia tak hanya meninggalkan rumah, tapi juga apa-apa yang ada di dalamnya, anaknya, masa lalunya, termasuk kenangan-kenangan di dalamnya.

Sungguh menyedihkan memang menjadi perempuan, pikir Minah. Ya, sungguh menyedihkan memang menjadi manusia.[]

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami