SAMBEKALA

Oleh: Fihma Haninda Shouma

            Pancaran sambekala membersamai langkahmu yang cukup tergesa. Sesampainya pada teras rumah, gemerincing lonceng riuh terdengar. Nafasmu tersengal, segera masuk ke dalam rumah dan bergegas mengunci pintu, yang berderit ketika kau menariknya. Sedikit kau intip suasana dari jendela. Jingga yang selalu kau nanti, kini adalah petaka.

***

            Raut mukamu nampak tak tenang kala kau duduk di tepi dipan reyot milik Apak. Kegelisahanmu kontras dengan teduhnya wajah Apak yang tertidur. Kau sedikit tak tega untuk membangunkan Apak, tapi mau bagaimana lagi, Apak belum makan malam dan meminum jamunya. Aroma amis tiba-tiba terbawa angin hingga menusuk penciumanmu. Bunyi yang kau kenal beberapa hari ini, kembali membawa rasa takut yang menghantuimu. 

Kau mendongak ke atas jendela, tepatnya di lubang bekas rayap yang kini tersumpal benda putih. Benda tersebut bergerak lambat, berupaya masuk dengan tubuh gempalnya. Bau tak sedap kini makin merasuk dalam kamar Apak yang pengap. Kau segera mengambil tongkat lesung, menodong benda putih yang sebagian besar badannya telah masuk, hingga benda putih tersebut jatuh di tanah; pada luar rumahmu. 

Bulu kudukmu bergidik ngeri, melupakan tujuan awal kau datang ke kamar Apak, kau lari menuju kamarmu. Aku begitu penasaran, tentang hal apa yang membuat netramu beberapa hari ini selalu berkaca. Aku selalu bertanya, gerangan apakah hingga badanmu akan menggigil sedemikian hebatnya. Baru saja aku ingin berbicara, lamat matamu mulai menutup. Kau terpejam dengan rasa khawatir pada benda putih yang menggeliat di ujung pohon mangga milik Apak. 

“Belatung itu semakin banyak rupanya,” ujarmu saat kau memilah daun jati yang menumpuk di sudut dapur. Kakimu menapak lemah pada tanah lembab tanpa keramik, sesekali tanganmu cekatan menjaga tungku api agar tak padam. Aku membantu tuangkan beras dari karung ke gerabah. Bungkusan nasi daun jati ini harus segera siap sebelum surya mulai menampakkan pesonanya. 

Pada pagi harinya, kau suapi Apak yang semakin hari semakin lemah di dipan. Bukan hanya tak dapat menggerakkan tubuhnya, Apak juga kini tak dapat berbicara sepatah kata pun, yang Apak bisa hanya menggeram kecil dengan intonasi rendah. Setelahnya, kau tenteng keranjang berisi bungkusan nasi, guna kau setorkan dan jual di pasar timur ujung kampung. Kau pasti akan pulang pada sore harinya, meninggalkan Apak yang akan aku jaga selama kau pergi.

Setengah hari kau berkutat dengan bungkusan nasi yang harus habis. Sinar matahari mulai menghilang bergantikan cahaya merah di ufuk barat. Ini tanda alami bahwa sudah waktunya kau kembali ke rumah, meski bungkusan nasi masih tersisa beberapa. Para tukang becak sudah pulang, artinya kau harus berlari sebelum petang tiba. Pancaran sambekala membersamai langkahmu yang cukup tergesa. Sesampainya pada teras rumah, gemerincing lonceng riuh terdengar. Nafasmu tersengal, segera masuk ke dalam rumah dan bergegas mengunci pintu, yang berderit ketika kau menariknya. Sedikit kau intip suasana dari jendela. Jingga yang selalu kau nanti, kini adalah petaka.

“Bukankah lembayung di ujung senja, merupakan hal yang kau nanti setelah bekerja?” tanyaku padamu. Aku tak dapat menahannya lagi, aku ingin tahu pada apa yang terjadi di luar sana. Aku sibuk menjaga Apak, tak pernah lagi kuinjakkan kaki ke luar rumah, setelah Apak jatuh sakit seminggu yang lalu.

“Warna sambekala akan selalu menjadi yang aku suka. Namun, sekarang sambekala adalah bencana bagi kita, bagi kampung ini!” Serumu parau. Kau tercekat, bersusah payah menelan ludah yang terasa perih. Kau akhirnya menjelaskan yang terjadi di luar sana padaku. Dari kejauhan, bunyi lonceng beradu mulai terdengar. Kau memintaku untuk mengintip dari jendela lusuh yang tertutup kain rompang. Aku segera mendekati jendela, kau berkata untuk menunggu paduan lonceng itu mendekat. 

Ekor mataku menangkap siluet seorang anak dari balik pohon mangga depan rumah. Ia bocah laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun. Tubuhnya tinggi, badannya kurus dan kulitnya putih pucat. Matanya kosong menatap lurus pada jalanan yang lengang. Rambutnya ikal, sedikit menggimbal. Di lehernya terbelenggu tali tambang yang menjulur hingga ke bawah. Pada ujung tali, tiga lonceng terikat kuat dan beradu pada debu jalanan. Anak itu mengenakan kaos dari karung goni, tetapi ia tidak memakai celana.

“Tengok bocah itu lebih jelas!”

Kau menyuruhku meneliti, sampai aku menemukan sesuatu yang kau maksud. Dari kaki anak itu yang tanpa celana, aku melihat sendiri, benda putih gempal yang kemarin ada pada celah kamar Apak, kini berjatuhan dari balik tubuh anak tersebut. Tidak, lebih tepatnya keluar dari anus anak kecil dengan wajah pucat itu. Benda tersebut adalah belatung berukuran sebesar ibu jari orang dewasa. Belatung putih gempal menggeliat, berserakan di jalanan.

Kau menarikku dan membawaku duduk di kursi rotan ruang tamu. “Delapan hari lampau, sepulangnya aku dari pasar, aku diantar oleh tukang becak berkumis lebat. Pada hari itu aku senang, karena perjalanan pulang menghadap ke barat, dimana aku leluasa menikmati sambekala, buritan senja tanda maghrib akan tiba.”

Kau menjeda bicaramu, kau tarik nafas berat sebelum melanjutkan ceritamu.

“Hingga dari arah berlawanan, dari barat menuju timur, aku berpapasan dengan Lek Dambo, tukang becak langgananku yang kucari di pasar tidak ada, ternyata membawa penumpang anak kecil itu. Malam harinya, Lek Dambo meninggal dunia dengan tubuhnya yang dipenuhi belatung. Setelah itu, tiap sambekala datang, kala maghrib menjelang, bocah itu keliling di jalanan kampung dengan mengeluarkan belatung.”

Geraman terdengar tanda Apak membutuhkan sesuatu. Kau bergegas menengok Apak. Namun kau terhenti di ambang pintu. Wajahmu tercengang dan tubuhmu gemetaran. Dengan mata kepalamu sendiri, kau melihat tubuh Apak di masuki belatung putih gempal. Dalam kamar, sudah banyak belatung menggeliat membuat mual. Aku ambil sapu lidi dan memukul satu dari sekian banyak belatung. Kau menjerit dan menahan tanganku, tidaklah mati tapi belatung tersebut terbelah menjadi dua.

Kau membungkam mulutmu dan mendekapku erat. Tak ada yang dapat dilakukan selain melihat mata Apak yang melotot kesakitan. Beberapa saat dalam hening yang mencekam, Apak telah terbujur kaku dengan tubuh yang penuh belatung dan bau amis yang membuatku muntah. Kau menyeretku masuk ke dalam kamar, menangis tergugu pada pundakku yang juga nampak terkejut pada apa yang kulihat. Ingin kau berteriak meminta pertolongan, namun kau tersadar, di kampung ini hanya tinggal kau, aku dan Apak.

Tak ada sesiapa yang tersisa di luar sana. Orang-orang mati dengan berselimutkan belatung putih gempal. Di jalanan, pada ujung barat hingga ujung timur sebelah pasar, mayat semacam bualan dan seonggok mainan bagi para belatung. Setiap harinya dari sejak kau bertemu bocah itu, kau tahu apa yang terjadi. Kau berjalan tak peduli menuju pasar dan membagi bungkusan nasi pada mayat di atas becak, atau mayat di balik karung beras, juga mayat di bawah tumpuk sayuran. 

Kau memberi makan pada para belatung yang kegirangan. Kau berupaya agar belatung kenyang dan mencegah mereka memakan daging manusia hidup-hidup. Delapan hari telah kau lalui dengan seutas senyum yang kau paksakan tatkala sambekala telah memancar. Namun usahamu belum sepenuhnya dapat berjalan, kerja kerasmu tidaklah gagal, tapi memang belatung putih gempal yang tak dapat dihentikan.

“Mereka datang. Sambekala yang mengundang tiap dari kebahagiaan belatung putih gempal! Sambekala hanyalah pengelabuan nestapa berdalih renjana!” Serumu lantang di telingaku.

Kau melaung kesakitan, kutengok kepalamu dihinggapi dua belatung. Seakan lolongan miris itu adalah seruan, para belatung lain segera menyusul. Mereka dengan syahdu menikmati setiap gigitan pada dagingmu yang lembut, juga menghisap aroma darahmu yang wangi. Kau masih menatap wajahku penuh luka, namun rautmu mengatakan bahwa kau sudah menerimanya. Jemari tangan kananmu bergerak perlahan, melambai ke arahku. Netramu kembali berkaca, kelopakmu pun sudah lemah terbuka. 

Sebelum sepenuhnya kau menutup matamu, samar terdengar di kejauhan gemerincing tiga lonceng yang beradu dengan jalanan. Kau masih sempat terkesiap, kala sayup terdengar langkah bocah itu berjingkat berlarian dengan senang dan tawa yang menggembirakan. Kau memalingkan muka, tanganmu sekuat tenaga menyingkap kain yang menutup jendela. Di jalanan lengang, bocah dengan belenggu tambang berlari senang bagai anak yang dapat mainan. Kali ini kepalanya menoleh ke kiri, pada arah dimana kau pun menatapnya. Bocah itu menyeringai, memperlihatkan gigi kuning yang hampir semuanya hanyalah taring.

***

Aku memeluk tubuhmu yang tegang. Mata tertutupmu terkesiap dan membuka terkejut. Aku mencium kepalamu yang harum, karena rambutmu usai di keramas. Kau mencekal tanganku erat. Hangat sinar senja menyatu dengan wajah cantikmu. Meski indah, namun beberapa hari ini, tatkala pancaran indahnya datang, kau justru ketakutan. Kau akan menggigil gemetaran meski udara di taman depan kamarmu, selalu panas. Kau akan berteriak dan menyebut ‘sambekala’. Kau kemudian mengamuk, mencoba mencabut infus yang terpasang, hingga membuat para dokter dan perawat berlarian mencoba menenangkan. Kemudian dengan lembut, aku akan menusukkan jarum suntik berisi obat bius, tentu agar kau reda dan pikiranmu kembali tenang.

***

Glosarium

Sambekala      : Menurut KBBI, arti sambekala adalah burit;maghrib;petang;senja;sore.

Lembayung     : Dalam Bahasa Indonesia, lembayung berarti merah jingga ketika senja.

Burit                : Dalam Bahasa Sunda, burit berarti sore hari;menjelang maghrib.

Lek                  : Dalam Bahasa Jawa , Lek berarti paman.

Nestapa           : Menurut KBBI, nestapa memiliki arti keadaan yang sangat sedih dan susah.Renjana           : Dalam Bahasa Sansekerta, berarti kegembiraan;sesuatu yang menyenangkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami