Sisi Gelap Kertarajasa Jayawardana

Oleh: Risen Dhawuh Abdullah

 

 

Kamu tidak bisa membohongi diri, jika rasa kagum yang bersemayam di relung hatimu semakin tumbuh rimbun seiring berjalannya waktu. Dewata telah menyuguhkan padamu, keindahan yang luar biasa tanpa pernah kamu duga. Kamu mengakui kalau kamu tertarik. 

“Aku tidak bisa menampik, jika kedua-duanya menarik. Aku tidak pernah menyangka jika bangsawan perempuan dari Dharmasraya itu sedemikian cantik. Bahkan jika ada tingkat kecantikan yang lebih tinggi dari bidadari, mereka berdua berada di posisi itu,” ucapmu berkata kepada diri sendiri.

Kebo Anabrang pulang dari Swarnabumi membawa dua puteri Melayu setelah menyerahkan prasasti Amogaphasa pada kerajaan Dharmasraya. Kebo Anabrang berhasil menaklukkan Dharmasraya dengan ekspedisinya yang dimulai dari tahun 1275 di bawah perintah Kertanegara. Dua puteri Melayu itu adalah Dara Jingga dan Dara Petak.

Ketika Kebo Anabrang datang kembali ke Singhasari yang sudah digantikan oleh Wilwatikta, ia sudah tahu jika Sang Prabu Kertanegara sudah tiada. Itu karena kamu mengirimkan utusan untuk mengabarkan apa yang terjadi ke Kebo Anabrang yang kala itu berada di Swarnabumi. Kamu juga memberitahu Kebo Anabrang mengenai usahamu dalam merebut kembali Singhasari yang berada dalam kekuasaan Jayakatwang demi berlanjutnya trah Wangsa Rajasa.

“Sejatinya saya tidak mau membawa keduanya ke Jawa, Gusti Prabu. Sebab saya tahu jika Sang Prabu telah tiada. Raja Dharmasraya memberikan kedua putrinya sebagai bentuk setia kepada Sang Prabu, tapi saya sudah menjelaskan semuanya. Ia tetap memaksa saya karena ternyata kedua puteri itu ingin mengabdikan dirinya di sini,” ucap Kebo Anabrang kepadamu, di hari berikutnya setelah hari kepulangannya.

Tidak bisa dipungkiri kamu senang, ketika Kebo Anabrang mengatakan kalau Dara Petak akan diserahkan padamu. Tapi sejujurnya kamu membayangkan memiliki keduanya dan kemudian menurunkan keturunan yang tangguh sehingga layak menyandang gelar sebagai raja kelak—ya, sedari awal memang kamu menginginkan keduanya.

“Aku juga akan membuat Dara Jingga, berada di genggamanku,” batinmu.

Kamu bisa membatin seperti itu sebab kamu merasa punya kuasa. Kamu adalah seorang raja yang bisa bertindak apa saja. Walaupun kamu terkenal bijak di kalangan rakyat Wilwatikta, tapi semua itu seolah hilang, hanya karena masalah perempuan. Perempuan memang sering menjadi akar masalah bagi laki-laki, selain kekuasaan.

Akal sehatmu telah hilang memang, sekalipun Kebo Anabrang ketika pada kedatangannya mengatakan kalau Dara Jingga telah menjadi istrinya, itu sama sekali tidak menghilangkan niatmu untuk memilikinya. Dan sementara ini, tidak ada seorang pun tahu keinginanmu.

Sementara itu perempuan mana yang tidak terpesona dengan ketampanan seorang raja? Dara Petak tanpa basa-basi langsung jatuh cinta padamu. Kamu menjadi ingat kalau belum mempunyai anak laki-laki. Kami menikahinya dan berharap seorang anak laki-laki. Sebab bagaimanapun, menurutmu laki-laki lebih cocok menjadi seorang pemimpin daripada perempuan.

Ucap doa terus kamu panjatkan kepada Dewata. Tanpa henti, setiap hari. Hingga hari yang kamu tunggu-tunggu datang. Kamu rasanya seperti melepas rindu yang terpendam selama seribu tahun. Dara Petak melahirkan anak laki-laki. Kamu senang bukan kepalang.

“Wilwatikta kelak akan gemilang,” ucapmu usai melihat wajah anak laki-lakimu yang masih merah.

Tentu anugerah itu tidak dapat membuatmu puas, kamu tetap saja menginginkan Dara Jingga yang setelah kamu amati dengan benar, ia lebih cantik daripada Dara Petak, bahkan kedua istrimu—Tribhuwana dan Gayatri—sebelum kamu menikahi Dara Petak. Diam-diam kamu merindukan, ketika di selang beberapa waktu tidak melihat Dara Jingga. Kamu mengutus bawahanmu, untuk menghilangkan perasaan rindu itu dengan berlindung di balik topeng, kalau kamu memanggil untuk keperluan suatu hal.

Hal itu kamu lakukan hingga beberapa kali. Dara Jingga pada awalnya juga tidak menyadari. Kebo Anabrang juga tidak menyadari. Seperti seorang yang merawat sebuah tumbuhan, setiap hari menyirami dengan tekun. Akhirnya usahamu membuahkan hasil. Dara Jingga takluk.

Dara Jingga tidak bisa memungkiri apa yang dirasakannya, meskipun ia telah bersuami. Hasratmu untuk memiliki Dara Jingga semakin besar. Sementara itu Dara Jingga terus merajuk, supaya kamu menjadi obat atas gejolak yang ada dalam dirinya. Dan malam ini, menjadi malam yang paling kamu rindukan. Angin malam berdesir, kamu menuntaskan rindu yang selama ini terpendam.

“Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah menyusun rencana ini sejak lama. Istana saat ini sedang goyah. Ada perwiraku yang menyebar benih kebencian karena kebijakanku. Tunggulah sebentar, Adindaku. Sebentar lagi aku bisa sepenuhnya memilikimu, tanpa harus berkutat dengan rindu dan mencuri-curi waktu,” ucapmu, berhadap-hadapan dengan Dara Jingga. Wajah Dara Jingga tampak lelah, tapi bahagia.

Di sepenjuru Wilwatikta memang tidak ada yang tahu. Bahwa ada hal yang kamu rencanakan. Kamu memilih Nambi sebagai mahapati, sehingga kemudian mengundang ketidakpuasaan dari perwira yang lain. Perwira itu adalah Ranggalawe. Jika dilihat dari situasinya, rencanamu sepertinya berhasil.

Sampai kemudian Ranggalawe menyatakan perang dengan Wilwatikta. Kepada prajurit istana dan rakyat Wilwatikta, kamu mengatakan dengan tegas kalau pemberontakan harus ditumpas. Kamu mengatakan pula, siapa saja yang akan seperti Ranggalawe, bisa dipastikan kalau nyawanya tidak akan selamat. Kamu bisa berkata demikian karena kekuatan yang dimiliki Wilwatikta saat ini cukup mumpuni.

Alur cerita yang kamu ciptakan berjalan mulus. Ketika Kebo Anabrang berjibaku dengan Ranggalawe di Sungai Tambak Beras, Ranggalawe gugur. Dengan penuh kata-kata yang meyakinkan kamu menghasut Lembusura yang tidak lain paman Ranggalawe, sudah sepantas jika Kebo Anabrang dihabisi. Lembusura berhasil membunuh Kebo Anabrang. Kamu tersenyum penuh kemenangan.

Sebenarnya tanpa menikahi Dara Jingga pun, ia sudah bisa menjadi milikmu. Namun, kamu tidak ingin seperti itu. Kamu ingin keberadaan Dara Jingga diakui oleh masyarakat Wilwatikta, mengingat juga kecantikannya yang luar biasa. Istri-istrimu tidak ada yang melakukan perlawanan.

Akhirnya penduduk Wilwatikta tahu kalau Dara Jingga adalah istrimu usai kamu menikahinya—kamu memang dengan cepat menikahinya setelah Kebo Anabrang gugur di medan perang. Kamu benar-benar bangga berhasil menikahinya. Kamu benar-benar bangga mempunyai dua orang istri dari Dharmasraya.

Benih cintamu dengan Dara Jingga melahirkan anak laki-laki. Kamu mempunyai dua anak laki-laki. Dara Jingga mengaku kepadamu, sejatinya ia merasakan ada yang aneh pada perutnya sebelum kamu menikahinya.

“Tapi kakanda tidak perlu khawatir. Yang kukandung ini adalah buah dari cinta kita Kakanda,” kata Dara Jingga. “Saya berkata apa adanya, bahwa setelah kita menuntaskan malam untuk yang pertama kalinya, saya tidak pernah disentuh oleh Kebo Anabrang dan saya merasakan ada kehidupan dalam perut saya.”

Sekejap prasangka burukmu muncul. Itu menjadi masalah tersendiri bagimu. Kamu khawatir. Khawatir itu semakin runyam tatkala kamu sadar sedang berada di tengah-tengah situasi di mana beberapa orang bawahanmu meminta agar Lembusura dihukum sebagaimana mestinya karena telah membunuh Kebo Anabrang. 

Ada sedikit rasa penyesalan yang timbul dalam benakmu.

“Mengapa aku tidak memikirkan hal ini?” ucapmu.

Andaikan dulu kamu memikirkan sebelum bertindak, tentunya kamu tidak dilingkupi oleh rasa khawatir dan gelisah yang tidak berkesudahan. Apakah ini karma dari Dewata yang harus kamu terima karena perbuatanmu? Namun, pikiran-pikiran lain bermunculan. Pikiran-pikiran yang mengarahkan dirimu pada masalah yang mungkin akan timbul.

Paling kamu pikirkan adalah perseteruan yang mungkin terjadi antara Dara Jingga dan Dara Petak. Memang secara aturan, anak Dara Petak lebih dulu terlahir di dunia. Tapi bukan berarti Dara Jingga bisa begitu saja menerima. Sebagai seorang ibu, ia tentu akan mensejahterakan anaknya. Bisa jadi perang saudara akan terjadi karena rebutan kekuasaan, meski sejatinya anak Dara Petak lebih berhak memimpin Wilwatikta.

“Bagaimana jika kejadian saling tikam sebagaimana para leluhur terdahulu kembali terjadi?” tanyamu.

Kamu membayangkan perang saudara akan terjadi. Sementara Wilwatikta yang kamu dirikan ini baru seumur jagung.

Tinggal penyesalan yang ada dan itu tidak dapat mengubah semuanya. Kamu menyadari kalau ini terjadi karena ada andil besar dirimu. Bila kamu tidak ambisius mendapatkan Dara Jingga, pikiran-pikiran demikian tidak akan timbul. Kekuasaan telah membutakan segalanya. Kamu menyesali diri, tidak bijaksana terhadap diri sendiri.

“Karma apalagi yang akan kuterima kelak, Dewata?”

Pertanyaan itu muncul, usai kamu membayangkan, apabila anak yang memikul tampuk kekuasaan berkelakuan lebih parah daripada dirimu, gemar bermain perempuan. Ia menggunakan kekuasaannya untuk memuaskan hasratnya. Hingga kemudian Wilwatikta tidak terkendali. Kamu cepat-cepat mengibaskan kepala, tidak kuat membayangkan bila hal itu benar terjadi.

 

Gang Beo, 2022-2023

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami