Sketsa Kematian Bapak

Oleh: Ade Kurniawan

Di langkan depan, gapura belah tugur memintas masa. Memasuki halaman, dua arca pentung menekuni arwahnya sendiri: Cingkarabala dan Balaupata. Tiba di depan pintu, tampak mata Semar terjaga sayu, konon kata Bapak, ia menangis tetapi Ibu menyangkal, ia tersenyum. Di ruang tamu, gamelan terlampau lelap, beberapa keris terserak, dan lagi-lagi terpajang Semar Bapak yang agung, namun kali ini ia tak menangis, pun tak tersenyum. Komposisi rumah kami begitu rapi, namun untuk pagi itu, rumah kami jadi abu. Asap dupa merangkak di udara namun tak pernah menyentuh bibir angkasa sebab mereka membelenggu duka kami agar bertahan lebih lama, mengendap dan merayapi usuk-usuk rumah kami yang tua.

Sebuah peti terbujur tepat di bawah wuwung: puncak rumah kami yang suwung. Peti itu beku seperti wajah kami, wajah yang menyimpan teka-teki sejak burung cirak hinggap dan menyalak beberapa kali. Di sela gigil waktu, Ibu telah larut dalam tangisnya, matanya adalah telaga yang tak henti-hentinya mengalirkan tirta penuh bencana, dan duka, dan luka.

Semalam, dering telepon rumah kami membuyarkan mimpi seisi rumah. Bapak diculik saat ia mementaskan wayang. Tak ada yang tahu kemana ia dibawa. Namun seorang penonton berkata, lakon tetap berjalan, dan kemudian, ia menjadi dalang dalam bayang-bayang.

”Kata orang-orang, Ki Tawin tak bertuhan seperti kebanyakan. Ia menyembah Hyang Semar! Lalu pada suatu hari seorang laskar mengetahuinya, siasat senyap disusun: sebab ia dalang maka untuk membunuhnya harus dengan cara wayang. Malam itu ia melakonkan Abimanyu Gugur. Di sela luk suara suluknya, gemuruh lain datang, bukan saron, demung, atau kendang.

Seorang laskar berteriak lantang. Kau pilih Abimanyu Gugur atau Tawin Gugur?

Beberapa saat kemudian hening menyebar, tangis mengiris. Di pakeliran, hanya ada tubuh Abimanyu yang teguh. Tajam gendewa tak kuasa menjamahnya, hari ke 13 di Kurusetra menjadi jelaga. Ki Tawin telah dibawa pergi entah kemana tetapi sebagian dari kami percaya, Ki Tawin moksa sebab ia punya kuasa, dan ia layak dalam suci seda.

Namun seorang penonton lain bergumam. Ia Lekra, ia pantas menebusnya dengan satu nyawa: menggelepar seperti sakaratul ayam dalam kudus persembahan.

Di 67 yang panas, kita harus awas! Mungkin ia alpa, ia lupa, silsilah kiri yang ia panggul, belum pernah benar-benar luntur!”

Begitulah cara Bapak kami mati. Kedasih bergumam malu, tak ingin menjadi suara kelam bagi lelayu. Angin berhenti, matahari sembunyi. Langkah kami tertatih, beberapa pelayat telah pulang, sebagian lagi mengiringi kami ke legam pemakaman. Tak ada doa seperti yang kami inginkan, harum menyan menyeruak, wangi gading, melati, dan kenanga menganga. Sebelum langkah kami menjauh, bunyi gamelan riuh merayakan rumah duka dalam konstelasi gambang­—bonang dan sayatan irama ladrang. Sebab Bapak menginginkannya, entah Tuhan kami bagaimana.

Siang menanjak. Orang-orang telah lalu, kami bisu menghidu silsilah nisan dan batu-batu. Kami gamang dalam pikiran masing-masing. Bahkan modin desa yang terkenal tajam tak kuasa memberi jawaban.

“Jadi bagaimana, kita memakai doa atau mantra-mantra tua seperti titah bapak?”

“Aku tak tahu!”

Matahari telah jatuh, kami tetap mematung seperti kafilah semboja yang menggugurkan bunga-bunga, hanya saja kami mengguggurkan kelengangan. Kami menengadah, ingin merapal tetapi Hyang Semar:        Tuhan Bapak, berkehendak lain. Tujuh kunang-kunang  telah meriap ke dada angkasa.

Kami sepakat pulang dan memanggul sisa tanya. Di surga mana Bapak mengarang lakon-lakon ringgit purwa? Dan kemana kami kelak mengirim suratan pahala dan ampunan tentang dosa, siksa, serta kejam neraka seperti yang dibayangkan orang-orang?Malang, 2024.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami