Tasbih Baru untuk Bapak

Sintha Rosse Kamlet

Tasbih Baru untuk Bapak

Bapak mengaduk semen di samping pohon kaktus. Mentari bersinar terik di atas ubun-ubun. Seekor anjing mengangkat sebelah kaki, mengencingi kaktus kering, menatap Bapak; di matanya terpancar keangkuhan, kejenakaan sakartis. Aku duduk termangu di pinggir trotoar, berpangku tangan di atas lutut, menunggu Bapak.

            Baru seminggu Bapak kembali kerja, jadi kuli bangunan serabutan, dibayar tetangga yang mau mendirikan bangunan buat restoran orang-orang berkocek tebal.

            Bapak tidak banyak bicara saat bekerja. Dia juga jarang ikut ngumpul dengan teman-teman sesama kuli. Setiap hari Bapak mengajakku ke tempatnya bekerja, agar aku yang putus sekolah di kelas 4 SD karena faktor biaya ini, tetap bisa mengasah otak, membaca buku-buku tentang arsitektur yang dipinjam Bapak dari bosnya, masih mengenakan seragam putih merahku agar tidak lapuk di makan kutu lemari. Laiknya murid di sekolah, aku membawa beberapa lembar kertas sebagai buku tulis dan sebuah pensil yang selalu kuserut runcing setiap pagi. Dan kugambar berlembar-lembar gedung bertingkat, penghibur Bapak yang dulu punya masa lalu sempat menjabat sebagai mandor bangunan proyek gedung-gedung perkantoran dan rumah-rumah mewah, tapi kena PHK. Di sela waktu istirahat setelah mengajakku sholat Dzuhur di mushola, aku banyak bertanya pada Bapak, tentang apa yang tidak aku temukan dalam buku, misalnya soal bagaimana Bapak mampu mencampur semen dengan pasir dan mengaduknya hanya dengan pacul tapi hasilnya lebih halus dari pekerjaan mesin. Pertanyaan itu dijawab Bapak cuma dengan senyum tipis dan jari telunjuk yang ditekan ke dada.

            Teman-teman Bapak sering menertawakanku. Di antaranya ada yang bilang hidupku akan berakhir di antara arang yang dibakar dan kepulan asap dari dapur yang dikelilingi alang-alang. Bapak tidak terdengar meradang. Sering kali yang kulihat hanya ibu jari Bapak yang bergerak gemulai turun naik dari satu buku jari ke buku jari lainnya, merobohkan sakit hati pada teman-temannya.

            Aku belajar dari Bapak. Tidak hirau diledek teman-teman yang melihatku sepulang mereka dari sekolah, tidak murka dipandang hina. Merengek pun tidak pernah. Aku lampiaskan segenap amarah pada sasaran yang tepat, merangkai sketsa nurani di atas kertas, menggubah berbagai desain gedung. Bapak bangga dengan hasil coretan tanganku yang kian terlatih.

            “Cara terbaik membalas olok-olok orang lain adalah prestasi. Kaya ataupun miskin kita semua sama di mata Tuhan. Dan tidak ada senjata ampuh yang lebih baik dari upaya menabur benih walaupun berpijak di atas tanah yang tandus ketimbang membalas pedang dengan samurai,” pesan Bapak.

            Ada mulut untuk membalas ejekan, mengapa memilih diam? Tiada berguna melumatkan sesama ciptaan Tuhan. Kelihatannya, bagi yang menilai sikap Bapak, itu adalah kelemahan, tak pandai membalas cacian. Lantaran didiamkan, lidah mereka semakin lebih tajam dari pisau. Tapi aku tetap nurut Bapak. Darinya aku belajar, “lurus hati lebih kuat dari cambukan.”

            Lewat lurusnya hati aku terus meruncingkan pensil, mengabadikan imajinasi bangunan-bangunan indah nan mewah, rumah-rumah dengan cerobong asap, ruang-ruang bercahaya lampu chandelier, dan batinku bahagia tinggal di dalamnya, sambil sesekali menatap Bapak, menyodorkan sapu tangan buat Bapak mengusap keringat.

            Sejarah nasib termaktub, suatu ketika tangan kanan Bapak cedera. Tiga jari remuk ketiban sejumlah batu bata, ibu jari dan telunjuk yang tersisa, maka Bapak tidak bisa lagi bekerja. Tapi yang paling disedihkan Bapak, ibu jarinya tidak lagi menemukan buku-buku jari kelingking, jari manis, dan jari tengah buat berdzikir. Pada suatu senja yang dipayungi awan kelabu, aku mendapati Bapak menangis tersedu. Sejak saat itu aku benci batu bata.

            Kebencianku pada batu bata membuat aku berlari di bawah derasnya hujan. Terus berlari mengapit kertas-kertas yang menorehkan gambar-gambar hasil karyaku saat menunggu Bapak kerja. Napasku memburu saat bosnya Bapak membuka pintu; aku tunjukkan kertas-kertas itu, kuyakinkan padanya bahwa aku bisa menggantikan Bapak. Dan satu tujuan besarku, membuktikan kekuatanku pada setiap batu bata.

            “Kamu masih di bawah umur!”

            Begitu kata bosnya Bapak. Maka aku tidak diterima bekerja, dendamku kian membara pada batu bata. Setiap hari aku tetap mengunjungi rumah bosnya Bapak, kulahap berbagai buku; semua tentang buku arsitektur, arsitektur modern, klasik, kota dan desa. Tahun demi tahun berganti, kutanggalkan seragam putih merah diwaktu seharusnya aku tamat SD. Tapi aku tidak menuntut Bapak buat membelikan seragam SMP. Tubuh dan jiwaku tidak pernah tahu bagaimana rasanya diselimuti pakaian memasuki masa remaja itu. Pun saat usiaku menginjak waktunya mendaftar SMA, tabu bagiku buat mengerti ketika teman-teman sebaya berceloteh keriuhannya. Duniaku tersembunyi di balik lengan yang berbuku-buku dan wajah sarat keringat; membantu tukang memindahkan batu bata dan memikul besi. Begitulah mula aku akhirnya diterima bekerja oleh bosnya Bapak, pada proyek barunya membangun gedung sekolah bertaraf internasional.

*****

Sejak itu, Bapak yang selalu menemaniku di tempat kerja. Al-qur’an saku selalu menyertainya.

 

Suara Bapak saat mengaji sungguh merdu. Burung dan kupu-kupu berputar-putar di sekitar Bapak, seolah menikmati lagu rindu pencipta kalbu. Bapak mengaji tak kenal waktu, pagi, siang, sore, tidak sembarang orang bisa lakukan. Apalagi Bapak duduk di kursi kayu keras, di depan tumpukan batu bata, pasir, dan semen yang abunya berterbangan tertiup angin.

 

Berminggu-minggu Bapak melakoni kegiatan itu. Bapak pun diminta warga sekitar buat mengajarkan ngaji anak-anak mereka. Tapi Bapak tidak mau berpindah tempat, demi tetap bisa melihatku saat bekerja. Bosnya Bapak yang kini bosku, berbaik hati mendirikan satu ruang di tempat Bapak biasa duduk. Bapak juga tak mau menerima bayaran, orang-orang berinisiatif membawakan makanan yang cukup buat dimakan aku dan Bapak sampai beduk malam.

Aku heran. Sejak Bapak mengajar ngaji, foto almarhumah Ibu selalu ia bawa-bawa. Bapak seperti hidup di zaman Ibu masih menikmati singkong rebus setiap pagi bersamanya. Rambutnya ditarik rapi ke belakang tanpa belah, bajunya selalu wangi, wajahnya berseri. Terkadang aku mengira Bapak sedang kasmaran.

 

Perubahan penampilan Bapak menimbulkan guyonan. Orang-orang mengembuskan kabar bahwa Bapak jatuh cinta pada janda kaya beranak tiga. Anak-anaknya juga belajar ngaji pada Bapak. Bapak cuma diam, aku pun tak berani bertanya. Tapi Bapak memahami ganjalan, maka ia berkata padaku, “Begitulah kiranya dunia manusia, ketika kau tampak buruk kau berbau busuk, saat kau bangkit dan membaik bisik-bisik mencabik juga tetap membidik. Oleh karenanya pimpinlah diri sendiri hingga sampai ke tujuan, tak perlu hirau pada racau.”

 

Aku bernapas lega. Lagi pula semua hanya kata-kata yang mengudara. Tak sekali pun aku menjumpai Bapak bercengkerama dengan janda yang dikumandangkan orang-orang.

*****

Bertahun-tahun berlalu. Tahun terberat telah terlewati. Batu bata yang selalu kubenci berhasil aku bentuk jadi gedung-gedung bertingkat, rumah-rumah megah, apartemen-apartemen bergengsi.

 

Dulu aku sempat bercita-cita ingin membelikan tasbih buat Bapak saat baru bekerja jadi asisten tukang. Tapi terlupa karena gaji tak seberapa hingga kutunda-tunda.

 

Berkat segala doa, usaha, waktu yang kuhabiskan buat bekerja, mengerahkan segenap tenaga, aku bisa mengumpulkan uang berlimpah. Barulah terpikir lagi buat membeli tasbih untuk Bapak, sebelum pohon-pohon di sekitar rumah Bapak dirobohkan dan segala yang tertimbun ditelan perubahan alam.

”Bapak, sebelum tidak kuasa lagi aku mengunjungimu, sebelum perubahan abad  menghapus jejak terakhirmu, lihatlah aku yang berurai air mata mempersembahkan hadiah pertama dan terakhir untukmu. Sebuah tasbih terindah. Maafkan alpaku, yang terlampau sibuk pada dendam dan ambisi hidup, hingga lengah pada waktu yang terbatas, dan abai pada  kebiasaanmu yang tak pernah lalai berdzikir.”

 

Tubuhku bergetar, berjongkok di samping pusara Bapak. Kugantungkan tasbih yang berkilau-kilau diterpa cahaya mentari pada nisan. Pilu sekali. Bukan hanya karena aku terlambat memberikan apa yang aku kira dulu Bapak perlukan, tapi juga membayangkan esok hari gerombolan alat berat akan meratakan apa pun yang ada di tanah pemakaman ini. Tidak pernah kusangka, desain gedung yang aku buat akan dibangun di atas tempat peristirahatan terakhir Bapak. Para pemodal sepakat hendak mendirikan hotel bintang lima.

 

Kecamuk di pelupuk mata adalah sosokku yang semula kelihatan parlente sebagai arsitek sekaligus mandor bangunan, berubah bentuk menjadi makhluk mengerikan bertaring, bertelinga panjang, yang membawa bola api dengan kedua tangan dirantai besi panas. Tiada sepatah kata pun sanggup kuucap. Dan hal itu akan menjadi bayangan mimpi buruk sepanjang sisa hidupku.

 

 

Sintha Rosse Kamlet, lahir di Jakarta, 14 September 1985. Pengarang sejumlah puisi, cerita pendek, dan novel. Karya yang pertama; buku kumpulan puisi Sajakku Berkisah (2016). Cerpennya yang berjudul Kejutan Ulang Tahun, dipublikasikan majalah Femina (2017). Novelnya berjudul “Dendam” si Yatim Piatu beredar di Gramedia oleh penerbit Pustaka Mandiri (2018). Penulis best seller buku Bitcoin for Z Generation dan Tokenisasi.

Sintha Rosse Kamlet

Tasbih Baru untuk Bapak

Bapak mengaduk semen di samping pohon kaktus. Mentari bersinar terik di atas ubun-ubun. Seekor anjing mengangkat sebelah kaki, mengencingi kaktus kering, menatap Bapak; di matanya terpancar keangkuhan, kejenakaan sakartis. Aku duduk termangu di pinggir trotoar, berpangku tangan di atas lutut, menunggu Bapak.

            Baru seminggu Bapak kembali kerja, jadi kuli bangunan serabutan, dibayar tetangga yang mau mendirikan bangunan buat restoran orang-orang berkocek tebal.

            Bapak tidak banyak bicara saat bekerja. Dia juga jarang ikut ngumpul dengan teman-teman sesama kuli. Setiap hari Bapak mengajakku ke tempatnya bekerja, agar aku yang putus sekolah di kelas 4 SD karena faktor biaya ini, tetap bisa mengasah otak, membaca buku-buku tentang arsitektur yang dipinjam Bapak dari bosnya, masih mengenakan seragam putih merahku agar tidak lapuk di makan kutu lemari. Laiknya murid di sekolah, aku membawa beberapa lembar kertas sebagai buku tulis dan sebuah pensil yang selalu kuserut runcing setiap pagi. Dan kugambar berlembar-lembar gedung bertingkat, penghibur Bapak yang dulu punya masa lalu sempat menjabat sebagai mandor bangunan proyek gedung-gedung perkantoran dan rumah-rumah mewah, tapi kena PHK. Di sela waktu istirahat setelah mengajakku sholat Dzuhur di mushola, aku banyak bertanya pada Bapak, tentang apa yang tidak aku temukan dalam buku, misalnya soal bagaimana Bapak mampu mencampur semen dengan pasir dan mengaduknya hanya dengan pacul tapi hasilnya lebih halus dari pekerjaan mesin. Pertanyaan itu dijawab Bapak cuma dengan senyum tipis dan jari telunjuk yang ditekan ke dada.

            Teman-teman Bapak sering menertawakanku. Di antaranya ada yang bilang hidupku akan berakhir di antara arang yang dibakar dan kepulan asap dari dapur yang dikelilingi alang-alang. Bapak tidak terdengar meradang. Sering kali yang kulihat hanya ibu jari Bapak yang bergerak gemulai turun naik dari satu buku jari ke buku jari lainnya, merobohkan sakit hati pada teman-temannya.

            Aku belajar dari Bapak. Tidak hirau diledek teman-teman yang melihatku sepulang mereka dari sekolah, tidak murka dipandang hina. Merengek pun tidak pernah. Aku lampiaskan segenap amarah pada sasaran yang tepat, merangkai sketsa nurani di atas kertas, menggubah berbagai desain gedung. Bapak bangga dengan hasil coretan tanganku yang kian terlatih.

            “Cara terbaik membalas olok-olok orang lain adalah prestasi. Kaya ataupun miskin kita semua sama di mata Tuhan. Dan tidak ada senjata ampuh yang lebih baik dari upaya menabur benih walaupun berpijak di atas tanah yang tandus ketimbang membalas pedang dengan samurai,” pesan Bapak.

            Ada mulut untuk membalas ejekan, mengapa memilih diam? Tiada berguna melumatkan sesama ciptaan Tuhan. Kelihatannya, bagi yang menilai sikap Bapak, itu adalah kelemahan, tak pandai membalas cacian. Lantaran didiamkan, lidah mereka semakin lebih tajam dari pisau. Tapi aku tetap nurut Bapak. Darinya aku belajar, “lurus hati lebih kuat dari cambukan.”

            Lewat lurusnya hati aku terus meruncingkan pensil, mengabadikan imajinasi bangunan-bangunan indah nan mewah, rumah-rumah dengan cerobong asap, ruang-ruang bercahaya lampu chandelier, dan batinku bahagia tinggal di dalamnya, sambil sesekali menatap Bapak, menyodorkan sapu tangan buat Bapak mengusap keringat.

            Sejarah nasib termaktub, suatu ketika tangan kanan Bapak cedera. Tiga jari remuk ketiban sejumlah batu bata, ibu jari dan telunjuk yang tersisa, maka Bapak tidak bisa lagi bekerja. Tapi yang paling disedihkan Bapak, ibu jarinya tidak lagi menemukan buku-buku jari kelingking, jari manis, dan jari tengah buat berdzikir. Pada suatu senja yang dipayungi awan kelabu, aku mendapati Bapak menangis tersedu. Sejak saat itu aku benci batu bata.

            Kebencianku pada batu bata membuat aku berlari di bawah derasnya hujan. Terus berlari mengapit kertas-kertas yang menorehkan gambar-gambar hasil karyaku saat menunggu Bapak kerja. Napasku memburu saat bosnya Bapak membuka pintu; aku tunjukkan kertas-kertas itu, kuyakinkan padanya bahwa aku bisa menggantikan Bapak. Dan satu tujuan besarku, membuktikan kekuatanku pada setiap batu bata.

            “Kamu masih di bawah umur!”

            Begitu kata bosnya Bapak. Maka aku tidak diterima bekerja, dendamku kian membara pada batu bata. Setiap hari aku tetap mengunjungi rumah bosnya Bapak, kulahap berbagai buku; semua tentang buku arsitektur, arsitektur modern, klasik, kota dan desa. Tahun demi tahun berganti, kutanggalkan seragam putih merah diwaktu seharusnya aku tamat SD. Tapi aku tidak menuntut Bapak buat membelikan seragam SMP. Tubuh dan jiwaku tidak pernah tahu bagaimana rasanya diselimuti pakaian memasuki masa remaja itu. Pun saat usiaku menginjak waktunya mendaftar SMA, tabu bagiku buat mengerti ketika teman-teman sebaya berceloteh keriuhannya. Duniaku tersembunyi di balik lengan yang berbuku-buku dan wajah sarat keringat; membantu tukang memindahkan batu bata dan memikul besi. Begitulah mula aku akhirnya diterima bekerja oleh bosnya Bapak, pada proyek barunya membangun gedung sekolah bertaraf internasional.

*****

Sejak itu, Bapak yang selalu menemaniku di tempat kerja. Al-qur’an saku selalu menyertainya.

 

Suara Bapak saat mengaji sungguh merdu. Burung dan kupu-kupu berputar-putar di sekitar Bapak, seolah menikmati lagu rindu pencipta kalbu. Bapak mengaji tak kenal waktu, pagi, siang, sore, tidak sembarang orang bisa lakukan. Apalagi Bapak duduk di kursi kayu keras, di depan tumpukan batu bata, pasir, dan semen yang abunya berterbangan tertiup angin.

 

Berminggu-minggu Bapak melakoni kegiatan itu. Bapak pun diminta warga sekitar buat mengajarkan ngaji anak-anak mereka. Tapi Bapak tidak mau berpindah tempat, demi tetap bisa melihatku saat bekerja. Bosnya Bapak yang kini bosku, berbaik hati mendirikan satu ruang di tempat Bapak biasa duduk. Bapak juga tak mau menerima bayaran, orang-orang berinisiatif membawakan makanan yang cukup buat dimakan aku dan Bapak sampai beduk malam.

Aku heran. Sejak Bapak mengajar ngaji, foto almarhumah Ibu selalu ia bawa-bawa. Bapak seperti hidup di zaman Ibu masih menikmati singkong rebus setiap pagi bersamanya. Rambutnya ditarik rapi ke belakang tanpa belah, bajunya selalu wangi, wajahnya berseri. Terkadang aku mengira Bapak sedang kasmaran.

 

Perubahan penampilan Bapak menimbulkan guyonan. Orang-orang mengembuskan kabar bahwa Bapak jatuh cinta pada janda kaya beranak tiga. Anak-anaknya juga belajar ngaji pada Bapak. Bapak cuma diam, aku pun tak berani bertanya. Tapi Bapak memahami ganjalan, maka ia berkata padaku, “Begitulah kiranya dunia manusia, ketika kau tampak buruk kau berbau busuk, saat kau bangkit dan membaik bisik-bisik mencabik juga tetap membidik. Oleh karenanya pimpinlah diri sendiri hingga sampai ke tujuan, tak perlu hirau pada racau.”

 

Aku bernapas lega. Lagi pula semua hanya kata-kata yang mengudara. Tak sekali pun aku menjumpai Bapak bercengkerama dengan janda yang dikumandangkan orang-orang.

*****

Bertahun-tahun berlalu. Tahun terberat telah terlewati. Batu bata yang selalu kubenci berhasil aku bentuk jadi gedung-gedung bertingkat, rumah-rumah megah, apartemen-apartemen bergengsi.

 

Dulu aku sempat bercita-cita ingin membelikan tasbih buat Bapak saat baru bekerja jadi asisten tukang. Tapi terlupa karena gaji tak seberapa hingga kutunda-tunda.

 

Berkat segala doa, usaha, waktu yang kuhabiskan buat bekerja, mengerahkan segenap tenaga, aku bisa mengumpulkan uang berlimpah. Barulah terpikir lagi buat membeli tasbih untuk Bapak, sebelum pohon-pohon di sekitar rumah Bapak dirobohkan dan segala yang tertimbun ditelan perubahan alam.

”Bapak, sebelum tidak kuasa lagi aku mengunjungimu, sebelum perubahan abad  menghapus jejak terakhirmu, lihatlah aku yang berurai air mata mempersembahkan hadiah pertama dan terakhir untukmu. Sebuah tasbih terindah. Maafkan alpaku, yang terlampau sibuk pada dendam dan ambisi hidup, hingga lengah pada waktu yang terbatas, dan abai pada  kebiasaanmu yang tak pernah lalai berdzikir.”

 

Tubuhku bergetar, berjongkok di samping pusara Bapak. Kugantungkan tasbih yang berkilau-kilau diterpa cahaya mentari pada nisan. Pilu sekali. Bukan hanya karena aku terlambat memberikan apa yang aku kira dulu Bapak perlukan, tapi juga membayangkan esok hari gerombolan alat berat akan meratakan apa pun yang ada di tanah pemakaman ini. Tidak pernah kusangka, desain gedung yang aku buat akan dibangun di atas tempat peristirahatan terakhir Bapak. Para pemodal sepakat hendak mendirikan hotel bintang lima.

 

Kecamuk di pelupuk mata adalah sosokku yang semula kelihatan parlente sebagai arsitek sekaligus mandor bangunan, berubah bentuk menjadi makhluk mengerikan bertaring, bertelinga panjang, yang membawa bola api dengan kedua tangan dirantai besi panas. Tiada sepatah kata pun sanggup kuucap. Dan hal itu akan menjadi bayangan mimpi buruk sepanjang sisa hidupku.

 

 

Sintha Rosse Kamlet, lahir di Jakarta, 14 September 1985. Pengarang sejumlah puisi, cerita pendek, dan novel. Karya yang pertama; buku kumpulan puisi Sajakku Berkisah (2016). Cerpennya yang berjudul Kejutan Ulang Tahun, dipublikasikan majalah Femina (2017). Novelnya berjudul “Dendam” si Yatim Piatu beredar di Gramedia oleh penerbit Pustaka Mandiri (2018). Penulis best seller buku Bitcoin for Z Generation dan Tokenisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Hubungi kami