TIDAK ADA SYAIR HARI INI

Oleh: Ryanda Bisyahrin

Lima puluh tahun yang lalu, sastra menyebar luas di Kota Marrah. Para penyair dikumpulkan dan ditabur ke pelosok kota itu. Jubdahliah, salah satu penyair terkenal dan terakhir asal Mesir yang terdahulu senang hati menyiarkan syair. Keistimewaan syairnya terikat hubungan kasih sayang. Hal itu membuat Jubdahliah menjadi sosok yang dikagumi semua kalangan, terutama para remaja yang memasuki masa pubertas. Namun, setelah para remaja tumbuh dewasa dan merantau di kota yang lebih besar, pelosok di Marrah nampaknya tidak pernah lagi didatangi penyair. Sungguh hanya menyisakan orang tua renta, hiruk pikuk perdagangan, dan beberapa anak kecil ingusan yang berusaha tumbuh di tengah terik. 

Mira, adalah salah satu pelosok di Marrah, mengemban kehidupan di tepi lembah yang tandus, dengan tebing berbatu menjulang di sekitarnya. Tempat yang damai untuk dua anak laki-laki yatim piatu, Hamid dan Amir. Hamid, berusia sebelas tahun, badannya sedikit lebih tinggi dibandingkan Amir yang berusia sembilan tahun. Mata mereka sama bulatnya, bercahaya penuh harapan, dan rambut mereka mirip sang ayah, keriting. 

Ayah dan ibunya wafat saat perjalanan ziarah panjang, peristiwa itu memaksa keduanya tinggal bersama neneknya, Aminah, orang tua renta yang bekerja sebagai penjual roti. Mereka bertahan hidup dari penghasilan rendah. Bahkan tidak satu pun dari kedua anak itu bersentuhan dengan sekolah. Benar-benar pengalaman hidup semata.

Siang hari, kedua anak itu bersepeda di antara tebing-tebing gersang yang mengapit jalan besar. Tergontai-gontai bersama bayang panas. Badan mereka ditimpa keringat, terpaan debu, dan sesekali uapan aroma ternak. Sangat menggelikan.  Perjalanan tampak berat, meski itulah yang membuat mereka bahagia. Sepeda mereka melintasi beberapa bangunan beratap rendah, sumur-sumur ternak, dan menyeruak di keramaian pasar. 

Bersamaan gerak lihai sepeda, kabar burung tentang kedatangan Jubdahliah tak kalah cepat menyebar di pasar itu. Orang-orang menduga bahwa pada hari esok, penyair itu akan datang di Jabal, daerah terpencil lain yang berada tepat di seberang jembatan panjang ujung Mira. Kabar burung yang menyiksa pikiran, membuat Hamid dan Amir ingin melihat bagaimana sebenarnya penyair itu. 

Mereka meninggalkan kerumunan pasar.

Hamid berdiri di atas pedal sepeda yang berjalan pelan. “Di bawah langit yang tak berujung, cinta dan rindu menjelma mimpi. Pada bintang yang jauh menari, hatiku terpaut dalam sunyi.”

“Apa yang kau lakukan, Hamid?” tanya Amir.

“Syair Jubdahliah. Kata orang-orang, Jubdahliah bisa membuatmu kagum hanya dengan satu bait syairnya,” jelas Hamid. Matanya berbinar di bawah terik matahari. Kulitnya sedikit menghitam. “Aku pernah mendengar orang-orang pasar bercerita tentang penyair itu. Lalu meniru caranya bersyair.”

Sepeda berjalan menurun. Hamid melaju sedikit lebih cepat.

“Apa benar dia sehebat itu?” tanya Amir, mencoba mengimbangi kecepatan Hamid di atas sepedanya.

“Orang di pasar bilang begitu! Kita harus melihatnya.” Hamid membelok-belokkan sepeda. Setelah mendapati jalan datar, dia mengayuh lebih cepat lagi. “Kita tanyakan pada nenek nanti!”

“Ya! Coba, saja!” Amir menyusul, tersengal-sengal menjawab.

Perjalanan yang jauh, hingga cahaya sore menjelma udara.

Mereka pun tiba. Rumah itu sederhana, separuh atapnya terkulai oleh angin, sebagian dinding terbuat dari pilinan lapisan kayu. Tak ada suara bising apa pun, kecuali hembusan angin. Aminah sedang sibuk mengaduk adonan roti. Sementara Hamid dan Amir hadir di hadapannya dengan wajah penuh debu. Berantakan dan bau keringat.

“Nek, seperti apa Jubdahliah itu?” tanya Hamid.

Aminah seketika terhenti, kemudian melirik mereka. Wajah keriputnya samar-samar di balik cahaya sore yang menembus celah rumah. “Hanya penyair biasa, pakaiannya mirip raja Mesir kuno.” 

“Raja Mesir kuno?” Amir menggaruk kepala, saling tatap dengan Hamid.

Api tungku menyala. Mereka kembali menatap Aminah. Aminah mengangguk pelan dan melanjutkan lagi pekerjaannya.

“Kata orang-orang pasar, besok Jubdahliah akan datang di Jabal, Nek!” ujar Hamid.

Sambil memegang penampan berisikan adonan, Aminah berpaling bingung. “Oh. Sejak kapan orang wafat bisa bersyair?”

Amir merasa lemas, lantas duduk menyimak.

“Jubdahliah sudah wafat, Nek?” Hamid bertanya memperjelas.

“Bisa saja, dia jauh lebih tua dari pada nenek. Banyak hal yang bisa terjadi, mungkin orang pasar itu bercerita bohong.”

Hamid sedikit kecewa terhadap pernyataan itu. “Besok, kami akan ke Jabal. Mungkin saja Jubdahliah hidup lagi.” katanya. Kemudian menoleh kepada Amir. “Ya, kan, Mir?”

Amir mengangguk.

“Itu terlalu berbahaya. Penjaga perbatasan tidak ramah pada anak-anak.” ujar Aminah,  sembari memasukkan adonan roti ke dalam Tandoor . 

Tungku menyala lebih membara. Hamid tersiksa, wajahnya diterpa asap tungku. “Tapi, Nek. Kami ingin sekali melihat bagaimana penyair itu.” katanya. Kemudian menoleh lagi kepada Amir. “Ya, kan, Mir?”

Lagi-lagi Amir mengangguk.

Aminah menggelengkan kepala. Berserah dan kembali lagi menjumpai roti-rotinya.

Lengang sejenak, langit mulai gelap. Pertanda petualangan hari ini berakhir di depan tungku. Tidak ada lagi yang dibicarakan hingga seisi rumah terlelap.

***

Keinginan kedua anak itu terlalu kuat. Pagi sekali, sebelum matahari sepenuhnya naik, mereka berangkat tanpa pikir panjang. Membawa roti dan masing-masing membungkusnya, lalu diselipkannya ke dalam celana. Perencanaan yang cukup matang.

 Mereka mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh. Melewati jalan sepi, rumah-rumah ternak. Sekali dua kali terlihat penduduk berjalan tanpa alas kaki dan hanya menggunakan sarung. Pengembaraan yang berat. Cahaya matahari perlahan merambat, jalanan terlihat seperti fatamorgana. Mereka mempercepat diri, melewati jalan menanjak dan, tibalah mereka di tepi jembatan panjang. Mereka harus melintas. Namun, dari kejauhan terlihat seorang penjaga perbatasan, tegak dan tak tergoyahkan oleh terik matahari. Hamid dan Amir berhenti. Berdiri dengan sepeda di antara kedua kakinya. Bingung harus berbuat apa.

Amir memandang Hamid. Wajahnya terlihat pahit. “Bagaimana dengannya?” tanya Amir. Menggosok matanya dan kembali menatap sosok itu dari jauh. “Adakah jalan lain?”

Hamid membaringkan sepedanya di atas jalan, lalu berpaling perlahan ke sisi lain jembatan. Sama saja, hanya ada jurang, tanaman kaktus, batu di pangkal tebing dan dua petak kotoran ternak yang masih segar.

“Bagaimana dengan kita?” tanya Amir. Keningnya bergelombang.

Hamid menegakkan sepedanya. Mendorongnya ke tepi jalan dengan putus asa. “Kita tunggu saja sampai penjaga itu pulang.”

“Sore? Sangat membosankan.”

Hamid menatap kosong. Mengambil roti di celananya kemudian menoleh kepada Amir yang masih kaku berdiri memandangi sosok yang jauh itu. “Bagaimana kalau kamu pinggirkan sepedamu dan duduk di sampingku.” usul Hamid. Menguyah roti dengan nikmat.

“Ide bagus.” kata Amir.

Sepi. Hanya ada suara kunyahan dan sesekali derau angin. Sungai di bawah jembatan itu mengering, dari kejauhan kotoran ternak itu tampak mulai mengering terkena sinar matahari. Sangat menyedihkan. 

Mereka menikmati roti dan sesekali berdiri memandangi sosok penjaga. Percuma saja, ia masih di sana.

***

Menjelang sore, setelah berjam-jam menunggu, berharap penjaga itu pergi. Hamid akhirnya kehilangan kesabaran. “Apakah kamu masih punya roti?” tanya Hamid.

Amir menyodorkan sisa rotinya.

Hamid menatap sisa roti itu, ada bekas gigitan di tepinya. “Kita bagikan saja roti ini ke penjaga itu. Sebagai tanda pertemanan.”

Amir tidak terlalu yakin, tapi ide itulah jalan satu-satunya. Dengan hati-hati, mereka perlahan bangkit dan mendekati sosok itu, mendorong sepeda sangat pelan, setidaknya bersiap lari jika dikejar. Hamid lebih depan dibandingkan Amir dan, terasa waktu berjalan sangat lambat di atas jembatan itu.  Semakin lama, semakin mendekat, dan saat siap menyodorkan roti, mereka hanya mendapati pakaian lengkap penjaga, menggantung di tepi posko. 

Lengang sejenak. Wajah Hamid benar-benar datar. Mata bulatnya makin bulat saja. Sedangkan Amir? Badannya bungkuk-lemas tak bertulang sebab pemandangan ini 

Hamid kesal, kemudian melahap sisa roti dan mulai mengayuh sepeda. “Oh Tuhan! Apa salah hamba yang pedih ini!” Hamid bersyair sambil berteriak. Remah roti sesekali meloncat dari mulutnya.

Amir masih mematung di tempat, tersadar dengan apa yang terjadi. Lalu, perlahan menyusul Hamid. 

Keduanya menuju Jabal. Wilayah yang aneh. Pohon-pohon tumbuh pendek, bersih, tapi sedikit menyeramkan. Jalurnya berbatu, berkelok-kelok, dan agak curam.  

“Penyair apa yang memilih tempat seperti ini?” gumam Hamid. 

Hamid merasa tersiksa dan Amir yang jauh di belakang, terlihat sangat menikmati jalur berbatu dan curam itu. Cukup lama mengayuh, dan akhirnya mereka berhadapan dengan tugu. Ada tulisan besar di sisinya, ‘Selamat Datang di Jabal’. Dari sela pepohonan terlihat lapangan luas. Tapi, Hanya ada tiga ekor kambing yang merumput di sana, tidak ada Jubdahliah. 

Mereka mendekat ke lapangan, berdiri di tepi jalan. Hamid menjatuhkan sepedanya dan Amir datang dari belakang, tampak gembira dengan jalur-jalur itu. Meski, suasana hatinya tetap saja berubah seketika.

Amir mengerem, menerbangkan berjuta butir debu. “Kita sudah terlambat?” tanya Amir dengan napas terengah-engah.

“Tidak ada penyair di sini. Hanya ada kambing!” kata Hamid. Lelah.

“Kambing?”

“Ya. Terserahlah.”

“Orang-orang di pasar itu berbohong?”

“Ya, terserahlah, mari kita pulang saja.”

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami