Tirakat Benda-Benda

Oleh: Ahmad Fawa'id



jauh sebelum tanah Jogja kau sentuh, arasy barangkali telah menakhlik jiwamu jadi napas ikan dan denyut pohon. bersama gerobak dan segenggam lidi yang diikat cinta kepada bumi, tanpa keluh kau bersihkan 

halaman

selokan

jalanan

dari dendam benda-benda. 


serupa kukuh gunung kau tampik rengkuh hangat selembar sarung dan lengking panggilan kitab kuning tiap menjelang matahari datang atau pulang. penyesalan tak berani unjuk diri di sepanjang telunjuk Kiai. getir kecemasanmu bahkan sungkan untuk sekadar dirasakan.


udara Bantul lalu meniupkan sukma ketakziman ulul ‘azmi ke selubung cahaya di keningmu. tabir rahasia semesta terbelah. kau saring pekat asap bukit Lancaran dengan munajat burung. kau tambal geronggang ozon yang bertahun diabaikan penyepian para wali. kau pugar beban hitam dada sungai biar tak mendebur banjir di mata Khidir.


kau menjelma juru selamat gigi tanah yang nyaris pecah lantaran gagal mengunyah kebal plastik. sisa daging mangga atau sepiring nasi basi kau suling jadi kesuburan daun tembakau. tungku apimu senantiasa merah semringah melahap reranting kering dan pecahan genting seolah membakar topeng kursi yang dibusuki janji-janji.


“sampah adalah kita,” seru Kiai setajam mata ayat memahat lubuk Muhammad. sejak itu, tak kau gubris bibir manis negara. kau bangun tarekat rumah bambu. tak kau biarkan selembar rambut jatuh mengotori punggung ibu. rusuh kaca remuk kau rakit jadi perut paus Yunus sembari kau ikat syahwat benda-benda pada zuhud duri salak dan suluk kelenjar akar agar tak lagi jerembap ke dalam perangkap tempat sampah.

 

“istikamah tundukmu pada lidah nabi adalah jimat membuatmu jadi pasak tanah jagad,” semilir angin purba mendedah kasidah Nuh yang menyelamatkan seluruh jenis binatang ke jantung bahtera. 


bagai gegap sayap Jibril, lengan-lengan pohon jati berebut memayungi tengkukmu yang kian memendar hijau bagai zikir musim hujan. marwah kubah masjid dan khotbah kitab-kitab menoleh pukau pada kilau makrifatmu

sebab luka-luka mujahadahmu

memijar rajah para rasul.


AN, Desember 2023 M.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami