UPACARA MEMANGGIL HUJAN

Oleh: Zakiyyatul Fuadah


ketika tanah retak, 

perigi padam, 

sungai kerontang, 

masih bertanyakah kalian 

apa itu kesedihan?


tak ada kesunyian tersimpan

dalam tempurung kepalaku

hanya mantra-mantra tergelincir

memecah getir takdir

yang membeku di lorong hujan


o, dewi sri

lihat sekujur tubuhku

penuh bunga-bunga

perantara

bagi kidung malang

sedang keringat malam

telah mengembun 

dari lengan-lengan 

yang mengayunkan tubuhku


setelah harapan demi harapan 

menubuatkan takdir kampung halaman

angin berdesakan, 

bulan pucat ditelan awan berarak

juga di antara pergumulan nyeri

dan asap sesaji

kutukan kecil tuhan retak

guntur berderak serupa sajak


pada tangan-tangan 

selembut sutra

yang mengayunkan tubuhku 

mulai melambat.

entah esok hari

kesedihan akankah minggat


2024


Catatan: Puisi di atas merupakan adaptasi dari tradisi Cowongan di Banyumas, Jawa Tengah yang eksistensinya masih terjaga sampai hari ini. Tradisi tersebut dipercayai sebagai ritual untuk memanggil hujan ketika kemarau panjang berlangsung.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top
× Hubungi kami