UTTAM

I Ratih

Cerita ini adalah cerita dari sebuah negeri, nun jauh di sana. Cerita tentang Uttam, seorang anak yang berani memilih untuk menjadi berbeda. Dan selamat, sehingga bisa menceritakan kisah ini kepada kita.

***

Langit sore itu berwarna kemerahan. Deret awan yang berjajar seperti barisan ombak di lautan. Burung tekukur berkicau di pohon-pohon tinggi, dan gelak tawa anak-anak terdengar di dekat sungai.

“Uttam! Ayo ikut bermain bersama kami,” salah satu dari anak itu berteriak.

Kepala yang dipenuhi rambut ikal muncul dari balik tembok rumah. Matanya yang berwarna coklat terang mencari tahu siapa gerangan yang memanggil namanya.

“Oh, itu kau, Hathee. Sebentar, aku akan minta izin kepada ibuku,” kata Uttam, lalu menghilang lagi ke balik tembok.

“Masker adalah tamengmu, jarak adalah pedangmu, cuci tangan adalah baju zirahmu, dan makanan bergizi adalah kekuatan supermu,” sayup-sayup terdengar suara Uttam menyanyi.  

***

“Uttam! Kamu lama sekali,” panggil Hathee lagi.

“Kenapa kita harus selalu menunggu Uttam,” keluh Ziddee.

“Tahu sendiri, dia terlalu patuh pada ibunya. Masa akan keluar rumah saja dia harus mengenakan masker?” kata Hathee.

“Belum lagi dia tidak pernah mendekati kita saat bermain. Kalau ada dia, kita tidak bisa bermain gulat atau kucing dan tikus. Yang ada, kita hanya bermain gundu atau engklek. Atau lompat tali. Atau badminton,” Ziddee berkata sambil cemberut.

“Iya, semua permainan yang membuat kita tetap berjarak,” kata Hathee. “Heran aku, sebegitu takutnya dia pada ibunya.”

“Lain kali tidak perlu kau mengajaknya, Hathee,” Ziddee merajuk.

Uttam mendengarkan mereka dari dekat pagar. Dia mendesah. Sudah sering dia mendengar teman-temannya bergunjing tentang kebiasaan barunya. Banyak yang mengatai dia aneh, sok bersih, penakut, anak manja, dan berbagai sebutan lainnya.

Pernah suatu kali dia pulang dan menangis di pelukan ibunya. Saat itu seorang teman membuka paksa maskernya, lalu menginjak-injak masker itu, sambil mengejeknya, “Makhluk aneh bermasker!” Ibu teman itu ada di sana, tapi tidak berkata apa-apa. Dia hanya melihat Uttam dengan pandangan nyinyir. “Aneh seperti ibunya,” kata ibu itu. Uttam bisa membaca gerak bibir wanita itu. Tanpa menunggu lagi, Uttam berlari pulang.

Ibu Uttam hanya memeluk tanpa kata, menunggu hingga tangis Uttam mereda. Setelah puas menangis, Uttam bertanya kepada ibunya, mengapa dia harus tetap mengenakan masker, sedangkan teman-teman bermainnya tidak. Pun mereka memakainya, hanya sebatas mulut atau dagu.

Ibu Uttam tersenyum. Dia berkata, “Wahai Uttam putraku, anak ibu hanya satu. Saat perang dengan musuh yang tak terlihat, hanya ini yang bisa kita perbuat. Lagu ini harus kau ingat.” Lalu sang ibu menyanyi, “Masker adalah tamengmu, jarak adalah pedangmu, cuci tangan adalah baju zirahmu, dan makanan bergizi adalah kekuatan supermu.”  

Sejak itu, Uttam tidak lagi peduli pada ejekan teman-temannya. Dia selalu mengingat kata-kata ibunya. Dia tetap percaya diri mengenakan maskernya saat beraktivitas. Apalagi ibunya telah membuatkannya banyak masker dengan beragam gambar.  

***

“Hai, Hathee. Hai, Ziddee. Aku sudah siap. Mau main apa kita?” sapa Uttam.

“Ayo main gundu,” kata Ziddee. Meskipun kesal, dia tahu bahwa Uttam adalah teman bermain yang baik dan tidak pernah curang saat bermain gundu.

“Masker kalian?” tanya Uttam.

Hathee memutar bola matanya sambil tertawa. Diambilnya masker dari kantongnya dan dipasangnya menutupi hidung dan mulut. Ziddee melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian mereka bertiga telah asyik bermain gundu.

“Hathee! Ziddee! Pulang dulu, Nak!” seorang nenek tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

“Ada apa, Nek?” tanya Ziddee.

“Itu, kalian ingat Rog? Anak tetangga yang besar badannya?” nenek Ziddee balik bertanya.

Ketiganya mengangguk. Uttam mengingat Rog dan ibunya dengan jelas. Merekalah yang mengatakan bahwa Uttam dan ibunya aneh karena terus memakai masker saat keluar rumah.

“Mereka sekeluarga meninggal karena terpapar penyakit yang sedang mewabah ini. Kita tinggal di perumahan yang sama dengan Rog dan keluarganya. Mereka sering sekali pergi ke rumah kita dan rumah tetangga lainnya tanpa mengenakan masker, dan mereka tidak pernah menjaga jarak. Kepala perumahan sangat khawatir mereka menyebarkan wabah ke perumahan kita. Kita diminta segera pulang dan mengisolasi diri di rumah. Sekarang, ayo kita pulang,” kata nenek Ziddee.

Mereka bertiga berpamitan, meninggalkan Uttam dengan kelereng yang masih bertebaran di tanah. Uttam melesat pulang, tak sabar bercerita kepada ibunya.

Ibu Uttam telah mendengar kabar serupa, dan dia telah menunggu Uttam di depan pagar rumahnya. Uttam tiba di rumah. Dilihatnya ibunya telah menanti. Cepat-cepat dia mencuci tangannya hingga bersih, kemudian memeluk ibunya erat-erat.

***

Satu bulan berlalu setelah peristiwa itu. Uttam duduk di atas pagar rumahnya. Masker melekat di wajahnya. Tidak lagi terdengar suara teman yang memanggil namanya. Sebutir air mata menetes di pipinya.

Ibu Uttam menatap bahu putranya yang terkulai. Putranya beruntung bisa selamat karena sesuatu yang dianggap aneh oleh orang lain, yang membuat dirinya dijauhi oleh teman dan tetangga. Tapi itulah yang membuat putra kesayangannya selamat dari wabah.

“Uttam,” panggilnya lembut.

Uttam menoleh. Dia menghapus air matanya, turun dari tembok, dan menghampiri ibunya.

“Kita harus bersyukur,” bisik ibunya.

Uttam mengangguk. Dalam hatinya, dia ingin membantu anak-anak lain bertahan hidup dari wabah, seperti dirinya.

“Ibu, ayo kita nyanyikan lagu itu lagi,” pinta Uttam.

Ibunya mengangguk.

 “Masker adalah tamengmu, jarak adalah pedangmu, cuci tangan adalah baju zirahmu, dan makanan bergizi adalah kekuatan supermu.”    

***

Tak lama setelah itu, Uttam dan ibunya menemuiku. Mereka memintaku menuliskan kisah Uttam pada kalian. Supaya kalian pun bertahan menghadapi wabah ini. Seperti Uttam dan ibunya.

× Hubungi kami